*Allaah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:*
وَاِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَحْدَهُ اشْمَاَزَّتْ قُلُوْبُ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ ۚ وَاِذَا ذُكِرَ الَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖۤ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
"Dan apabila yang disebut hanya nama Allah, kesal sekali hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat. Namun apabila nama-nama sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka menjadi bergembira."
📖 (QS. Az-Zumar: 45)
*Hikmah yang dapat kita renungkan:*
Dalam realitas kehidupan sosial di masyarakat kita, fenomena yang disebutkan dalam ayat ini nyata adanya. Tidak sedikit yang menunjukkan ketidaksenangan ketika ajaran Islam hendak ditegakkan.
Seakan-akan mata mereka enggan melihat dan telinga mereka enggan mendengar saat nama Allah disebut atau ketika nilai-nilai Islam hendak dijadikan pedoman dalam kehidupan, baik dalam peraturan perundang-undangan maupun kebijakan negara.
Sebaliknya, ketika yang diangkat adalah selain dari ajaran Allah, justru muncul kegembiraan. Ini adalah cerminan kondisi hati yang perlu kita waspadai bersama.
Fakta sosiologis yang pernah terjadi:*
Dalam perjalanan sejarah, termasuk saat diberlakukannya asas tunggal Pancasila, terjadi dinamika yang menyebabkan organisasi seperti HMI mengalami perpecahan. Dalam konteks ini, BES (Brother Eggi Sudjana) tetap istiqomah berjuang mempertahankan HMI MPO agar tetap berasaskan Islam.
Alhamdulillah, pada Kongres pertama HMI MPO tahun 1986 di Yogyakarta, semangat mempertahankan asas Islam tetap terjaga.
Bahkan jauh sebelumnya, pada tahun 1945 dalam perumusan Piagam Jakarta, terdapat penolakan terhadap pemberlakuan syariat Islam bagi pemeluknya.
Kisah lain disampaikan oleh mantan Ketua Umum Masyumi, Dr. Mohammad Natsir, kepada BES (Brother Eggi Sudjana) saat training kader umat Islam tahun 1982 di Asrama Haji Kwitang, Jakarta.
Diceritakan bahwa pernah ada penolakan bahkan terhadap penggunaan nama “Islam” untuk sebuah rumah sakit di Sukabumi, seakan-akan sebagian pihak “tidak suka” melihat simbol Islam hadir di ruang publik.
🕊️ *Dalam kesempatan itu, Almarhum Mohammad Natsir mengingatkan agar para kader tetap istiqomah dalam dakwah dan membela Islam, apapun tantangan yang dihadapi.*
Allaah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًا ۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَـكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ ۙ يَوْمَ لَا يُخْزِى اللّٰهُ النَّبِيَّ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ ۚ نُوْرُهُمْ يَسْعٰى بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَ يْمَا نِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَاۤ اَ تْمِمْ لَـنَا نُوْرَنَا وَا غْفِرْ لَـنَا ۚ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu tuubuuu ilallohi taubatan nashuuhaa, 'asaa robbukum ay yukaffiro 'angkum sayyi-aatikum wa yudkhilakum jannaating tajrii ming tahtihal-an-haaru yauma laa yukhzillaahun-nabiyya wallaziina aamanuu ma'ah, nuuruhum yas'aa baina aidiihim wa bi-aimaanihim yaquuluuna robbanaaa atmim lanaa nuuronaa waghfir lanaa, innaka 'alaa kulli syai-ing qodiir
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Ayat ini mengajarkan bahwa jalan kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus adalah kunci keselamatan. Cahaya keimanan akan menerangi langkah orang-orang beriman, dan mereka memohon agar Allah menyempurnakan cahaya tersebut serta mengampuni dosa-dosa mereka.
Dan jangan kita lupakan firman Allah berikut:
يٰۤاَ يُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّا رَ وَا لْمُنٰفِقِيْنَ وَا غْلُظْ عَلَيْهِمْ ۗ وَمَأْوٰٮهُمْ جَهَنَّمُ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ
"Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keras lah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."
(QS. At-Tahrim: 9)
*Refleksi kondisi saat ini (April 2026):*
Kita menyaksikan secara nyata dinamika global, termasuk sikap Amerika Serikat dan Israel terhadap Palestina dan Iran, yang memunculkan keprihatinan besar di kalangan umat Islam.
Di tengah kondisi tersebut, menjadi kegelisahan tersendiri ketika kebijakan politik sebagian pemimpin dunia, termasuk Indonesia, dinilai tidak sepenuhnya berpihak pada nilai-nilai keadilan umat.
Dalam hal ini, BES telah sejak awal menyampaikan kritiknya dan terus mengingatkan.
Doa dan harapan:
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan hidayah kepada para pemimpin negeri ini, khususnya Presiden Prabowo Subianto, agar senantiasa kembali kepada jalan yang diridhai Allah, bertakwa, tunduk, dan patuh hanya kepada-Nya.
*Penutup:*
Mari kita jaga hati agar tetap mencintai kebenaran, tetap istiqomah dalam iman, dan tidak termasuk golongan yang merasa sempit ketika nama Allah disebut.
🤲 “Rabbanaa atmim lanaa nuuranaa waghfir lanaa, innaka ‘alaa kulli syai’in qadiir.”
(Ya Rabb kami, sempurnakanlah cahaya kami dan ampunilah kami. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.)
Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin 🤍
✊ *Salam Jihad BES = Brother Eggi Sudjana*

