Hanung Bramantyo Rilis Trailer ‘Lobang Buaya’, Angkat Horor Kolektif Indonesia Jelang Peristiwa 1965

Hanung Bramantyo Rilis Trailer ‘Lobang Buaya’, Angkat Horor Kolektif Indonesia Jelang Peristiwa 1965

September 01, 2026 | September 01, 2026 WIB Last Updated 2026-09-01T14:30:52Z

Jakarta,detiksatu.com || Menjelang jadwal tayang serentak di bioskop pada 1 Oktober 2026, film horor terbaru garapan sutradara Hanung Bramantyo, “Lobang Buaya”, resmi merilis official trailer dan final poster.

Diproduksi oleh Adhya Pictures dan Dapur Film, Lobang Buaya mengangkat misteri pembunuhan berantai dengan latar Indonesia pada 1964, setahun sebelum terjadinya peristiwa kelam 1965.

Film ini menjadi ruang eksplorasi kreatif Hanung Bramantyo dalam menangkap perasaan horor kolektif yang kerap muncul di tengah masyarakat Indonesia setiap memasuki bulan September. Tak sekadar menawarkan teror, Lobang Buaya juga membawa kritik terhadap persoalan kekuasaan, ketidakadilan, korupsi, hingga penindasan yang dinilai masih relevan hingga saat ini.

Final poster film tersebut langsung memperlihatkan visual yang mengundang rasa penasaran sekaligus kengerian. Sebuah tangan misterius tampak menembus punggung berlubang seorang perempuan.

Visual penuh teka-teki itu menjadi gambaran teror utama yang akan dihadapi para karakter dalam cerita.

Sementara official trailer membawa penonton mengikuti penyelidikan Letnan Soegeng, seorang anggota militer yang mendapat tugas membongkar misteri pembunuhan berantai yang selalu terjadi setiap tanggal 30 di Desa Lobang Buaya.

Baskara Mahendra yang memerankan karakter Soegeng mengatakan penonton akan diajak menyusun berbagai potongan petunjuk untuk mengungkap sosok di balik rangkaian pembunuhan tersebut.

“Lewat film ini, kalian akan mengikuti setiap langkah Soegeng untuk ‘mencari dalang’ di balik misteri pembunuhan berantai ini. Saya yakin dari setiap petunjuk yang ditemukan, setiap korban yang berjatuhan, penonton akan dibawa melalui perjalanan yang enggak cuma menegangkan dan seru, tapi juga membuat kita bertanya, siapa yang berdosa dalam kisah ini?” tutur Baskara Mahendra.

Hanung Bramantyo Pilih Horor untuk Membahas Ketakutan Kolektif

Hanung Bramantyo menegaskan pemilihan genre horor dalam Lobang Buaya dilakukan secara sadar. Menurutnya, horor menjadi medium untuk membedah rasa takut masyarakat terhadap berbagai persoalan ketidakadilan yang terjadi pada masa tersebut dan dampaknya yang masih terasa hingga sekarang.

“Dari saya kecil sampai sekarang, seakan-akan ada satu topik yang dianggap tabu untuk dibicarakan. Saya berpikir kembali, perasaan apa yang kita rasakan ketika mendengar peristiwa ‘65? Jawabannya adalah horor,” ujar Hanung.

Ia menambahkan bahwa horor dalam film ini tidak semata-mata hadir melalui sosok hantu atau adegan menegangkan.

“Saya memilih horor bukan hanya karena ingin membuat penonton merasakan ketakutan yang ada di dalam cerita, tetapi juga horor yang kita rasakan dari persoalan kekuasaan, korupsi, dan bagaimana manusia bisa saling menindas,” lanjutnya.

Misteri Pembunuhan Berantai di Desa Lobang Buaya

Lobang Buaya mengambil latar setahun sebelum meletusnya peristiwa kelam 1965.

Desa Lobang Buaya diguncang teror pembunuhan berantai terhadap sejumlah tokoh desa. Para korban ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan, dengan punggung berlubang serta sayatan kata-kata sindiran pada tubuh mereka, seperti “Tamak”, “Lamis”, dan “Maruk”.

Di tengah merebaknya rumor tentang sosok misterius bernama “Hantu Bolong”, situasi sosial di desa semakin memanas.

Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) kemudian diutus untuk mengungkap siapa dalang di balik pembantaian tersebut.

Namun, penyelidikan itu justru membawa teror ke kehidupan pribadinya.

Istri baru Soegeng, Arum Wangi yang diperankan Carissa Perusset, mulai dihantui arwah seorang perempuan yang menuntut bagian tubuhnya dikembalikan.

Teror semakin mencekam ketika arwah tersebut menyebut Arum sebagai Ronggeng.

Panggilan misterius itu perlahan membuka tabir bahwa kekacauan yang terjadi di Desa Lobang Buaya maupun rumah tangga Soegeng bukan sekadar kebetulan.

Di balik seluruh rangkaian pembunuhan dan teror tersebut, tersimpan sebuah ritual gelap berbahaya yang sengaja dirancang untuk mengubah arah sejarah.

Dengan perpaduan misteri pembunuhan berantai, teror supranatural, ritual gelap, dan kritik sosial, Lobang Buaya menawarkan pendekatan berbeda terhadap kisah berlatar salah satu periode paling kelam dalam sejarah Indonesia.

Film “Lobang Buaya” dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.
(Nina)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Hanung Bramantyo Rilis Trailer ‘Lobang Buaya’, Angkat Horor Kolektif Indonesia Jelang Peristiwa 1965

Trending Now