NAGEKEO, DETIKSATU.COM || Penyaluran bantuan hingga hari ketiga musiba gempa 7,7 M di Nagekeo belum merata. Warga di Dusun Iki Seo Desa Kotakeo I, Kecamatan Nangaroro terpaksa harus mendirikan posko darurat pengungsian dengan terpal bekas jemur padi.
Satu terpal bekas didirikan warga di tempat yang terbuka, pada Sabtu (15/8/2026). Kondisinya memprihatinkan karena tiang tempat terpal diikat tidak kuat. Anak-anak, ibu hamil, dan lansia tidur di sana dengan bermodalkan alas seadanya.
Untuk peralatan masak, warga hanya memiliki satu alat masak dengan ukuran tidak terlalu besar. Warga harus bisa mengirit logistik agar cukup untuk semua penduduk. Mereka sampai perhari ini belum menerima bantuan apapun dari Pemda Nagekeoe dan Dinas terkait.
Seorang warga Kepala Dusun Iki Seo, Binggo, mengatakan, warga di desanya belum menerima bantuan. Kami sangat membutuhkan tenda, air bersih, beras, sayur-sayuran dan obat-obatan. Beberapa anak-anak di sana mulai diserang penyakit tapi belum ada penanganan medis.
"Dari hari pertama mengungsi belum ada bantuan dari Pemda. Tenda darurat pun seadanya. Kami di pedalaman tentunya sangat membutuhkan bantuan dari Bapak Bupati dan Dinas BPBD Nagekeo. Jujur aktifitas kami pun terhenti karena kelangkaan BBM,"kata Binggo melalui via telepon kepada detiksatu.com, Minggu (16/8/2026).
Di dalam satu terpal, mereka tidur berhimpitan. Pasalnya tenda darurat yang tersedia tidak cukup untuk menampung warga sekitar 310 orang.
"Untuk pos pengungsi dan kayu masak saja kami harus mencari secara gotong royong. Tapi yang paling utama kami butuh air minum dan beras,"kata Binggo.
Menurut Binggo Kondisi kami di pedalaman serba sulit, sebagian penyintas harus bertahan dengan keterbatasan kebutuhan dasar. Kebutuhan mendesak yang dirasakan warga adalah ketersediaan air bersih. Bupati saja sampai detik ini belum ada kasi pernyataan melalui media, penanganannya bagiamana, masyarakat dibiarkan sendiri.
“Selain air bersih, warga juga berharap adanya bantuan makanan yang bisa langsung dikonsumsi. Situasi darurat membuat sebagian pengungsi kesulitan memasak karena keterbatasan peralatan, bahan makanan, maupun akses terhadap air,”katanya.
Keluhan warga di titik pengungsian muncul karena dari hari pertama sampai hari ketiga pemerintah daerah tidak pernah hadir secara langsung di sejumlah lokasi terdampak.
“Warga berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan laporan dari tingkat desa atau kecamatan, tetapi turun melihat sendiri kondisi para penyintas. Jangan tunggu kami datang meminta bantuan dengan situasi seperti ini. Pemerintah harus datang melihat kondisi masyarakat yang haus dan lapar,"pungkasnya.
Reporter: Stef