Tapanuli Tengah, detiksatu.com || Suasana kekeluargaan yang kental menyelimuti Desa Pahieme 1, Kecamatan Sorkam Barat, Kabupaten Tapanuli Tengah. Tepat pada hari ini, Minggu, 22 Februari 2026, keluarga besar Op. Vikha Silaban dan Op. Tiomirna Pasaribu berkumpul dalam satu misi mulia: melaksanakan tradisi Mambosuri (Manikkir) atas kelahiran putri kedua dari Raja Birong Simanungkalit, yang merupakan cucu dari Op. Abey Simanungkalit.
Acara yang dimulai pukul 13.05 WIB ini merupakan wujud syukur dan sukacita mendalam bagi seluruh garis keturunan (pinompar). Kehadiran para keponakan ke rumah Tulang (paman) bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan simbol kuatnya tali persaudaraan dalam tatanan adat Batak yang masih terjaga kelestariannya.
Sajian Upa-Upa sebagai Simbol Doa
Rombongan keluarga datang membawa hidangan khas berupa ayam yang telah diolah khusus menjadi upa-upa. Hidangan ini dipersembahkan dengan penuh kasih kepada sang bayi, yang akrab disapa Si Butet, putri dari pasangan Raja Birong Simanungkalit.
Op. Abey Simanungkalit, selaku tuan rumah dan tokoh orang tua, tidak dapat menyembunyikan rasa bangga serta harunya. Beliau menegaskan bahwa langkah para keponakan yang datang membawa makanan adat merupakan kehormatan besar dan bentuk penghormatan yang luar biasa bagi keluarga mereka.
Nasehat Kehidupan: "Hemat Bukan Berarti Pelit"
Setelah prosesi makan bersama dan tradisi upa-upa selesai, suasana berganti menjadi sesi diskusi yang inspiratif. Op. Abey Simanungkalit, yang merupakan anak bungsu dari empat bersaudara (tiga perempuan dan satu laki-laki), membagikan refleksi pengalaman hidupnya di masa lampau.
Beliau menekankan pentingnya prioritas pendidikan, berkaca pada perjuangannya menyekolahkan anak-anak hingga berhasil.
Satu pesan mendalam yang dititipkan kepada para keponakan adalah prinsip hidup hemat sebagai pondasi masa depan.
"Ada perbedaan besar antara pelit dan hemat. Hemat adalah manajemen hidup agar masa depan lebih terjamin, terutama untuk pendidikan anak-anak kita nantinya," ujar beliau memberikan motivasi.
Pemberian Ulos dan Refleksi Kebersamaan
Sebagai bentuk balasan kasih sayang dan penyaluran berkat (pasu-pasu), keluarga Tulang memberikan Ulos kepada para keponakan yang hadir. Ulos ini disimbolkan sebagai doa dan harapan agar seluruh keturunan senantiasa sehat, rukun, dan diberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Satu per satu keponakan diberikan hak untuk berbicara (mandok hata) sebagai bentuk apresiasi dan rasa syukur atas terlaksananya acara ini dengan sukses. Kebersamaan di Desa Pahieme 1 ini membuktikan bahwa melalui musyawarah dan kekompakan, kegembiraan besar dapat dirasakan bersama.
Acara diakhiri dengan doa penutup yang khidmat, kemudian dilanjutkan dengan sesi bincang santai penuh tawa. Momen ini juga menjadi ruang bagi keluarga besar untuk saling bertukar pikiran demi pembenahan dan keharmonisan di hari-hari mendatang.
Reporter: Jhon Henri Silaban