Jakarta ,detiksatu.com || Ayah santriwati korban pelecehan pemilik pondok pesantren di Pati, Jawa Tengah, menceritakan awal mula dirinya melaporkan kasus tersebut ke polisi. Ayah korban telah melaporkan pemilik ponpes berinisial AS ini terkait dugaan pelecehan seksual terhadap anaknya.
"Itu yang dikatakan anak saya. Beberapa temannya saya datangi. Ternyata yang dikatakan anak saya itu saya cocok dengan apa yang dikatakan anak saya, apa yang diperlakukan, apa yang dilakukan oleh pak kiainya kepada anak-anak tadi. Ya berkenaan dengan masalah itu, pelecehan seksual tadi," kata ayah korban kepada wartawan di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (7/5/2026).
Ayah korban menyebut laporan polisi telah dilayangkan sejak 2024. Sejak saat itu pula, keluarga korban mendapat intimidasi.
"Dalam proses setelah saya laporan, buat laporan itu saya beberapa kali mendapat intimidasi dari keluarga pelaku. Termasuk ancaman," jelas dia.
Ayah korban mengaku tak takut dengan intimidasi itu. Bagi dia, memperjuangkan keadilan untuk anaknya berarti berjuang untuk teman-teman anaknya.
"Di situ saya tidak putus asa. Soalnya, dari awal tujuan saya bukan untuk semata-mata saya atau anak saya, tapi saya di situ melihat banyak generasi atau anak-anak jadi korban. Itulah yang mulai dari niat saya untuk membuka laporan di Polres. Karena, kalau dibiarkan, itu mungkin saja banyak sekali jadi korban oleh oknum tadi," jelas dia.
Ayah korban melanjutkan, sempat punya prasangka terhadap AS yang mencurigakan. Dia sempat melihat AS sering mengajak wanita yang bukan mahramnya.
"La di situ ya saya sebenarnya itu juga dari kelakuan si pelaku itu, saya sudah lihat gerak-geriknya itu kerjanya sudah negatif gitu. Soalnya, kalau jalan keluar, entah itu pergi kegiatan untuk... itu ada kegiatan di luar, itu yang diajak itu cewek-cewek gitu," imbuh dia.
Namun saat itu ayah korban, yang juga bekerja di sekitar lokasi, tak curiga sama sekali. Kecurigaan mulai meningkat saat anaknya menceritakan hal yang sama seperti apa yang dilihatnya.
"Tapi setelah anak saya itu bilang sama ibunya gini gini gini, saya mulai itu berarti kecurigaan saya selama ini bener. Jadi, setelah anak saya memberi penjelasan kepada ibunya itu tadi, yang saya lakukan itu temen-temennya itu saya hubungi. Ternyata bener apa yang dikatakan anak saya, anak-anak temen-temen anak saya tadi diperlakukan seperti apa yang dikatakan anak saya itu," tegasnya.
Awalnya, ayah korban sempat takut hal ini akan dianggap aib di mata banyak orang. Tapi alasan memperjuangkan keadilan bagi anak dan sejawatnya jadi pelecut agar tak mundur.
"Tapi, demi berjuang untuk orang banyak, saya siap, saya ajak anak saya, 'Bismillah, ayo Nduk, bismillah, memperjuangno kanca-kancamu, nggih mboten Nduk? (Memperjuangkan teman-temanmu, bener nggak?) Nggih. 'Bismillah muga-muga (semoga) barokah'," kata dia.
Singkat cerita, secercah harapan mulai datang saat kasus pelecehan AS viral. Menurutnya, beban yang selama ini ada pada diri dan anaknya terasa lebih ringan.
"Tapi saya terima kasih kepada semua masyarakat. Setelah ini itu dari media viral, alhamdulillah plong rasanya. Soalnya apa, beban sing wonten manah kulo, manah lare (beban yang ada di saya dan anak), termasuk perjuangan iki (ini) banyak yang membantulah nggih, katanya.

