LUWU TIMUR,DETIKSATU.COM || Pagi di Desa Baruga, Kabupaten Luwu Timur, tidak hanya dimulai dari aktivitas warga. Di salah satu unit usaha desa, suara ayam bersahut-sahutan. Sekitar 1.200 ayam petelur dipelihara sebagai bagian dari upaya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Baruga membangun sumber pendapatan baru.
Peternakan itu memang belum sebesar usaha komersial. Namun bagi pengelolanya, ribuan ekor ayam tersebut menyimpan harapan yang cukup besar: menghasilkan telur untuk pasar desa sekaligus membuat uang berputar lebih lama di kampung sendiri.
Selama ini, kebutuhan telur masyarakat harus didatangkan dari luar desa. BUMDes mencoba mengambil celah tersebut dengan memproduksi sebagian kebutuhan dari kandang sendiri.
“Kami berharap usaha ini bisa berkembang ke depannya, berjalan lancar, dan memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Baruga,” ujar salah seorang pegawai BUMDes.
Gagasan itu sederhana. Telur diproduksi di Baruga, dibeli warga Baruga, dan keuntungan usahanya diharapkan kembali menjadi bagian dari pendapatan BUMDes. Rantai ekonomi yang biasanya melewati banyak tempat ingin dipangkas sedekat mungkin dengan konsumen.
Bendahara BUMDes Baruga, Hilda, mengatakan pengembangan peternakan tersebut merupakan hasil kerja bersama pengurus. Ia mengapresiasi seluruh anggota, terutama Ketua BUMDes Andi Aswan yang aktif mengoordinasikan berbagai kegiatan usaha.
Bagi Hilda, peternakan ayam petelur bukan hanya soal berapa banyak telur yang dapat dihasilkan. Ada harapan agar unit usaha tersebut tumbuh menjadi sumber ekonomi yang lebih kuat bagi desa.
“Semoga usaha ini berjalan lancar dan bisa berkembang lebih baik lagi. Dengan adanya usaha ini, masyarakat Desa Baruga tidak perlu jauh-jauh membeli telur karena kebutuhan bisa dipenuhi dari desa sendiri,” katanya.
Di sinilah usaha BUMDes diuji. Memelihara 1.200 ayam bukan pekerjaan sederhana. Ada kebutuhan pakan, kesehatan ternak, tenaga kerja, produksi yang harus dijaga, hingga pemasaran telur. Semua harus dihitung agar usaha tidak berhenti sebagai proyek desa yang hanya terlihat ramai di awal.
Namun, BUMDes Baruga telah memulainya.
Peternakan ayam petelur tersebut menjadi salah satu pilihan untuk mengembangkan ekonomi produktif di tingkat desa. Jika dikelola secara konsisten dan mampu diperbesar, kandang itu bukan hanya menghasilkan telur, tetapi juga dapat menciptakan aktivitas ekonomi dan peluang usaha baru.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan BUMDes bukan sekadar banyaknya unit usaha yang dimiliki. Yang lebih penting adalah seberapa jauh usaha itu benar-benar terasa manfaatnya bagi warga.
Di Baruga, harapan tersebut kini bertumpu pada sesuatu yang sederhana: ribuan ayam, telur setiap hari, dan sebuah gagasan agar kebutuhan masyarakat bisa dipenuhi dari desa sendiri. (yu)