Gayo Lues,detiksatu.com || Opini Tulisan: Rauf Ariga.Di tengah kerasnya persaingan hidup hari ini, satu penyakit sosial yang semakin sering terlihat adalah kesombongan yang dibungkus dengan ambisi. Ada orang yang ingin terlihat paling hebat, paling benar, paling berpengaruh—namun caranya bukan dengan memperbaiki diri, melainkan dengan menjatuhkan orang lain. Cara seperti ini bukan saja memalukan, tetapi juga mencerminkan kemiskinan moral.
Ada sebuah pesan sederhana yang seharusnya menjadi pegangan bagi siapa saja yang hidup dalam profesi yang sama: “Tidak usah meniup lilin orang lain hanya untuk menerangi dirimu sendiri.” Kalimat ini mengandung makna yang sangat dalam. Dalam kehidupan sosial dan profesi, kita semua sebenarnya sedang berjuang di medan yang sama. Kita sama-sama mencari makan, sama-sama bekerja keras, dan sama-sama ingin hidup yang lebih layak.
Karena itu, memadamkan cahaya orang lain hanya agar diri kita tampak lebih terang adalah sikap yang tidak beretika. Orang yang benar-benar kuat tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk berdiri tinggi. Justru orang yang merasa dirinya hebat dengan cara merendahkan orang lain sesungguhnya sedang menunjukkan kelemahan karakternya sendiri.
Lebih menyedihkan lagi ketika ada pihak yang merasa dirinya paling pandai, lalu dengan angkuh menepuk dada seolah-olah dialah yang paling benar. Padahal sejarah kehidupan selalu mengajarkan satu hal: orang yang benar-benar berilmu biasanya lebih banyak merendah daripada meninggi.
Kesombongan intelektual adalah racun dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika seseorang merasa dirinya paling tahu segalanya, di situlah akal sehat mulai tertutup. Ia tidak lagi melihat orang lain sebagai rekan seperjuangan, melainkan sebagai pesaing yang harus disingkirkan.
Padahal hidup ini bukan arena untuk saling menjatuhkan.
Ada satu pepatah yang sangat dalam maknanya: “Jangan menjatuhkan piring orang lain yang sedang makan.” Artinya jelas—jangan merusak rezeki orang lain. Jika seseorang sedang bekerja, sedang berusaha mencari nafkah dengan cara yang baik, maka menghormatinya adalah kewajiban moral kita sebagai sesama manusia.
Sangat memprihatinkan ketika ada orang yang sengaja membuat sensasi, menciptakan konflik, atau menyebarkan narasi yang menjatuhkan orang lain hanya untuk mendapatkan perhatian. Sensasi mungkin bisa membuat seseorang terkenal dalam waktu singkat, tetapi kehormatan tidak pernah lahir dari cara-cara seperti itu.
Jika ingin mencari nama, silakan. Itu hak setiap orang. Tetapi jangan menjadikan orang lain sebagai batu pijakan untuk terlihat hebat. Nama baik tidak pernah dibangun dari kejatuhan orang lain.
Dalam falsafah kehidupan masyarakat kita, ada perumpamaan yang sangat indah: lihatlah penyu di pantai. Telurnya ratusan, bahkan bisa lebih, tetapi ia tidak pernah berdiri di tepi laut sambil menepuk dada dengan kesombongan. Ia tetap berjalan tenang, menjalani siklus kehidupannya tanpa perlu memamerkan apa yang dimilikinya.
Bandingkan dengan manusia yang baru memiliki sedikit kelebihan, tetapi sudah merasa paling hebat di antara yang lain.
Inilah ironi zaman. Banyak orang ingin dihormati, tetapi lupa menjaga kehormatan dirinya sendiri. Banyak orang ingin dihargai, tetapi tidak pernah belajar menghargai orang lain.
Padahal masyarakat hari ini tidak lagi mudah dibodohi. Mereka bisa melihat siapa yang benar-benar bekerja dengan tulus dan siapa yang hanya mencari panggung dengan cara menjatuhkan orang lain. Waktu selalu menjadi hakim yang paling jujur.
Karena itu, dalam kehidupan yang penuh persaingan ini, marilah kita belajar satu hal yang sederhana tetapi sangat penting: jika tidak mampu menyalakan lilin orang lain, setidaknya jangan meniupnya hingga padam.
Jika tidak bisa membantu orang lain berdiri, jangan pula berusaha menjatuhkannya. Dan jika memang ingin dihormati, maka hormatilah lebih dahulu orang lain.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak dinilai dari seberapa keras ia menepuk dada, tetapi dari seberapa besar ia mampu menjaga kehormatan dirinya tanpa harus merusak martabat orang lain.
Reporter : Dir