Lakhomi Nias Barat,detiksatu.com || Tokoh masyarakat Ama Lynce War menyampaikan apresiasi atas langkah pemugaran dan pembenahan Cagar Budaya HO yang dinilainya layak mendapat dukungan seluruh pihak. Menurutnya, pelestarian situs bersejarah tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah, ahli cagar budaya, pengelola, dan masyarakat setempat.
“Apresiasi yang sangat layak diberikan. Pemugaran Cagar Budaya HO memang membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, ahli cagar budaya, dan masyarakat setempat atau rakyat,” ujar Ama Lynce War.
Ia menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat merupakan bagian penting dalam memastikan hasil pemugaran tidak berhenti sebatas pembenahan fisik. Nilai sejarah, budaya, dan keberadaan situs harus dijaga secara berkelanjutan agar tetap dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Menurut Ama Lynce War, tanpa partisipasi aktif rakyat, kegiatan pelestarian berpotensi berhenti pada tahap pemugaran fisik saja, sementara keberlanjutan nilai sejarah dan budaya belum tentu terjamin.
Rakyat Harus Menjadi Bagian dari Pelestarian
Ia menyebut terdapat sejumlah alasan mengapa masyarakat sekitar harus mendapatkan ruang yang nyata dalam pemugaran dan pelestarian Cagar Budaya HO.
Pertama, rasa memiliki (sense of belonging). Ketika masyarakat dilibatkan dalam pengawasan, edukasi, maupun pengelolaan, akan tumbuh rasa memiliki terhadap situs tersebut. Dengan demikian, masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam mencegah kerusakan, vandalisme maupun tindakan yang mengancam kelestarian situs.
Kedua, menjaga nilai lokal dan sejarah. Masyarakat setempat memiliki pengetahuan turun-temurun berupa cerita lisan, tradisi, folklor, serta berbagai informasi sejarah yang dapat menjadi bagian penting dalam memperkaya pemahaman terhadap nilai budaya situs.
Ketiga, membuka peluang ekonomi berkelanjutan. Pelestarian Cagar Budaya HO dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat melalui peluang ekonomi berbasis komunitas, antara lain pemandu wisata lokal, UMKM kerajinan, produk ekonomi kreatif, hingga pengelolaan homestay apabila dikembangkan sesuai ketentuan dan karakter kawasan.
Keempat, pengawasan sehari-hari. Pemerintah dan instansi terkait memiliki keterbatasan dalam melakukan pengawasan sepanjang waktu. Karena itu, masyarakat yang berada di sekitar situs dapat menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga keamanan dan kelestarian kawasan.
Dorong Komunitas Peduli Cagar Budaya
Lebih lanjut, Ama Lynce War mendorong adanya langkah konkret untuk memperkuat partisipasi masyarakat. Salah satunya melalui pembentukan Komunitas Peduli Cagar Budaya, pelibatan pemuda dan organisasi kepemudaan dalam edukasi sejarah lokal, serta penyusunan pembagian peran yang jelas dan adil antara pengelola dengan masyarakat sekitar.
Menurutnya, pemugaran harus dipandang sebagai awal dari proses pelestarian jangka panjang, bukan sebagai akhir dari sebuah kegiatan pembangunan.
> “Cagar budaya bukan hanya milik pemerintah atau pengelola. Masyarakat di sekitar adalah bagian penting dari keberadaan dan keberlanjutan nilai situs tersebut. Karena itu, rakyat harus diberikan ruang untuk ikut menjaga, mengawasi, mengenalkan, dan melestarikannya,” tegasnya.
Ama Lynce War berharap pembenahan Cagar Budaya HO dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa pelestarian warisan sejarah membutuhkan sinergi, tanggung jawab, dan partisipasi nyata seluruh elemen masyarakat.
(Gaba'atulo Waruwu)