Jakarta, detiksatu.com || Pemerintah masih menahan diri untuk mengambil keputusan terkait kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan menunggu perkembangan harga minyak dunia selama sekitar satu bulan sebelum membahas lebih lanjut opsi penyesuaian kebijakan subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Langkah kehati-hatian ini diambil menyusul lonjakan harga minyak global yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas harga energi dunia yang berpotensi berdampak pada fiskal negara.
Pemerintah Tunggu Perkembangan Harga Minyak
Purbaya mengatakan pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 setelah melihat dinamika harga minyak dunia dalam waktu dekat.
Menurutnya, kebijakan fiskal harus mempertimbangkan perkembangan global secara lebih matang agar tidak tergesa-gesa mengambil keputusan.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya usai meninjau aktivitas perdagangan di Pasar Tanah Abang Blok A, Jakarta Pusat, (9/3/2026).
“Kita lihat sebulan ini bagaimana perkembangannya. Kalau dalam satu bulan kondisi berubah, tentu kita evaluasi secara menyeluruh. Yang jelas kita pastikan momentum pertumbuhan ekonomi tidak terganggu,” ujar Purbaya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin membuat keputusan berdasarkan spekulasi jangka pendek terkait harga minyak dunia. Oleh karena itu, pemantauan intensif terhadap pasar energi global akan terus dilakukan sebelum menentukan langkah kebijakan fiskal.
Belum Ada Rencana Naikkan BBM Subsidi
Lebih lanjut, Purbaya memastikan bahwa hingga saat ini pemerintah belum memiliki rencana untuk menaikkan harga BBM subsidi.
Menurutnya, opsi perubahan kebijakan subsidi energi masih terlalu dini untuk dibahas sebelum melihat perkembangan harga minyak dalam beberapa waktu ke depan.
“Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk mengubah subsidi BBM, dalam pengertian menaikkan harga BBM. Kita lihat dulu seperti apa kondisinya ke depan,” jelasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus merespons berbagai spekulasi di masyarakat yang mengaitkan lonjakan harga minyak dunia dengan potensi kenaikan harga BBM di dalam negeri.
Dampak Harga Minyak Tidak Langsung Terasa
Purbaya menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia dalam beberapa hari terakhir tidak serta-merta langsung memengaruhi kondisi fiskal pemerintah.
Menurutnya, dampak terhadap anggaran negara biasanya baru terlihat dalam periode yang lebih panjang, baik secara bulanan maupun tahunan.
Ia mencontohkan bahwa asumsi harga minyak dalam APBN dihitung berdasarkan rata-rata sepanjang tahun, bukan berdasarkan pergerakan harga harian.
“Asumsinya kan setahun penuh. Kalau sekarang US$100 per barel lalu nanti turun ke US$50, rata-ratanya bisa saja tetap sama. Jadi jangan terlalu cepat menilai kondisi sekarang sebagai sesuatu yang permanen,” kata Purbaya.
Dengan demikian, pemerintah memilih pendekatan yang lebih hati-hati dalam menilai dampak gejolak harga energi global terhadap anggaran negara.
Pemerintah Terus Memantau Ekonomi Domestik
Purbaya juga mengklaim bahwa hingga saat ini belum terlihat gangguan signifikan terhadap aktivitas ekonomi domestik akibat kenaikan harga minyak dunia.
Ia menyebut berbagai indikator ekonomi masih menunjukkan stabilitas yang relatif terjaga.
Meski demikian, pemerintah tetap melakukan pemantauan secara berkala terhadap perkembangan ekonomi global maupun domestik untuk memastikan kebijakan yang diambil tetap tepat sasaran.
“Kita akan terus melakukan assessment dari waktu ke waktu. Jangan cepat menyimpulkan harga minyak akan terus berada di US$100 per barel, bahkan ada yang memprediksi sampai US$150 per barel. Semua itu masih perlu kita lihat perkembangannya,” ujarnya.
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan menggunakan periode satu bulan ke depan sebagai waktu evaluasi untuk melihat tren harga minyak dunia secara lebih jelas.
Setelah itu, barulah pemerintah akan mempertimbangkan langkah kebijakan yang diperlukan, termasuk kemungkinan penyesuaian dalam postur APBN.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar setiap kebijakan fiskal yang diambil tetap menjaga stabilitas ekonomi sekaligus melindungi daya beli masyarakat.
“Nanti setelah sebulan kita prediksi harga minyak seperti apa, sehingga kita bisa mengambil kebijakan yang paling pas,” imbuh Purbaya.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap dapat menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal negara dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Red-Ervinna