Luwu timur,detiksatu.com || Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melangkah menyusun langkah strategis besar untuk mengangkat kembali kejayaan dan produktivitas komoditas lada — salah satu potensi unggulan perkebunan daerah.
Berdasarkan gagasan Bupati Luwu Timur, Ir. H. Irwan Bachri Syam, ST., MT., IPM, Pemkab merancang pembentukan Kawasan Lada Terpadu sebagai pusat pengembangan dan pengelolaan merica secara menyeluruh. Program ini tidak hanya ditujukan untuk menaikkan hasil panen, tetapi memastikan keberlanjutan dan kepastian hukum sejak dari tahap perencanaan.
Legalitas Lahan Jadi Prioritas Utama
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapperida) Luwu Timur, Kamal Rasyid, menegaskan bahwa penentuan lokasi kawasan dilakukan secara cermat agar tidak bersinggungan dengan kawasan hutan.
"Langkah antisipatif ini diambil agar ke depannya program berjalan lancar, produktif, dan tidak menimbulkan persoalan hukum bagi para petani maupun pemerintah daerah." — ujar Kamal.
Kepastian status kawasan menjadi kunci, karena pengembangan perkebunan memerlukan jaminan ruang sekaligus perlindungan bagi masyarakat yang mengelolanya. Dengan konsep terpadu, pengembangan lada tidak lagi berjalan terpisah-pisah, melainkan menjadi strategi penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi asli daerah.
Penjelasan Soal IUP PT Vale
Dalam kesempatan yang sama, Kamal juga memperjelas kewenangan terkait Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Vale Indonesia. Ia menegaskan bahwa pengurusan dan keputusan atas izin tersebut berada di tangan pemerintah pusat, bukan pemerintah kabupaten. Penjelasan ini disampaikan agar masyarakat memahami batas kewenangan masing-masing lembaga.
Infrastruktur Pendukung Siap Dibangun
Pengembangan ekonomi ini disertai perbaikan konektivitas wilayah. Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Luwu Timur, Hendro, menyampaikan:
- Ruas Mahalona–Bantilang akan dikerjakan pada 2026–2027 dengan anggaran Rp27 miliar, kini dalam tahap administrasi dan teknis
- Melalui BKK Pemprov Sulsel: ruas Bantilang–Masiku–Rauta (Batas Sultra) mendapat Rp3,05 miliar; ruas Pekaloa–Bantilang, Desa Mahalona mendapat Rp4,5 miliar
Pembangunan jalan ini bukan sekadar memperlancar mobilitas, melainkan membuka akses pasar dan memastikan hasil bumi warga dapat diangkut dengan mudah — menuju Luwu Timur yang makin mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan.
(ANDI MARWAN T.L)