Tapanuli Tengah,detiksatu.com || Gerakan rakyat menuntut hak Plasma 20% di Tapanuli Tengah memasuki babak baru yang lebih krusial. Setelah dua kali aksi sebelumnya dinilai gagal akibat adanya dugaan "permainan halus tingkat tinggi" dari pihak-pihak tertentu, Forum Masyarakat (FORMAS) Dapil 2 akhirnya mengambil langkah tegas.
Pada Sabtu, 4 April 2026, aktivis sekaligus koordinator aksi, Edianto Simatupang, memimpin langsung perwakilan forum untuk mendatangi dan menyerahkan berkas tuntutan ke kantor PT. Cahaya Pelita Andhika (CPA). Langkah ini merupakan tindak lanjut atas buntunya janji-janji perusahaan pasca-mediasi di Polres Tapteng pada 29 Oktober 2025 lalu.
Plang Pemkab Dianggap "Iklan", Edianto: Rakyat Beri Ultimatum 12 Hari!
Kekecewaan warga memuncak karena meski plang resmi dari Pemkab/BPN sudah terpampang di pintu masuk perusahaan, PT. CPA dituding masih enggan melaksanakan kewajiban Plasma 20%.
Dalam pernyataannya, Edianto Simatupang menyentil sikap dingin perusahaan yang seolah menantang aturan negara.
"Mungkin mereka menganggap plang negara itu hanya iklan semata. Padahal, ini adalah perintah undang-undang dan hak rakyat yang sudah terabaikan selama 15 tahun lebih. Kami tidak akan tinggal diam lagi," tegas Edianto di depan awak media.
FORMAS memberikan ultimatum 12 hari kepada pihak manajemen untuk segera menuntaskan dan mengeksekusi tuntutan warga. Jika dalam waktu tersebut tidak ada realisasi, Edianto memastikan forum rakyat akan melakukan aksi total dengan memblokade jalan desa yang selama ini rusak parah akibat aktivitas operasional perusahaan.
Pesan Terbuka untuk Masinton Pasaribu
Sebagai pendamping rakyat sejak tahun 2008, Edianto Simatupang menitipkan harapan besar kepada pemimpin Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu. Ia meminta agar aspirasi warga yang sudah menjerit belasan tahun ini tidak "disunat" oleh informasi yang salah di tingkat elit.
"Kami memohon kepada Pak Masinton Pasaribu untuk melihat langsung jeritan kami. Saya berharap, jangan sampai ada oknum-oknum di sekeliling atau 'ring-ring' tertentu yang justru menghambat cita-cita Tapteng Naik Kelas," tambahnya.
Waspada "Duri dalam Daging" di Tim Perubahan
Menanggapi isu miring mengenai adanya oknum di lingkaran internal (Tim Mama) yang diduga menghambat koordinasi, Edianto berharap kabar tersebut tidak benar. Ia menekankan pentingnya soliditas tim jika ingin kepemimpinan Masinton Pasaribu tetap kuat dalam membawa perubahan nyata di Tapanuli Tengah.
Sesuai arahan Bupati, seluruh elemen pendukung diharapkan tetap kompak dan mengedepankan koordinasi demi mewujudkan keadilan bagi warga Dapil 2.
"Kami ingin perubahan, kami ingin hak kami kembali. Jika koordinasi dihambat oleh kepentingan oknum, maka rakyatlah yang akan menjadi taruhannya. Tapanuli Tengah harus naik kelas tanpa hambatan dari dalam," pungkas Edianto Simatupang menutup pernyataan.