Wamena,detiksatu.com II Dari halaman Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Manokwari, Papua Barat, sebuah pertanyaan refleksi tertuju kepada anak-anak koteka yang kini memegang kekuasaan di tanah Papua: masih ingatkah bagaimana dahulu kita berjuang untuk sekolah meraih cita-cita.Selasa,06/10/2026
"Akademisi dan Mahsiswa Doktoral.Gasper Tabuni Mayampaikan Ketika mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan terusir dari kontrakan dan sebagian terpaksa tidur di halaman Gereja GIDI di Manokwari, jangan anggap hal ini hanya masalah Yahukimo. Lihat juga Kabupaten Lanny Jaya, Nduga, Tolikara serta kabupaten lain di Papua Pegunungan dan tanah Papua.
"Ia Juga Menyapaikan Persoalannya mungkin berbeda, tetapi kisahnya sama. Anak-anak koteka meninggalkan gunung hanya bermodal tekad, keberanian, semangat petarung, dan cinta yang utuh demi meraih cita-citanya,Ujar Gaspar Tabuni .
"Ia (anak-anak koteka) pergi bukan karena keluarganya kaya raya atau tabungannya cukup hingga tersenyum di aula tempat ia diwisuda. Tiket sering dibeli dari hasil patungan keluarga dengan menjual babi.
"Uang itu juga bisa saja dari hasil kumpul-kumpul saudara, pinjaman dari gereja atau teman-teman yang ikut membantu. Dengan keyakinan, si anak koteka (calon mahasiswa) hanya berkata singkat dalam suara yang tertahan di lubuk hati: “yang penting saya jalan dulu. Nanti Tuhan buka jalan.”
"Kini keberaniannya bertambah karena ia percaya kaka-kakanya sendiri telah menjadi kepala dinas, bupati, gubernur bahkan anggota DPR RI maupun DPD RI. Dalam hati ia tentu berdoa dan mungkin berbisik dalam relung hati terdalam, “saya tidak akan dibiarkan sendiri.”
Aspek yang Perlu Direnungkan
"Inilah yang perlu direnungkan. Kaka-kaka yang sekarang duduk di kursi kekuasaan juga berasal dari generasi yang pernah berjuang dengan anek pengalaman yang menyertainya.
"Misalnya, hidup di kontrakan sederhana, mengalami kehabisan uang sebelum akhir bulan, menunggu kiriman di kantor pos, dan dipandang kampungan saat pertama tiba di kota. Kaka juga tahu bagaimana orang Papua pernah dianggap tertinggal, tidak mampu, bahkan bodoh.
"Karena itulah Saya Gasper Tapi Mahasiswa Doktoral,Menyampaikan kami (anak-anak koteka) sekolah. Bukan untuk meminta belas kasihan, melainkan untuk melawan stigma —bukan dengan batu, panah, senjata, atau kekerasan tetapi dengan pendidikan" Ujar Tabuni.
"Setiap pilot, dokter, insinyur, dosen, guru besar, ahli teknologi, ekonom, dan ahli hukum Papua adalah jawaban. Semakin banyak Anak Koteka berdiri di ruang ilmu pengetahuan, semakin tegak kita berkata, “Lihat, kami ada. Inilah Papua. Kami mampu.” Itulah harga diri.
"Karena itu, jangan terlalu cepat menjadikan efisiensi anggaran sebagai jawaban terakhir. Efisiensi memang nyata. Di Lanny Jaya, misalnya, dukungan kepada mahasiswa dibatasi pada biaya kuliah, kontrakan, dan pemeliharaan asrama; makan dan minum tidak lagi ditanggung. Respons serupa juga muncul dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Yahukimo.
Namun, efisiensi pada dasarnya adalah soal menentukan prioritas. Jika anggaran berkurang, pangkas seremoni yang tidak mendesak, perjalanan yang tidak perlu, dan belanja yang manfaatnya cepat habis. Jangan pertama-tama mengurangi dukungan bagi manusia yang sedang dipersiapkan untuk lima puluh tahun masa depan Papua.
"Sistem informasi juga harus dibenahi. Data perlu akurat, kartu tanda penduduk (KTP) bermasalah harus diperbaiki, mahasiswa fiktif dibersihkan, dan permainan harga kontrakan diaudit. Namun, jangan biarkan komputer lebih berkuasa daripada kenyataan hidup manusia.
"Jika seorang anak benar berasal dari Lanny Jaya dan sungguh sedang kuliah, tetapi dokumen kependudukannya belum tertib, bereskan administrasinya —jangan hilangkan manusianya.
Jika mahasiswa tersebar di kampus-kampus yang berjauhan, jangan paksa kehidupan mereka mengikuti tabel hanya karena sistem menghendaki mereka berkumpul. Sistem dibuat untuk melayani manusia, bukan sebaliknya.
Lihat Jauh ke Belakang
"Kepada kaka-kaka anak koteka yang kini menerima amanah publik di seluruh tanah Papua: ketika adik-adik mengetuk pintu kantor, mungkin yang terlihat hanya mahasiswa berambut kusut, bersuara keras, dan membawa proposal. Namun, lihatlah lebih dalam.
"Jauh di belakang mereka (anak-anak koteka) ada mama yang menjual babi atau berjualan di pasar meski dagangannya tidak laku; ada bapak yang mungkin tak pernah bersekolah; dan ada satu kampung yang berharap anak itu pulang membawa pengetahuan. Ada pula sejarah panjang orang Papua yang terlalu sering diberi tahu, “kalian tidak mampu.”
"Jangan sampai ketika mereka berusaha membuktikan kalimat itu salah, pemerintahan kita sendiri justru mematahkan keberanian mereka. Kaka memiliki kesempatan besar —bukan hanya membangun gedung dan jalan, tetapi membangun manusia Papua.
"Dengan dokter, pilot, guru besar, insinyur, ahli hukum, teknolog, peneliti, dan pemimpin sendiri, suatu hari kita tidak perlu terus menunggu Jakarta atau orang luar menentukan apa yang harus kita kerjakan. Itulah Papua yang mandiri dan merdeka.
"Jabatan akan berakhir. Mobil dinas akan berganti. Rumah jabatan akan ditinggalkan. Nama di papan kantor akan diturunkan. Namun, seorang anak yang kaka bantu menyelesaikan pendidikan dapat mengabdi bagi Papua selama tiga puluh atau empat puluh tahun.
"Karena itu, ketika anak koteka meminta tempat tinggal agar dapat terus kuliah, jangan hanya melihat angka rupiah di atas kertas. Lihatlah tiga puluh tahun masa depan Papua yang berdiri di depan pintu kantor kaka.
Anak itu telah melakukan bagian tersulit: berani keluar dari gunung, meninggalkan rasa takut, melawan stigma, dan memilih pendidikan daripada kekerasan. Jangan biarkan ia kalah hanya karena kita sibuk mengulang kata “efisiensi”, “sistem”, “data”, dan “anggaran tidak ada”.
"Bagi anak koteka, ziarah panjang proses pendidikan tidak pernah dimulai dengan uang yang cukup. Perjalanan itu selalu dimulai dengan kalimat sederhana: “jalan dulu. Nanti Tuhan buka jalan.” Hari ini, mungkin salah satu jalan yang Tuhan buka adalah kaka-kaka sendiri yang sedang memegang amanah kekuasaan.
"Jangan tutup jalan itu. Sekali lagi, adik-adikmu, anak koteka hanya melangkah dengan modal doa dan tekad bulat: jangan patahkan asanya di kota studi." ujar Tabuni.
Reporter. Andinus Kogoya