Jakarta, detiksatu.com || Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Pakistan, Air Chief Marshal Zaheer Ahmad Babar Sidhu di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (12/2/2026). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian agenda diplomasi pertahanan kedua negara yang dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan peningkatan signifikan.
Dari pantauan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, KSAU Pakistan Sidhu tiba sekitar pukul 16.03 WIB. Ia mengenakan seragam dinas lengkap Angkatan Udara Pakistan dan tiba menggunakan kendaraan berpelat TNI AU. Kedatangannya disambut secara resmi sebelum memasuki area utama Istana untuk melangsungkan pertemuan tertutup dengan Presiden.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Istana terkait detail pembahasan dalam pertemuan tersebut. Namun, kunjungan ini diduga kuat berkaitan dengan penguatan kerja sama pertahanan udara serta tindak lanjut pembahasan strategis antara Indonesia dan Pakistan yang telah berlangsung sejak awal tahun.
Lanjutan Diplomasi Pertahanan
Sebelumnya, berdasarkan keterangan resmi dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Air Chief Marshal Zaheer Ahmad Babar Sidhu telah lebih dahulu melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Menhan RI turut didampingi Panglima TNI Agus Subiyanto serta para Kepala Staf Angkatan. Agenda pembahasan difokuskan pada langkah-langkah implementatif guna meningkatkan kerja sama konkret di bidang Angkatan Udara dan kolaborasi industri dirgantara nasional.
Pertemuan ini juga menjadi kelanjutan dari kunjungan pejabat tinggi pertahanan Indonesia ke Pakistan pada Januari 2026 lalu.
Dalam kunjungan tersebut, kedua negara sepakat untuk mempercepat realisasi berbagai program kerja sama yang sebelumnya telah dirintis.
Dorong Working Group Bersama
Sebagai bentuk komitmen konkret, Indonesia dan Pakistan sepakat mendorong pembentukan working group bersama. Kelompok kerja ini diharapkan menjadi instrumen percepatan implementasi berbagai kesepakatan strategis di bidang pertahanan.
Melalui mekanisme working group, kedua negara tidak hanya memperdalam kolaborasi yang telah berjalan, tetapi juga memperluas cakupan kemitraan ke lintas matra.
Fokus kerja sama tidak lagi terbatas pada pertahanan udara, melainkan juga mencakup pertahanan siber, kecerdasan buatan (artificial intelligence), sistem persenjataan modern, serta penguatan industri strategis nasional.
Kerja sama industri dirgantara menjadi salah satu isu sentral, mengingat kedua negara memiliki kapasitas dan pengalaman dalam pengembangan alutsista udara.
Kolaborasi ini dinilai dapat membuka peluang transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga produksi bersama di masa mendatang.
Respons terhadap Dinamika Peperangan Modern
Langkah Indonesia dan Pakistan mempererat kerja sama pertahanan dinilai sebagai bagian dari adaptasi terhadap dinamika peperangan modern yang semakin kompleks.
Perkembangan teknologi militer, ancaman siber, hingga penggunaan sistem tanpa awak (unmanned systems) menjadi tantangan baru yang menuntut kolaborasi lintas negara.
Bagi Indonesia, penguatan kemitraan strategis dengan Pakistan juga sejalan dengan kebijakan diplomasi pertahanan yang aktif dan berimbang. Kerja sama ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan operasional TNI, khususnya TNI Angkatan Udara, dalam menjaga kedaulatan wilayah udara nasional.
Sementara bagi Pakistan, kemitraan dengan Indonesia memperluas jejaring kerja sama di kawasan Asia Tenggara sekaligus mempererat hubungan bilateral kedua negara yang telah terjalin lama di berbagai sektor.
Tunggu Keterangan Resmi Istana
Meski belum ada pernyataan resmi terkait isi pembicaraan Presiden dengan KSAU Pakistan, pertemuan ini menegaskan komitmen kedua negara untuk membawa hubungan pertahanan ke level yang lebih strategis dan implementatif.
Publik kini menantikan keterangan resmi dari pihak Istana Kepresidenan mengenai poin-poin kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan tersebut, termasuk kemungkinan kerja sama baru di bidang pertahanan udara dan industri dirgantara.
Kunjungan ini sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan serta komitmen pemerintah dalam memperkuat sistem pertahanan nasional melalui kolaborasi internasional yang terukur dan berkelanjutan.
Red-Ervinna

