Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

detiksatu.com

Iklan

Siti Aminah: Kurban As Love in Action

Redaksi
Kamis, 28 Mei 2026 | Kamis, Mei 28, 2026 WIB Last Updated 2026-05-28T04:17:24Z
Jakarta,detiksatu.com || Iduladha merupakan salah satu hari istimewa bagi ummat muslim, dimana waktu tersebut, semua ummat muslim tengah memperingati makna berkurban dalam kehidupan ini. Kurban merupakan salah satu ibadah yang mendekatkan antara si kaya dengan si miskin.

 Ibadah kurban tidak cukup dimaknai sebagai penyembelihan hewan pada Hari Raya Iduladha semata. Akan tetapi lebih dari itu, kurban adalah wujud pendidikan kehidupan yang mengajarkan ketaatan, keikhlasan, kepedulian, dan kesediaan berbagi dengan sesama.


 Jika diungkapkan dalam bahasa yang lebih kekinian, kurban dapat dibaca sebagai love in action, yaitu cinta yang tidak hanya berhenti sebagai rasa, akan tetapi bergerak menjadi pengorbanan dan tindakan nyata dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, momentum kurban sangat relevan untuk dijadikan sebagai ruang pembelajaran agama yang dekat dengan realitas kehidupan anak




Ditilik berdasarkan konteks pendidikan madrasah, makna kurban memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Kurikulum Berbasis Cinta. Berdasarkan Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), bahwa KBC adalah sebuah kurikulum yang dirancang dengan menitikberatkan pada pengembangan karakter, pembelajaran berbasis pengalaman, serta perhatian mendalam terhadap aspek sosial dan emosional dalam pendidikan. Kurikulum ini bertujuan untuk melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan selalu mengedepankan cinta sebagai prinsip dasar dalam kehidupan. KBC  bukan sekadar dokumen regulasi, melainkan cara pandang, pola pikir, dan perilaku baru dalam membangun ekosistem pembelajaran bagi murid. 


Nilai dasarnya dirumuskan melalui Panca Cinta, yaitu cinta Allah dan Rasul, cinta kepada ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama manusia, dan cinta tanah air. Maka, kurban merupakan contoh konkret bagaimana cinta Allah dan Rasul harus melahirkan cinta kepada sesama manusia, dalam bentuk bekerja sama dan berbagi.

Murid-murid masih cenderung sering memahami kurban hanya dari sisi peristiwa yang tampak: hewan kurban, penyembelihan, pembagian daging, dan suasana hari raya Iduladha. Yang penuh dikumandangkan takbir dimana-mana. Akan tetapi, pendidikan agama tidak boleh hanya memberikan pemahaman sebatas pada aspek seremoni penyembelihan hewan kurban semata. Akan tetapi di balik kurban terdapat pesan mendalam dalam pembentukan karakter murid  yang secara nyata. Murid perlu diajak memahami bahwa orang yang berkurban sedang belajar menundukkan ego, mengendalikan rasa memiliki, serta membagikan sebagian rezekinya agar orang lain ikut merasakan kebahagiaan bersama-sama. Di sinilah makna kurban menjadi pembelajaran karakter yang nyata bagi murid.

Implementasi KBC menuntut pembelajaran agama yang tidak hanya sekedar menguatkan aspek pengetahuan saja, akan tetapi juga membentuk hati dan perilaku murid dalam kehidupan nyata. Apabila murid kita hanya mengetahui hukum kurban semata, akan tetapi tidak memiliki pemahaman akan nilai empati di dalam dirinya, maka pembelajaran agama belum sepenuhnya membumi. Namun sebaliknya, apabila murid diajak menyaksikan bahwa daging sembelihan kurban dibagikan kepada keluarga, tetangga, fakir miskin, dan masyarakat yang membutuhkan, maka murid sudah berproses dan belajar bahwa agama sebetulnya hadir untuk menebarkan kasih sayang sosial. Dalam hal ini praktik ibadah kurban di sekolah/madrasah sebagai wahana pengembangan afektif bagi murid guna membentuk karakter hidup secara harmonis di lingkungan masyarakat masing-masing.

Pesan ini sejalan dengan makna kurban dalam syari’at Islam. Al-Qur'an menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah SWT bukan daging dan darah hewan kurban, melainkan ketakwaan manusia. Artinya, bahwa kurban itu bukan sekadar tindakan lahiriah semata, akan tetapi sebagai latihan batin untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Allah SWT (hablum minallaah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minan naas). Hal ini dapat dipahami bahwa Islam sangat menekankan betapa pentingnya keseimbangan dalam beribadah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menegaskan bahwa kurban mengandung nilai pengorbanan, keikhlasan, kepedulian sosial, serta kemampuan menyembelih sifat egois dalam diri manusia (Majelis Ulama Indonesia, 2026).



Pendidikan agama yang hidup adalah pendidikan yang mampu menyentuh pengalaman riil pada kehidupan keseharian murid. Guru dapat menjadikan kurban sebagai real life learning dengan mengajak murid berdiskusi, meefleksi, dan terlibat secara aktif dan partisipatif sesuai usia mereka. Murid dapat diajak berdialog: mengapa dalam berkurban daging harus dibagikan? Mengapa kebahagiaan hari raya Iduladha tidak boleh dinikmati sendiri? Bagaimana perasaan orang yang menerima daging kurban? Pertanyaan seperti ini memotivasi murid untuk berpikir tentang hakikat ibadah kurban, sehingga menimbulkan proses berpikir guna memahami bahwa ibadah memiliki dimensi sosial, bukan hanya dimensi ritual semata.

Berdasarkan perspektif pendidikan karakter, maka kurban sangat efektif untuk menanamkan empathy, caring, giving, dan sharing. Murid belajar berempati ketika ia mampu membayangkan/memahami kebutuhan orang lain. Murid belajar peduli ketika ia menyadari bahwa tidak semua keluarga memiliki kesempatan menikmati makanan yang cukup setiap hari. Murid belajar berbagi/memberi ketika ia memahami bahwa sebagian yang dimilikinya dapat menjadi kebahagiaan bagi orang lain. Murid belajar berbagi ketika ia ikut melihat proses distribusi kurban dilakukan secara adil, transparan dan penuh tanggung jawab.

Berbagai kajian pendidikan agama dalam beberapa tahun terakhir juga menegaskan akan pentingnya nilai cinta dan kasih sayang yang harus dikembangkan dalam proses pembelajaran. Sukiman, Suyatno, dan Yap (2021) menekankan bahwa nilai love and compassion sudah terdapat dalam pendidikan agama, akan tetapi internalisasinya perlu diperkuat melalui berbagai metode yang lebih efektif, seperti keteladanan, pembiasaan, dan refleksi. Sementara itu, Susilawati, Sugiharto, Sunawan, dan Mugiarso (2025) menunjukkan bahwa empati dalam pendidikan karakter keagamaan dapat dikembangkan melalui cerita religius, refleksi spiritual, dialog, dan service learning.


Di lingkungan madrasah/sekolah, ibadah kurban dapat dikembangkan menjadi character building moment. Murid tidak harus selalu dilibatkan dalam hal-hal teknis yang berat, akan tetapi dapat dilibatkan dalam kegiatan edukatif, seperti membuat poster nilai kurban, menulis refleksi tentang makna berbagi, membantu menata paket sesuai arahan guru, atau menyusun kampanye kecil bertema “Berbagi Itu Indah”, atau tema-tema lain yang relevan. Dengan cara ini, diharapkan bahwa kurban tidak hanya pelaksanaan agenda tahunan, akan tetapi lebih tepat sebagai salah satu proyek pembentukan karakter murid.

Apabila kita berbicara tentang karakter murid, maka keluarga juga memiliki peran yang sangat penting. Orang tua dapat menjelaskan kepada anak bahwa kurban bukan sebagai ajang pamer kemampuan ekonomi, melainkan bentuk syukur dan kepedulian dengan sesama. Anak perlu dibiasakan melihat bahwa ibadah yang baik tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi, tetapi justru membuatnya lebih rendah hati dan lebih peduli. Ketika keluarga, sekolah/madrasah, dan masyarakat memberi contoh yang sejalan, maka anak akan menangkap pesan bahwa agama adalah jalan untuk mencintai Allah dan memuliakan manusia.

Dengan demikian, kurban perlu dihadirkan sebagai sebuah proses pembelajaran yang holistik. Guru mengajarkan dasar hukumnya, dan madrasah mengelola kegiatan sosialnya, kemudian keluarga memperkuat maknanya, dan murid difasilitasi untuk mengalami nilai kebaikannya. Startegi semacam ini membuat KBC tidak sekedar berhenti sebagai konsep semata, akan tetapi benar-benar hidup dalam praktik. Anak tidak hanya diajak menjadi pintar secara akademik semata, akan tetapi juga bertumbuh menjadi pribadi yang humanis, peka, murah hati, dan sanggup merasakan keadaan/penderitaan orang lain. Sikap ini mustahil muncul tanpa melalui proses pembiasaan secara berkelanjutan, dan saling menguatkan pada masing-masing lingkungan belajar murid (sekolah/madrasah, keluarga dan masyarakat).

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa kurban mengajarkan bahwa cinta sejati selalu melahirkan pengorbanan. Cinta Allah melahirkan ketaatan. Cinta kepada sesama melahirkan kepedulian. Cinta kepada kehidupan melahirkan tanggung jawab. Inilah makna kurban sebagai love in action, sekaligus wujud nyata KBC dalam membentuk karakter anak yang religius, empatik, peduli, dan gemar berbagi. Jika nilai ini ditanamkan sedini mungkin, maka pantas diharapkan anak-anak akan tumbuh bukan hanya sebagai generasi yang cerdas secara akademik semata, akan tetapi juga generasi yang memiliki hati, kasih sayang, kepedulian sosial serta cerdas secara religi.[]
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Siti Aminah: Kurban As Love in Action

Trending Now

Iklan