Presiden Prabowo Minta Koordinasi Lintas Sektor, Instruksikan Penanganan Serius Insiden Siswa SD di NTT

Redaksi
Februari 05, 2026 | Februari 05, 2026 WIB Last Updated 2026-02-05T14:32:50Z
Jakarta, detiksatu.com || Insiden tragis siswa SD di NTT jadi atensi Presiden Prabowo. Mensesneg Prasetyo Hadi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyampaikan keprihatinan mendalam pemerintah atas insiden tragis yang menimpa seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidupnya. 

Kejadian memilukan tersebut mendapat perhatian serius dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Hal itu disampaikan Prasetyo Hadi saat menjawab pertanyaan wartawan dalam sesi jumpa pers di Istana Kepresidenan Republik Indonesia, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Prasetyo menegaskan bahwa pemerintah memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius dan tidak boleh terulang kembali di masa mendatang.
“Kami tentunya mewakili pemerintah menyampaikan keprihatinan yang mendalam, dan kami telah berkoordinasi dengan jajaran terkait, karena bagi kami, bagi kita semua, ini adalah kejadian yang seharusnya tidak boleh terjadi,” ujar Prasetyo Hadi.

Menurut Prasetyo, Presiden Prabowo Subianto secara khusus memberikan atensi terhadap kasus tersebut dan meminta agar kementerian serta lembaga terkait segera melakukan koordinasi lintas sektor guna mengantisipasi kejadian serupa di kemudian hari.
“Oleh karena itulah, Bapak Presiden menaruh atensi, dan melalui kami, meminta kami untuk berkoordinasi supaya ke depan hal-hal semacam ini dapat kita antisipasi,” sambungnya.

Dalam kesempatan yang sama, Prasetyo Hadi yang juga menjabat sebagai Juru Bicara Presiden RI mengungkapkan bahwa Kementerian Sekretariat Negara telah melakukan koordinasi dengan sejumlah kementerian.

Di antaranya dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian serta Menteri Sosial Saifullah Yusuf, khususnya untuk memperhatikan kondisi keluarga korban yang diketahui masuk dalam kategori miskin ekstrem atau desil-1.

Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, mengingat pentingnya peran lingkungan sekolah dalam pembinaan, pendampingan, serta pengawasan terhadap kondisi psikologis peserta didik.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri, kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Sosial untuk melakukan penanganan-penanganan terhadap keluarga, dan terutama memikirkan supaya kejadian ini tidak terulang kembali,” ujar Pras, sapaan akrab Prasetyo Hadi.

Terkait beredarnya informasi bahwa keluarga korban tidak menerima bantuan sosial (bansos) akibat kendala administrasi, Prasetyo menegaskan bahwa pemerintah masih menunggu hasil pendalaman dari aparat penegak hukum.
“Biarlah kita tunggu dari pihak berwajib, pihak kepolisian untuk melakukan pendalaman,” kata Prasetyo.

Lebih lanjut, Prasetyo menekankan pentingnya memperkuat kepedulian sosial di seluruh lapisan masyarakat. Ia menyebut bahwa pencegahan terhadap kejadian serupa tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga lingkungan sekitar dan institusi pendidikan.
“Kita harus meningkatkan kepedulian sosial di antara kita semua dari setiap level, tingkatan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya edukasi kesehatan mental bagi anak-anak sejak dini, terutama di lingkungan sekolah, agar mereka memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan tekanan atau permasalahan yang dihadapi.
“Bagaimana pun selain di faktor keluarga, faktor lingkungan, juga di sekolah menjadi sangat penting, edukasi, dan terutama berkenaan dengan masalah mental adik-adik kita supaya jika mengalami sebuah tekanan, atau mengalami sebuah permasalahan untuk dapat menyampaikan kepada guru-guru mereka di sekolah. Semua upaya kita coba cari supaya kita mengantisipasi, supaya tidak terjadi kembali,” tutur Prasetyo.

Sebagaimana diketahui, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat yang ditujukan kepada ibundanya, berinisial MGT (47). Dalam surat yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan pesan perpisahan yang menyentuh hati.
“Surat buat Mama. Mama saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi, jangan menangis ya Mama. Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya. Selamat tinggal Mama.”
Korban diketahui tinggal bersama neneknya, sementara sang ibu yang merupakan orang tua tunggal harus bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak.

Kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas diduga turut memperberat beban kehidupan sehari-hari keluarga tersebut.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak akan urgensi perlindungan anak, penguatan jaring pengaman sosial, serta perhatian serius terhadap kesehatan mental anak-anak, khususnya mereka yang hidup dalam kondisi rentan secara ekonomi dan sosial. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk melakukan evaluasi dan langkah-langkah pencegahan agar tragedi serupa tidak kembali terjadi di masa depan.

Red-Ervinna
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Presiden Prabowo Minta Koordinasi Lintas Sektor, Instruksikan Penanganan Serius Insiden Siswa SD di NTT

Trending Now