Ahli Geologi ITB: Dampak Kebakaran Kawah Wadon Terutama di Permukaan

PIMPINAN DAN ANGGOTA BESERTA SEKRETARIAT DPRD KABUPATEN TANGERANG Mengucapkan: DIRGAHAYU REPUBLIK I

Ahli Geologi ITB: Dampak Kebakaran Kawah Wadon Terutama di Permukaan

Agustus 15, 2026 | Agustus 15, 2026 WIB Last Updated 2026-08-15T06:43:08Z
CIANJUR,DETIKSATU.COM || Kebakaran di kawasan Kawah Wadon, Gunung Gede, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dinilai lebih berdampak terhadap kondisi permukaan kawasan dibandingkan sistem geologi bawah permukaan.

Dosen Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Niniek Rina Herdianita, M.Sc., Ph.D., mengatakan kebakaran tetap perlu ditindaklanjuti dengan pemantauan geologi untuk mengantisipasi perubahan karakteristik tanah, kestabilan lereng, aliran air, erosi, hingga potensi longsor.

Hal itu disampaikan Niniek dalam wawancara khusus dengan Detiksatu.com, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Niniek, secara geologi terdapat dua proses utama yang membentuk dan mengubah permukaan bumi, yakni proses endogen yang berasal dari dalam bumi dan proses eksogen yang berlangsung di permukaan.

Kebakaran di sekitar Kawah Wadon termasuk proses eksogen yang berpotensi mengubah karakteristik tanah, batuan permukaan, kestabilan lereng dan sistem aliran air di kawasan terdampak.

"Secara tidak langsung, kondisi bawah permukaan dapat saja terpengaruh, misalnya saat kebakaran membuat perubahan karakteristik tanah dan hutan, kemungkinan akan membuat lereng menjadi tidak stabil dan longsor," ujar Niniek.

Karena itu, kondisi kawasan setelah kebakaran perlu dipantau secara berkala. Pemantauan dapat dilakukan dengan mengamati perubahan permukaan, termasuk kemungkinan pergeseran tanah, perubahan kestabilan lereng, serta meluasnya area terdampak.

Analisis citra satelit secara berkala juga dapat digunakan untuk mengetahui perubahan luas kawasan yang terbakar dan perkembangan kondisi permukaan.

Selain itu, kualitas dan kuantitas air juga perlu diperhatikan. Pemeriksaan dapat meliputi tingkat kekeruhan (turbidity), pH, unsur terlarut, hingga perubahan debit aliran sungai atau mata air.

Perubahan Akibat Kebakaran Perlu Dibedakan dari Aktivitas Vulkanik

Niniek mengatakan perubahan yang ditemukan setelah kebakaran perlu dibedakan dengan perubahan yang disebabkan aktivitas alami Gunung Gede.

Menurut dia, proses eksogen dan endogen memiliki karakteristik berbeda. Proses di permukaan berlangsung dalam lingkungan oksidasi yang dapat menghasilkan mineral hasil oksidasi, sedangkan proses di bawah permukaan berlangsung dalam lingkungan yang berbeda.

"Bagaimana ahli geologi membedakan perubahan yang disebabkan oleh kebakaran dengan perubahan yang berasal dari aktivitas alami Gunung Gede? Prosesnya berbeda, proses di permukaan berbeda di lingkungan oksidasi, karena itu akan membentuk mineral-mineral hasil oksidasi," katanya.

Selain perubahan mineral, parameter kualitas air dapat menjadi indikator yang dipantau untuk melihat perubahan lingkungan setelah kebakaran.

Niniek menuturkan, perubahan akibat proses eksogen pada umumnya dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan perubahan yang berkaitan dengan proses endogen.

Berbeda dengan Kebakaran Lapisan Batubara

Niniek juga memberikan penjelasan mengenai perbedaan karakter kebakaran di kawasan Gunung Gede dengan kebakaran pada wilayah yang memiliki lapisan batubara.

Pada kawasan batubara, kebakaran dapat menjadi lebih berbahaya karena lapisan material organik yang mudah terbakar dapat menerus hingga bawah permukaan. Kondisi tersebut memungkinkan api tetap bertahan di bawah tanah meskipun api di permukaan telah dipadamkan.

"Jika di lingkungan batubara, kasus kebakaran ini lebih bahaya, karena kita punya lapisan batubara yang mudah terbakar menerus hingga di bawah permukaan. Jadi meskipun di permukaan api sudah padam, kemungkinan besar api masih ada di lapisan batubara di bawah permukaan," ujar Niniek.

Namun, kondisi tersebut berbeda dengan Gunung Gede. Menurut dia, kawasan tersebut tidak memiliki batuan organik seperti lapisan batubara yang dapat menjadi sumber api di bawah permukaan.

"Untuk kasus Gunung Gede, dampaknya hanya di permukaan, kita tidak punya batuan organik seperti batubara di bawah," katanya.

Rehabilitasi Kawasan Jadi Langkah Lanjutan

Setelah kebakaran berhasil dikendalikan, penanganan kawasan tidak berhenti pada pemadaman api. Rehabilitasi dan pemantauan kondisi permukaan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bencana lanjutan.

Niniek menyebut rehabilitasi tanah dan penanaman kembali dapat dilakukan untuk membantu mengembalikan kondisi kawasan sekaligus mengurangi risiko erosi.

"Langkah penanggulangan untuk mencegah kerusakan di permukaan yang dapat menimbulkan bahaya longsor dan erosi tentu saja dengan mengembalikan kondisinya secepat mungkin," katanya.

Menurut dia, kestabilan lereng juga harus menjadi perhatian. Mitigasi terhadap potensi longsor maupun jatuhan batu perlu dilakukan, terutama pada lokasi yang mengalami perubahan tutupan vegetasi akibat kebakaran.

Dengan demikian, pascakebakaran Kawah Wadon, pemantauan perlu diarahkan tidak hanya untuk memastikan tidak ada bara yang kembali muncul, tetapi juga untuk mendeteksi perubahan kondisi tanah, lereng dan sistem aliran air.

Langkah tersebut penting untuk memastikan dampak kebakaran tidak berkembang menjadi persoalan baru, terutama ketika kawasan memasuki periode dengan curah hujan tinggi.(Bet)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ahli Geologi ITB: Dampak Kebakaran Kawah Wadon Terutama di Permukaan

Trending Now