Jakarta, detiksatu.com || Dinas SDA Jakarta petakan 93 titik potensial untuk waduk dan embung baru. Embung Kebagusan dibangun dengan anggaran Rp 62 miliar. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) terus memperkuat strategi pengendalian banjir jangka menengah dan panjang. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah memetakan sebanyak 93 titik potensial yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan waduk dan embung baru di berbagai wilayah Jakarta.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Dinas SDA Jakarta, Ika Agustin, kepada Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat melakukan peninjauan lahan pembangunan Embung Kebagusan di Jakarta Selatan, Jumat (30/1/2026).
“Ada kurang lebih sekitar 93 titik. Jadi selain membangun polder, meningkatkan kapasitas sungai, kita juga membuat tabungan-tabungan air dalam bentuk ruang terbuka biru,” ujar Ika Agustin kepada Rano Karno di lokasi peninjauan.
Ika menjelaskan, hingga saat ini Jakarta telah memiliki sekitar 50 waduk dan embung yang berfungsi aktif, jumlah tersebut belum termasuk sejumlah proyek embung baru yang sedang dan akan dibangun. Penambahan infrastruktur penampungan air ini dinilai krusial seiring dengan perubahan pola banjir Jakarta yang tidak lagi semata-mata disebabkan oleh banjir kiriman dari wilayah hulu.
Embung Kebagusan Dibangun untuk Reduksi Banjir Lokal
Pembangunan Embung Kebagusan sendiri didasari oleh kondisi banjir yang kerap terjadi di wilayah Pegangsaan Dua dan Kebagusan, yang disebabkan oleh luapan saluran kali di kawasan tersebut. Embung ini dirancang sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir lokal sekaligus penyangga debit air saat curah hujan tinggi.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengungkapkan bahwa proyek Embung Kebagusan menelan anggaran yang tidak kecil. Untuk satu lokasi embung saja, Pemprov DKI mengalokasikan dana puluhan miliar rupiah.
“Anggaran untuk di lokasi ini kurang lebih sekitar Rp 62 miliar, dari total besar pembangunan embung di Jakarta yang mencapai triliunan rupiah,” kata Rano.
Meski demikian, Rano menilai investasi tersebut sebanding dengan manfaat jangka panjang yang akan diperoleh, terutama dalam upaya mengurangi risiko banjir yang selama ini menjadi persoalan klasik ibu kota.
Reduksi Debit Banjir Meski Skala Embung Terbatas
Berdasarkan proyeksi teknis, Embung Kebagusan diperkirakan mampu mengurangi debit banjir pada sistem aliran Phb Joe (Sistem Kali Mampang–Kali Krukut) hingga 2,3 persen. Data menunjukkan debit air di Kali Mampang yang semula mencapai 30,07 meter kubik per detik, dapat ditekan menjadi 29,38 meter kubik per detik dengan keberadaan embung tersebut.
“Memang kelihatannya kecil, tapi itu kita bisa mereduksi sebuah hal luar biasa, karena kategori waduk ini juga tidak terlalu besar, kira-kira dua hektar,” ujar Rano.
Secara rinci, Embung Kebagusan dibangun di atas lahan seluas dua hektare dengan kedalaman antara 3 hingga 4 meter. Area tersebut terbagi menjadi 0,8 hektare area biru (tampungan air) dan 0,7 hektare area hijau, yang juga akan difungsikan sebagai ruang terbuka publik bagi warga sekitar.
Selain itu, desain embung telah disiapkan untuk mampu menampung curah hujan ekstrem hingga 221 milimeter per hari, menyesuaikan dengan tren peningkatan intensitas hujan akibat perubahan iklim.
Bukan Proyek Reaktif, Sudah Direncanakan Sejak Lama
Menanggapi anggapan bahwa pembangunan embung dilakukan sebagai respons atas banjir yang terjadi pada Januari 2026, Rano Karno menegaskan bahwa proyek ini merupakan rencana jangka panjang yang telah disusun jauh sebelumnya.
“Rencana pembuatan embung ini bukan karena sekarang lagi banjir terus dibuat, tidak ya. Ini sudah perencanaan lama, tapi memang penganggarannya baru terealisasi pada masa pemerintahan gubernur dan wakil gubernur saat ini,” tegas Rano.
Menurutnya, pengendalian banjir di Jakarta membutuhkan pendekatan terpadu yang tidak hanya mengandalkan normalisasi sungai, tetapi juga penyediaan ruang tampung air di dalam kota.
Pemprov DKI Jakarta menargetkan pembangunan Embung Kebagusan rampung sepenuhnya pada Desember 2026. Ke depan, keberadaan embung ini diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur pengendali banjir, tetapi juga sebagai ruang publik yang mendukung kualitas lingkungan dan kehidupan warga Jakarta.
Red-Ervinna

