Oleh : *Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik
_"PKS, PPP, PAN, PKB, yang mengaku partai umat Islam kok tidak kelihatan membela hak umat/rakyat? Apa nunggu Pemilu dulu baru ngomong 😀🤭🙏"_
*[Status Facebook Ahmad Khozinudin]*
Kutipan diatas, adalah status Facebook yang penulis unggah, sekitar 2 jam lalu. Status tersebut, telah sudah dilihat 34.000 orang, dibagikan oleh 69 orang, dikomentari 641 orang dan di like 1,5 ribu orang.
Mayoritas komentar, mengkritik PKS, PPP, PAN dan PKB. Kritik yang memiliki basis legitimasi baik karena kuatnya argumentasi dan kokohnya landasan fakta sebagai dasar rujukan.
Coba tengok, adakah kader PKS, PPP, PAN, PKB, yang demo atas kenaikan BBM ? Adakah kader PKS, PPP, PAN, PKB, yang demo atas korupsi MBG? Adakah kader PKS, PPP, PAN, PKB, yang demo atas represifme aparat pada kekerasan terhadap demonstran hingga meninggalnya ojek Afwan Kurniawan?
Semua kompak, jawabnya tidak ada. Bahkan, jangankan kritik melalui demonstrasi, melalui sejumlah dialog atau diskusi pun tak muncul kader partai ini dalam diskusi publik.
Paling, mereka sesekali turun dalam isu Palestina. Itu pun malu, membawa atribut partai. Isu seperti ini, tidak mengancam kursi kekuasaan mereka di parlemen.
Padahal, saat musim kampanye mereka ini paling rajin ngomong di media, baik media mainstream maupun sosial media. Mendadak, banyak anggota partai menjadi Youtubers atau influenzer, mengajak rakyat untuk coblos partai, coblos caleg, hingga coblos capres.
Mereka, mendadak baik dan dekat seperti malaikat. Ada yang membawa beras, kopi, rokok, gula, mie instan, hingga kopiah, Koko dan kerudung. Tak lupa, bawa kaos saringan tahu berlogo parpol.
Tapi hari ini, kemana mereka?
Beberapa analisis berikut ini, mungkin bisa menjawabnya:
*Pertama,* mereka bergerak karena kekuasaan. Bukan karena membela rakyat. Begitu mereka mendapatkan kekuasaan, mereka diam. Begitu mereka tak mendapatkan kekuasaan, mereka juga diam menunggu musim kampanye berikutnya untuk mencoba lagi peruntungan.
*Kedua,* mereka juga bagian dari kezaliman. Mereka mendukung kezaliman penguasa yang zalim, jadi aneh kalau mereka bersuara menentang kezaliman. Itu sama saja menentang partai mereka sendiri.
*Ketiga,* mereka sejak awal memang tak memikirkan rakyat, hanya sibuk mencari hidup dari politik, meraih kekuasaan untuk menghidupi anak istri dan keluarganya.
Rakyat, jangan ke-GR-an. Jangan merasa difikirkan, karena rakyat memang bukan kewajiban mereka. Tanggungan nafkah mereka hanya pada istri dan keluarganya, bukan pada rakyat.
Penulis mengungkap ini bukan berarti tendensi pada parpol Islam. Parpol sekuler juga sama.
PDIP melawan, itu karena tak berada dalam kekuasaan. Golkar diam, bagian yang menikmati kekuasaan. Paling Golkar beraninya mengkritik Tyo Ardiyanto, mana berani Golkar mengkritik Prabowo?
Gerindra? Apalagi. Dulu, saat Ahmad Dani belum menjadi anggota DPR, rajin bikin podcast soal rakyat, termasuk soal ijazah palsu Jokowi. penulis, sempat diundang 2 kali ke kediamannya.
Setelah menjadi anggota DPR? Sama dengan yang lain. Mengambil mode diam.
Jadi, perhatikanlah! Jika ada orang Parpol sedang kampanye berbusa membela rakyat, percayalah itu hanya membual. Lebih baik sejak awal tak percaya pada parpol, ketimbang baru dikemudian hari dan menjadi tambah sakit hati. [].

