Pakar Geologi ITB Tegaskan Geothermal Ramah Lingkungan, Diskusi Vanaprastha di Cianjur Buka Fakta Ilmiah Energi Panas Bumi

Redaksi
Maret 07, 2026 | Maret 07, 2026 WIB Last Updated 2026-03-07T15:16:34Z
Cianjur ,detiksatu.com || Diskusi terbuka mengenai energi panas bumi (geothermal) digelar komunitas pecinta alam Vanaprastha dalam momentum silaturahmi Ramadan di Hotel Telaga Biru, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (7/3/2026).

Forum dialog yang dihadiri sekitar 70 peserta dari berbagai unsur masyarakat ini menghadirkan narasumber independen ahli geologi panas bumi, Ir. Niniek Rina Herdianita, M.Sc., Ph.D, dosen geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Peserta yang hadir berasal dari berbagai elemen masyarakat, termasuk perwakilan warga Desa Cipendawa dan Sukatani. Diskusi berlangsung terbuka dengan berbagai pertanyaan terkait dampak lingkungan, teknis pengembangan, hingga isu kesehatan yang kerap beredar di masyarakat.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Dr. Adhyaksa Dault, S.H., M.Si. yang menegaskan bahwa forum tersebut bertujuan membuka ruang dialog serta klarifikasi terhadap berbagai informasi mengenai pengembangan energi panas bumi yang berkembang di masyarakat.

Menurut Adhyaksa, masyarakat perlu memperoleh informasi yang objektif dan berbasis ilmu pengetahuan sebelum menarik kesimpulan terkait dampak geothermal.

“Jangan sampai masyarakat hanya mendengar kabar sepihak atau isu yang belum tentu benar. Karena itu kami menghadirkan ahli agar masyarakat mendapat penjelasan yang objektif. Prinsipnya kita harus tabayun, mencari kejelasan sebelum menyimpulkan,” ujarnya kepada media.

Ia juga mengungkapkan bahwa komunitas Vanaprastha berencana melakukan kunjungan langsung ke sejumlah lokasi pengembangan panas bumi di Indonesia, salah satunya di kawasan Dieng, Jawa Tengah.

Langkah tersebut dilakukan agar perwakilan masyarakat dapat melihat secara langsung proses pengembangan geothermal serta manfaat dan potensi dampaknya di lapangan.

“Kami akan membawa tokoh masyarakat untuk melihat langsung. Kalau memang ada dampak yang merugikan tentu harus dikaji bersama. Tetapi jika manfaatnya besar bagi masyarakat dan lingkungan, maka ruang dialog harus dibuka secara sehat,” kata Adhyaksa.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga kondusivitas sosial di tengah berkembangnya berbagai informasi yang belum tentu terverifikasi.

“Kita tidak ingin masyarakat hidup dalam konflik karena informasi yang tidak jelas. Semua harus dikaji secara ilmiah dan terbuka,” tambahnya.

Sementara itu, dalam paparannya, Niniek Rina Herdianita menjelaskan bahwa pengembangan energi panas bumi merupakan bagian dari komitmen global untuk menekan emisi gas rumah kaca dan mendukung transisi energi bersih.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki komitmen dalam kesepakatan internasional Paris Agreement untuk menurunkan emisi karbon secara signifikan.

“Geothermal merupakan salah satu energi bersih yang membantu transisi dari energi fosil seperti batu bara menuju energi yang lebih ramah lingkungan. Secara global energi ini berkontribusi menurunkan emisi CO₂,” jelasnya.

Menurut Niniek, berbagai kekhawatiran masyarakat terhadap dampak geothermal sering kali muncul karena kurangnya pemahaman mengenai proses teknis pengembangannya.

Ia menjelaskan bahwa potensi dampak lingkungan memang ada, namun skalanya relatif kecil dan dapat dikendalikan melalui teknologi pengelolaan yang tepat.

“Dampak negatif geothermal itu ada, tetapi sangat kecil. Dari berbagai studi, dampaknya hanya sekitar 2 hingga 5 persen saja dan dapat diminimalkan dengan teknologi seperti reinjeksi,” katanya.

Reinjeksi merupakan proses mengembalikan air panas yang telah dimanfaatkan kembali ke dalam reservoir bawah tanah untuk menjaga tekanan sistem serta keseimbangan air tanah.

“Jika air tidak dikembalikan, tekanan reservoir bisa turun dan berpotensi mempengaruhi muka air tanah. Karena itu reinjeksi menjadi standar dalam pengelolaan panas bumi,” jelasnya.

Terkait kekhawatiran masyarakat mengenai potensi gempa, Niniek menegaskan bahwa pengeboran geothermal tidak memicu gempa besar.

“Yang mungkin terjadi hanya mikro-seismik dengan skala sangat kecil, biasanya dalam radius sekitar satu kilometer dan tidak terasa oleh manusia,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa aktivitas geothermal berbeda dengan kegiatan pertambangan konvensional.

“Geothermal bukan kegiatan tambang. Yang dilakukan adalah pengeboran untuk mengambil fluida panas dari kedalaman sekitar dua ribu meter, tanpa penggalian lahan secara luas seperti pertambangan,” katanya.

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan dari peserta terkait kebisingan pengeboran, pengelolaan lingkungan, hingga berbagai isu yang berkembang di masyarakat.

Niniek menilai literasi publik menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak jelas sumbernya.

“Di era informasi sekarang masyarakat harus mampu memfilter informasi. Jika ragu, sebaiknya bertanya kepada pihak yang memiliki kompetensi,” ujarnya.

Melalui kegiatan silaturahmi Ramadan ini, komunitas Vanaprastha berharap tercipta ruang dialog konstruktif antara masyarakat, akademisi, dan berbagai pihak guna meningkatkan pemahaman tentang energi baru terbarukan, khususnya energi panas bumi di Indonesia.

Selain itu, forum tersebut juga diharapkan dapat mendorong masyarakat memperoleh informasi yang akurat, ilmiah, dan berimbang terkait pengembangan energi geothermal yang saat ini terus berkembang di berbagai daerah.(Red)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pakar Geologi ITB Tegaskan Geothermal Ramah Lingkungan, Diskusi Vanaprastha di Cianjur Buka Fakta Ilmiah Energi Panas Bumi

Trending Now