JEMBER ,detiksatu.com || Kebiasaan menabung mulai ditanamkan sejak bangku sekolah di Kabupaten Jember.
Hingga kini, sebanyak 5.832 pelajar tercatat telah memiliki rekening dengan total tabungan mencapai sekitar Rp34 miliar.
Data tersebut disampaikan dalam kegiatan Literasi dan Implementasi Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) yang digelar di SMPN 7 Jember, Senin (10/8/2026), bertepatan dengan momentum Hari Indonesia Menabung.
Kepala OJK Jember Aris Budiman mengatakan, Program KEJAR bukan sekadar mendorong pelajar membuka rekening.
Lebih jauh, program tersebut diarahkan untuk membentuk kebiasaan mengelola keuangan sejak usia dini.
Pelajar perlu dibiasakan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Uang yang dimiliki tidak harus langsung dihabiskan untuk kesenangan, tetapi dapat disisihkan sebagai tabungan untuk kebutuhan di masa mendatang.
"Menabung bukan sekadar menyimpan uang, tetapi bagian dari investasi untuk masa depan," ujar Aris.
Menurutnya, kebiasaan tersebut akan menjadi modal penting ketika pelajar tumbuh dewasa dan mulai memiliki tanggung jawab finansial yang lebih besar.
Pesan serupa disampaikan Bupati Jember Gus Muhammad Fawait.
Namun, Gus Fawait memperluas makna literasi tidak hanya pada urusan keuangan.
Menurutnya, pelajar juga harus memiliki kemampuan membaca dan menyaring informasi, terutama di tengah derasnya arus media sosial.
"Kalau senang membaca, dia akan tahu isi dunia. Video pendek dan media sosial harus diimbangi dengan literasi," kata Gus Fawait.
Dia mengingatkan pelajar agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, kemampuan membaca harus diikuti dengan kemampuan memahami dan memeriksa kebenaran informasi.
Gus Fawait mencontohkan adanya narasi di media sosial yang menyebut pemerintah tidak memperhatikan pembangunan infrastruktur pendidikan.
Dia kemudian menunjukkan kondisi berbeda di lapangan. SMPN 7 Jember, kata dia, tahun ini mendapatkan dukungan pembangunan dengan nilai sekitar Rp2 miliar.
"Kalau mudah percaya kepada video-video di media sosial, itu berbahaya. Karena itu literasi penting," tegasnya.
Bagi Gus Fawait, pendidikan tetap menjadi kunci utama untuk mengubah masa depan seorang anak.
Dia menyebut seorang anak yang berasal dari keluarga biasa pun memiliki peluang menjadi pejabat maupun orang sukses jika mendapatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan yang memadai.
"Awalnya bukan siapa-siapa bisa menjadi siapa-siapa. Jalan yang paling efektif adalah ilmu pengetahuan," ujarnya.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui program beasiswa. Gus Fawait menyebut Pemkab Jember menyiapkan beasiswa bagi sekitar 11 ribu hingga 12 ribu anak hingga menyelesaikan pendidikan.
Pada 2026, pemerintah daerah juga memberikan beasiswa kepada sekitar 7.030 mahasiswa.
Bagi Pemkab Jember dan OJK, pendidikan dan literasi keuangan memiliki tujuan yang sama: menyiapkan generasi muda agar lebih mandiri dalam menentukan masa depannya.
Program KEJAR menjadi salah satu pintu masuknya. Dari sebuah rekening yang dibuka sejak sekolah, pelajar diharapkan mulai belajar menyisihkan uang, menentukan prioritas, dan merencanakan masa depan.
Menabung dimulai dari kecil. Dampaknya diharapkan besar ketika mereka dewasa.
(Wiwik)