Jakarta,detikssatu.com || Salah satu bukti kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada aspek amtsal (perumpamaan). Amtsal Al-Qur’an merupakan metode retorika yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan Ilahi secara mendalam.
Perumpamaan ini bertujuan mendekatkan pemahaman manusia terhadap perkara yang abstrak. Hal itu di
lakukan dengan cara membandingkannya dengan sesuatu yang lebih konkret dan mudah dicerna oleh indra manusia.
Melalui amtsal, Al-Qur’an menjelaskan berbagai tingkatan balasan, baik berupa pahala maupun siksa. Metode ini juga mampu menggambarkan secara gamblang aspek pujian, celaan, pengagungan, hingga penghinaan terhadap suatu perkara.
Selain itu, perumpamaan dalam kitab suci juga berfungsi sebagai sarana untuk meneguhkan kebenaran (al-haq) sekaligus membantah kebatilan. Allah Swt. berfirman:
وَضَرَبْنَا لَكُمُ الْأَمْثَالَ
“…dan Kami telah membuat perumpamaan-perumpamaan untuk kamu.” (QS. Ibrahim [14]: 45).
Hal ini menunjukkan bahwa perumpamaan di dalam Al-Qur’an mengandung hikmah dan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia.
Terkait hal ini, ulama pakar tafsir Az-Zamahsyari memberikan catatan penting dalam kitabnya. Beliau berkata, “Pembuatan perumpamaan itu hanya dilakukan untuk membeberkan hal-hal yang bersifat maknawiyah, dan mendekatkan sesuatu yang diragukan menjadi sesuatu yang dapat dilihat.”
Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt. menggambarkan setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia. Karakter utamanya adalah sebagai pengkhianat ulung yang lihai membisikkan tipu daya agar manusia tergelincir ke dalam kekufuran.
Salah satu potret perumpamaan yang sangat kuat mengenai karakter ini terdokumentasi dalam Surah Al-Hasyr ayat 16. Melalui ayat ini, Allah Swt. menjelaskan bagaimana setan membujuk manusia untuk kufur, tetapi langsung berlepas diri setelah korbannya terjerumus.
Ayat ini sekaligus menjadi amtsal bagi perilaku orang-orang munafik. Mereka adalah golongan yang mengkhianati janji setianya kepada kaum Yahudi Bani Nadhir di Madinah.
كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
“… (Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, ‘Kafirlah kamu!’ Kemudian ketika manusia itu telah kafir, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam’.” (QS. Al-Hasyr [59]: 16).
Prof. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perumpamaan dari bentuk rayuan orang munafik kepada Bani Nadhir. Rayuan tersebut bertujuan agar kaum Yahudi berani membangkang terhadap perintah Rasulullah saw.
Bujukan, tipu daya kaum munafik, serta kepatuhan buta kaum Yahudi tersebut digambarkan sebagai analogi yang serupa dengan perilaku setan. Setan dengan lincah menyuruh manusia kafir, tetapi seketika itu juga ia berbalik arah dan menyatakan diri bebas dari tanggung jawab atas kekufuran tersebut.
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menjadi perumpamaan historis bagi kaum munafik yang menjanjikan bantuan militer kepada Bani Nadhir. Namun, ketika Bani Nadhir dikepung oleh pasukan Muslimin, kaum munafik justru melanggar janji dan membiarkan sekutunya menghadapi kehancuran sendirian.
Dengan demikian, ayat ini menunjukkan bahwa setan dan orang munafik memiliki kesamaan watak yang identik. Keduanya gemar memberikan harapan palsu yang menyesatkan, lalu melakukan pengkhianatan kepada para pengikutnya saat petaka datang.
Analisis Balaghah
Dari perspektif ilmu bayan dalam kajian sastra Arab, ayat ini mengandung struktur tasybih tamtsili (perumpamaan representatif). Struktur ini terbentuk dari beberapa unsur tasybih yang saling berkaitan.
Pertama, musyabbah (objek yang diserupakan) adalah karakteristik orang-orang munafik yang mengkhianati Bani Nadhir. Kedua, musyabbah bih (objek pembanding) adalah karakteristik setan yang menggoda manusia untuk kufur lalu meninggalkannya.
Ketiga, adat tasybih (instrumen penyerupaan) yang digunakan dalam ayat ini adalah huruf Kaf (ك) di awal ayat. Terakhir, wajh syabah (titik kesamaan) terletak pada perilaku yang sama-sama memberikan dorongan serta harapan palsu, kemudian berlepas diri saat akibat buruk terjadi.
Hikmah Ayat
Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.
Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka menegaskan bahwa permusuhan setan bersifat abadi dan mutlak. Setan menggunakan segala tipu daya psikologis untuk menjatuhkan martabat manusia dari derajat ahsanul taqwim (sebaik-baiknya bentuk) menjadi makhluk yang terhina.
Janji setan hanyalah tipuan dan kebohongan.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Ighatsatul Lahfan memaparkan bahwa taktik utama setan adalah al-ghurur (tipuan). Setan mengemas kemaksiatan dengan bungkus keindahan semu agar manusia mengira sedang menuju kebahagiaan, padahal sedang melangkah ke jurang kebinasaan.
Orang yang mengikuti kebatilan akan ditinggalkan oleh pihak yang menyesatkannya.
Tafsir Al-Qurtubi menjelaskan bahwa di akhirat kelak, para pemimpin kesesatan akan cuci tangan di hadapan pengikutnya. Pengkhianatan ini merupakan sunatullah dalam hubungan yang dibangun di atas fondasi kemaksiatan.
Pengkhianatan merupakan sifat setan dan orang munafik.
Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa ingkar janji dan berkhianat adalah bagian dari penyakit hati yang merusak iman. Karakter ini memindahkan seseorang dari sifat dasar manusia yang amanah menuju watak hewani yang destruktif.
Manusia harus senantiasa berlindung kepada Allah Swt.
Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa benteng terkuat manusia dari makar setan adalah istikamah dalam berzikir dan ta’awudz. Tanpa perlindungan langsung dari Allah Swt., rasionalitas manusia akan dengan mudah dilumpuhkan oleh bisikan halus setan.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Jangan mudah tergiur oleh ajakan yang bertentangan dengan syariat.
Syekh Abdurrahman as-Sa’di dalam Taisir Karimil Rahman mengingatkan umat Islam agar selalu menguji setiap ajakan menggunakan barometer Al-Qur’an dan sunah. Setiap bujukan yang menabrak hukum syarak harus langsung ditolak tanpa kompromi.
Setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang harus ditanggung sendiri.
Prinsip pertanggungjawaban individu ini selaras dengan penegasan Tafsir Jalalain pada berbagai ayat tentang keadilan hukum Allah Swt. Di pengadilan akhirat, tidak ada satu jiwa pun yang dapat memikul dosa atau menebus kesalahan orang lain.
Teman atau pihak yang mengajak kepada keburukan tidak akan bertanggung jawab atas dosa yang dilakukan.
Sayyid Qutb dalam Fi Zilalil Qur’an menggambarkan betapa tragisnya penyesalan para pengikut keburukan di akhirat. Teman karib yang di dunia saling mendukung dalam kemaksiatan akan berubah menjadi musuh bebuyutan yang saling melaknat.
Keimanan harus dibangun atas ilmu dan keyakinan, bukan rayuan atau tekanan lingkungan.
Imam al-Ghazali dalam kitab Iljamul Awam ‘an ‘Ilmil Kalam menegaskan, iman yang teguh adalah iman yang didasarkan pada makrifatullah (mengenal Allah) dan keyakinan hati yang mendalam (tashdiq).
Beliau mengingatkan bahwa iman yang hanya bersandar pada taklid buta (taqlid a’ma) atau sekadar mengikuti arus lingkungan tanpa dasar ilmu sangat rentan goyah dan mudah terseret oleh bisikan kesesatan setan.[]