*AS, Israel vs Iran dan Isu Perang Dunia III, Siapa Otaknya?*

Redaksi
Maret 29, 2026 | Maret 29, 2026 WIB Last Updated 2026-03-29T07:59:06Z
*AS, Israel vs Iran dan Isu Perang Dunia III, Siapa Otaknya?*

_Oleh: Agusto Sulistio - Pegiat Sosmed, Pendiri The Activist Cyber._

Dibalik isu global muncul narasi lama di timur tengah, konflik militer As, Israel vs Iran kembali terjadi. Banyak pihak menduga ini terjadi akibat terpilihnya kembali Donald Trump sebagai presiden AS yang memiliki gaya kepemimpinannya yang beretorika keras dan "hobi" mengerahkan kekuatan militer.

Pertanyaannya, apakah ini indikasi kuat akan terjadinya Perang Dunia III ? atau hanya panggung politik untuk meredam tekanan di dalam negeri?

Hingga hari ini, tidak ada indikator kuat dan komprehensif yang membuktikan bahwa dunia benar-benar berada di ambang Perang Dunia III. Fakta yang terjai adalah pola berulang dari eskalasi konflik terbatas yang terkendali. Serangan AS, Israel, Iran masih fokus pada target militer, instalasi negara terkait dan tokoh politik, jika pun ada korban sipil masih terkendali. Bahkan, wisata, ibadah umroh jelang Ramadhan 2026 masih berlangsung, tak ada traveling warning secara ketat dan tegas. Kemudian masyarakat diwilayah negara sekitar konflik menyaksikan ratusan rudal dimalam hari sebagai bagian tontonan.

Dalam dunia politik, tekanan domestik melahirkan keputusan yang kadang hanya sebatas slogan. Konsep "diversionary war" menjelaskan bagaimana ancaman eksternal bisa digunakan untuk meredam tekanan internal. Dalam konteks ini, retorika keras terhadap Iran dapat dibaca sebagai bagian dari strategi komunikasi politik, bukan keputusan final untuk perang besar, apalagi terjadinya Perang Dunia III.

Hal itu bisa kita lihat dari fakta dilapangan, misalnya, tidak adanya mobilisasi militer besar-besaran, Trump pun baru merencanakan serangan darat ke Iran, itupun jumlahnya kecil sekitar 10.000 personil militer (bukan invansi militer minimal 100.000 personil). 

Dalam sejarah perang modern, invasi skala besar selalu ditandai oleh pengerahan ratusan ribu pasukan, logistik masif, serta kesiapan pendudukan jangka panjang. Apa yang terlihat saat ini, AS Israel maupun Iran, tidak menunjukkan tanda-tanda tersebut. Pengerahan yang terbatas adalah bukti "show of force, bukan persiapan perang besar total apalagi PD III.

Kemudian bisa kita lihat, adanya kontrol eskalasi yang sangat ketat. Iran, misalnya, dikenal menggunakan strategi perang tidak langsung melalui sekutu regional. Serangan yang terjadi cenderung terukur, menggunakan rudal dengan target presisi berbasis digital, sehingga sasarannya tidak melampaui batas yang dapat memicu perang terbuka dan banyak korban sipil.

Ini menunjukkan bahwa konflik AS, Israel vs Iran masih memiliki kesadaran untuk menjaga agar situasi tidak lepas kendali.

Upaya diplomasi masih dilakukan, meskipun tampak paradoks. Pernyataan damai yang berjalan beriringan dengan tekanan militer sering dianggap sebagai kontradiksi. Padahal dalam teori strategi modern, ini adalah hal umum. Thomas Schelling pengamat militer dan perang, menyebutnya sebagai bentuk tekanan dalam negosiasi, dimana ancaman digunakan untuk memperkuat posisi tawar yang bukan selalu untuk direalisasikan.

Negara-negara besar dan negara konflik masih gunakan kekuatan militer dan alutsista dengan strategi yang rasional. Hal ini mengacu pada pemikiran Carl von Clausewitz, perang adalah instrumen politik. Artinya, perang hanya akan dilakukan jika manfaat politiknya lebih besar daripada resikonya. Dalam konteks saat ini, perang besar justru akan membawa kerugian global krisis ekonomi, instabilitas energi, dan potensi kehancuran yang tidak terkendali. Oleh karena itu, negara-negara besar cenderung menahan diri. Kita bisa lihat fakta sampai saat ini, Rusia, RRC, Korea Utara, Nato belum masuk aktif dalam konflik secara konsisten, mereka hanya show of force (pamer kekuatan senjata laut, udara dan pasukan).

Ini semua bagian bukti dari sejarah yang berulang namun tidak pernah mencapai perang global, apalagi PD III. Ketegangan antara AS, Israel dan Iran bukan hal baru. Dari krisis nuklir, sanksi ekonomi, hingga insiden militer seperti pembunuhan Qasem Soleimani, semua menunjukkan eskalasi tinggi. Namun, setiap kali mendekati titik kritis, selalu ada mekanisme "de eskalasi", baik melalui diplomasi terbuka maupun jalur belakang.

Inilah argumen bahwa “Perang Dunia III sedang terjadi” kecil kemungkinan terjadi. Yang terjadi bukanlah perang dunia dalam arti konvensional, melainkan perang persepsi, narasi, tekanan, dan pengaruh. 

Narasi besar tentang perang global justru berfungsi sebagai, alat pembentukan opini publik, Instrumen legitimasi kebijakan, cara mengkondisikan masyarakat terhadap ketidakpastian global

Dengan kata lain, dunia saat ini lebih dekat pada kondisi “perang tanpa deklarasi” daripada perang terbuka. Konflik ada, tetapi dikendalikan. Ketegangan nyata, tetapi dijaga agar tidak meledak dengan dampak yang besar.

Ini memperkuat kesimpulan bahwa, Perang Dunia III, dalam pengertian klasik yakni perang terbuka antar kekuatan besar secara langsung belum terbukti dan belum benar-benar terjadi.

Namun, bukan berarti dunia sepenuhnya aman. Justru bahaya terbesar ada pada kondisi “setengah perang” seperti saat ini yakni, Ketegangan yang terus dipelihara, Persepsi ancaman yang diperbesar, Narasi konflik yang dinormalisasi.

Kalau kondisi ini terus berlangsung hingga dekade mendatang, maka “Perang Dunia III” mungkin tidak akan hadir sebagai satu peristiwa besar, melainkan sebagai proses panjang perubahan global secara perlahan, luas, yang tidak kita sadari.

Akhirnya, dunia hari ini tidak sedang berdiri di ambang perang besar, tetapi berada dalam tahap transisi. Sebuah fase di mana batas antara perang dan damai menjadi kabur, nah di ruang abu-abu inilah persepsi menjadi senjata paling kuat, lebih sunyi dari peluru, tetapi dampaknya bisa jauh lebih dalam. Lihat bagaimana kita merasakan keanehan dari berbagai perilaku manusia. Peradaban berubah seiring dengan waktu, bahkan kadang kita tak paham apa yang yang sebenarnya terjadi? 

Perang teluk sering terjadi dan lagi-lagi dampaknya selain korban nyawa manusia adalah kenaikan BBM yang berdampak ke banyak sektor. Dibalik naiknya BBM ada perang tarif dagang AS, secara nalar kenaikan nilai tukar uang akan bermuara pada penjualan barang kebutuhan. 

Siapa yang diuntungkan? semua yang punya barang kebutuhan bisa dapat keuntungan. Tapi lagi-lagi monopoli tetap ada, disinilah sesungguhnya perebutan siapa yang akan menjadi monopoli atau penguasa dunia sedang berproses tanpa perang dan korban yang besar.

Kalibata, Jakarta Selatan, Sabtu 28 Maret 2026, 18:36 Wib.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • *AS, Israel vs Iran dan Isu Perang Dunia III, Siapa Otaknya?*

Trending Now