Jakarta,detiksatu.com || Menamatkan empat buku karya Ali Syari'ati ini: Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi; Ideologi Kaum Intelektual; Pemimpin Mustadh'afin; dan Abu Dzar, saya mau mencatat beberapa poin.
Kesatu, Islam adalah agama (dien) pembela kaum mustadh'afin. Umpamanya, Islam memberantas perbudakan, mengecam penumpukan harta sekaligus menyerukan memelihara anak yatim dan menolong orang miskin, optimistik kepada kaum mustadh'afin bahkan menjanjikan masa depan dunia ini akan diwariskan kepada kaum mustadh'afin yang saleh, dll.
Kedua, Islam bukan hanya agama (dien) pemikiran, tetapi juga agama aksi alias agama tindakan. Bisa dibedakan, tetapi dalam Islam, iman dengan ilmu dan amal adalah kesatuan. Iman dan ilmu harus dibuktikan dalam amal (takwa). Dan amal akan bernilai jika dinapasi iman dan ilmu.
Ketiga, Islam pasca nabi mengalami penyimpangan. Misalnya, orang yang kurang layak memimpin, malah dijadikan pemimpin. Itu yang terjadi pada Muawiyah, Yazid, dst. Tempat dan perilaku politik yang mengartikulasikan gaya hidup sederhana (tak bermewah-mewahan), malah diubah menjadi bermewah-mewahan, sehingga tiada bedanya dengan rezim Romawi maupun rezim Persia yang senang bermewah-mewahan di atas penderitaan rakyat.
Padahal, Rasulullah sudah meneladankan kepemimpinan spiritual sekaligus kepemimpinan politik. Bahwa pemimpin spiritual itu mestilah menjadi pemimpin politik, dan pemimpin politik mestilah seorang pemimpin spiritual. Selain itu, saat memimpin, Rasulullah juga tak tinggal di istana megah. Melainkan di ruangan-ruangan di dekat masjidnya. Sebelumnya, Rasulullah dengan Siti Khadijah ini kaya, namun kekayaannya lalu dihabiskan untuk syiar Islam.
Keempat, ideologi adalah menjadikan suatu sistem ajaran sebagai keyakinan yang dilaksanakan. Jadi, jika Islam dijadikan keyakinan, maka Islam menjadi ideologi baginya. Sebaliknya, jika Islam tak diyakini, melainkan sekadar dijadikan kebiasaan atau ikut-ikutan, maka Islam bukan ideologi baginya.
Kelima, dengan ideologi Islam, maka seorang Muslim bukan hanya menolak penindasan, tetapi juga mengusung kesetaraan dengan pembeda ketakwaan belaka. Tak rumit dengan berbagai atribut yang kurang perlu, Muslim sejati lebih mengutamakan substansi (nilai-nilai mulia). Selain dinapasi Islam, Muslim sejati juga menginternalisasi kearifan sejarah bangsanya.
Keenam, Rasulullah adalah pemimpin kaum mustadh'afin. Dan kepemimpinan semacam itu, dipertahankan alias dirawat oleh para penerusnya, yaitu oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Hasan bin Ali, Sayyidina Husein bin Ali, dst. Dan sebelum merujuk figurnya, lihat saja pemikiran dan tindakan kepemimpinannya: apakah pro kaum mustadh'afin atau tidak?
Ketujuh, sejumlah orang sering mengikuti arus, dengan mengagumi beberapa bangunan ajaib di dunia. Seperti piramid di Mesir, tembok besar Cina, koloseum di Italia, bahkan Taj Mahal di India. Padahal, kalau tak dibangun oleh para budak, bangunan-bangunan yang tak penting-penting amat itu, kabarnya, mengorbankan alias mengabaikan nasib kaum mustadh'afin. Sayangnya, ini jarang diungkap.
Padahal, jika kita sungguh-sungguh punya visi dan misi mewujudkan kehidupan yang manusiawi, mestinya sejarah perbudakan dan sejarah pengabaian terhadap kaum mustadh'afin itu, diungkap dan disebarluaskan. Agar dijadikan pelajaran. Karena kalau tidak, maka perbudakan dan pengabaian kaum mustadh'afin itu akan terjadi lagi, pada hari ini dan ke depan. Misalnya, kemewahan para elite negara, di tengah kemiskinan rakyat. Bukankah ini penindasan, perbudakan, dan pengabaian juga?
Kedelapan, penentu arah sejarah itu adalah massa. Hal ini menegaskan kolektifitas dan betapa pentingnya setiap orang dalam menggerakkan sejarah. Massa ini sering dianggap sepele, seraya menonjolkan figur pemimpin atau elite. Padahal, pemimpin itu berasal dari massa, dan pemimpin pun takkan artikulatif tanpa dukungan massa. Makanya, perlu penyadaran massa.
Kali ini, poinnya segitu saja dulu. Nanti dilanjut. Kalau masih ada poin lainnya yang perlu diutarakan (atau diselatankan). Saya membaca buku-buku karya Ali Syari'ati, sebagai bagian dari riset, untuk agenda membuat buku tentang pemikiran dan tindakan Ali Syari'ati. Doain semoga lancar jaya![]

