Seminar Nasional Faperta Undana: Pemuda Harus Berani Ambil Peran Menjaga Kedaulatan Pangan

Redaksi
Selasa, 16 Juni 2026 | Selasa, Juni 16, 2026 WIB Last Updated 2026-06-16T16:36:08Z
Kupang, detiksatu.com || Generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga dan memperkuat kedaulatan pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan, inovasi, teknologi, serta pengembangan potensi pertanian daerah. 

Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional 2026 bertema “Menggali Potensi Pemuda dalam Menjaga Kedaulatan Pangan” yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana), Senin, 15 Juni 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Fakultas Pertanian Undana tersebut diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri atas mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana dan Politeknik Pertanian Kupang. Seminar menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, praktisi pangan, tokoh adat, dan aktivis pangan.

Praktisi pangan, Dr. Laurensius Lehar, S.P., M.P., menegaskan bahwa generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional.

“Kalau bukan pemuda siapa lagi, kalau bukan kita siapa lagi. Pemuda harus berani mengambil peran untuk menjaga kedaulatan pangan bangsa,” ujar Laurensius.

Ia berkata, sektor pertanian di NTT masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rendahnya produktivitas lahan, keterbatasan sumber daya air, hingga dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan oleh petani. 

Ia menjelaskan bahwa karakteristik wilayah NTT yang beragam memerlukan pendekatan pembangunan pertanian yang berbeda sesuai kondisi masing-masing daerah.

Wilayah Timor, misalnya, didominasi curah hujan rendah dan musim kemarau yang panjang sehingga pengelolaan air serta konservasi tanah menjadi faktor utama dalam meningkatkan produktivitas pertanian. 

Sementara itu, wilayah Flores memiliki potensi pertanian yang lebih besar karena didukung curah hujan yang lebih tinggi dan kondisi tanah vulkanik yang subur.

Laurensius juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi pertanian. Menurutnya, generasi muda harus mampu menghadirkan inovasi yang dapat menjawab tantangan pertanian modern sekaligus meningkatkan daya saing sektor pangan daerah.

Selain itu, perubahan iklim dinilai sebagai tantangan serius yang harus diantisipasi sejak dini. Dampaknya tidak hanya mengubah pola cuaca dan musim tanam, tetapi juga meningkatkan risiko gagal panen akibat kekeringan, serangan hama, dan penyakit tanaman.

Dalam materi yang dipaparkannya, Laurensius menekankan bahwa kedaulatan pangan perlu dibangun melalui penguatan potensi lokal, keterlibatan pemuda, serta penerapan inovasi pertanian yang berkelanjutan. 

Ia menjelaskan bahwa produktivitas lahan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain kesuburan tanah, ketersediaan air, benih unggul, pemupukan, dan manajemen budidaya yang tepat. 

Kondisi NTT, kata dia, didominasi lahan kering, ditambah variasi karakter wilayah seperti Timor, Flores, Sumba, dan kepulauan lainnya, menuntut strategi pertanian yang berbeda sesuai kondisi agroekosistem setempat.

Terkait perubahan iklim, Laurensius menyebutkan bahwa musim tanam yang semakin tidak menentu meningkatkan risiko gagal panen serta memengaruhi produksi pangan dan peternakan. 

Beberapa solusi yang ditawarkan meliputi panen air hujan, penggunaan varietas tahan kering, pengelolaan air yang efisien, konservasi lahan, hingga penerapan sistem peringatan dini cuaca.

Pada sektor hilir, ia menekankan pentingnya distribusi hasil pertanian yang efisien, adil, dan transparan agar nilai tambah tidak hanya berhenti di tingkat petani. 

Pengembangan rantai pasok modern, kemitraan, dan pemanfaatan platform digital dinilai mampu memperluas akses pasar, menjaga kualitas produk, serta meningkatkan posisi tawar petani.

Laurensius juga mendorong penggunaan kompos organik sebagai solusi yang murah, ramah lingkungan, dan berkelanjutan untuk memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air.

Selain itu, sistem penanaman tanaman semusim di antara barisan pisang atau tanaman tahunan lainnya, baik secara monokultur, tumpang sari, maupun rotasi, disebut sebagai model pengelolaan lahan yang produktif.

Sementara itu, Pemangku Adat Marthen Benyamin, S.Sos., menekankan pentingnya menjaga kearifan lokal yang selama ini menjadi bagian dari sistem pertanian masyarakat. Ia mengisahkan bagaimana masyarakat terdahulu mampu mengelola pertanian dengan memanfaatkan bibit lokal, tenaga ternak, dan pengetahuan adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Menurut Marthen, berbagai tradisi pertanian yang berkembang di masyarakat memiliki nilai penting yang dapat dikombinasikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini.

“Pola-pola lama yang dikembangkan oleh orang tua kita perlu dipelajari kembali dan dipadukan dengan ilmu pengetahuan agar hasil pertanian dapat terus meningkat,” katanya.

Akademisi Fakultas Pertanian Undana, Prof. Dr. Ir. Doppy Roy Nendissa, M.P., CRA., CRP., C.SEPRO., mengajak mahasiswa untuk tidak hanya memperoleh ilmu di bangku kuliah, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata dalam mendampingi petani.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, penyuluh pertanian, dan masyarakat merupakan kunci dalam meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Menurutnya, keterbatasan jumlah penyuluh di lapangan masih menjadi tantangan yang harus diatasi melalui penguatan kapasitas petani dan keterlibatan generasi muda.

Prof. Roy juga mendorong mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang mampu menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan petani di lapangan.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Kaya Tene Kupang, Zainudin Umar, menyoroti rendahnya minat generasi muda untuk kembali ke kampung dan menekuni sektor pertanian. 

Mantan Ketua HMI Kupang itu mengungkapkan bahwa masih banyak mahasiswa pertanian yang bercita-cita menjadi aparatur sipil negara atau pejabat dibandingkan menjadi petani.

Padahal, kata dia, sektor pertanian memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikelola secara profesional. Ia mencontohkan sejumlah anggota Yayasan Kaya Tene yang memilih bekerja di sektor pertanian dan memperoleh penghasilan yang layak dari aktivitas berkebun.

“Pertanian sering dianggap bukan pekerjaan utama, melainkan pekerjaan selingan orang tua di kampung. Padahal tanah kita luas dan memiliki potensi besar,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Zainudin mengajak mahasiswa pertanian untuk melihat sektor pertanian sebagai peluang usaha yang menjanjikan sekaligus bagian dari upaya menjaga kedaulatan pangan nasional.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara kampus, komunitas, pemerintah, dan organisasi masyarakat dalam memperkuat sektor pertanian di NTT. 

Sejak 2023, Yayasan Kaya Tene telah menjalin kerja sama dengan Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Cendana dalam kegiatan pengabdian dan pelatihan mahasiswa yang direncanakan berlangsung hingga 2027.

Sebagai lembaga non-profit, lanjut Zainudin, Yayasan Kaya Tene terus berupaya menghubungkan berbagai sumber daya yang tersedia di NTT untuk mendukung petani lokal melalui kerja sama dengan perguruan tinggi dan komunitas yang memiliki kompetensi di bidang pertanian dan peternakan.

“Sebagai lembaga non-profit, kami tidak memiliki banyak sumber daya. Namun kami berupaya menghubungkan berbagai potensi yang ada di NTT agar bisa dimanfaatkan masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan bahwa yayasan tersebut telah mengirim tiga orang ke Taiwan untuk mempelajari sektor peternakan dan pertanian. Selain itu, yayasan juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah guna memperluas akses dan kemudahan bagi petani dalam mengembangkan usaha pertanian.

Menutup pemaparannya, Zainudin mengajak generasi muda untuk berani menentukan pilihan hidup dan melihat pertanian sebagai sektor yang mampu menciptakan perubahan bagi diri sendiri, keluarga, dan masa depan bangsa.

“Life is a choice. Hidup adalah pilihan. Silakan memilih menjadi pejabat, content creator, petani, atau profesi lainnya. Semua memiliki konsekuensi logis. Yang terpenting adalah bagaimana pilihan itu dapat membawa perubahan bagi diri sendiri, keluarga, dan masa depan pertanian Indonesia,” tutupnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut Dekan Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana periode 2026–2030, Dr. Tomycho Olviana, S.P., M.M.A., Ketua BEM Fakultas Pertanian terpilih sekaligus pelaksana kegiatan, Ancelina Padu Leba, serta Ketua BLM Fakultas Pertanian Undana, Silfanus Manau.

Reporter: Emanuel Boli
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Seminar Nasional Faperta Undana: Pemuda Harus Berani Ambil Peran Menjaga Kedaulatan Pangan

Trending Now

Iklan