Dinas Perikanan dan DLH Pasbar Investigasi Kematian Ikan Larangan Lubuk Landur, Sampel Air Diuji di Laboratorium

Dinas Perikanan dan DLH Pasbar Investigasi Kematian Ikan Larangan Lubuk Landur, Sampel Air Diuji di Laboratorium

Oktober 25, 2026 | Oktober 25, 2026 WIB Last Updated 2026-10-25T11:51:13Z
Pasaman barat,detiksatu.com || Kematian ikan larangan di kawasan wisata religi Lubuk Landur, Nagari Lubuk Landur, Aua Kuniang, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, kembali mengkhawatirkan. Sejumlah ikan gariang ditemukan mati, sementara ikan lainnya terlihat lemah, kemerahan, dan sebagian tampak berjamur.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama Dinas Perikanan Pasaman Barat turun ke lokasi pada Minggu (25/10/2026) untuk melakukan pemeriksaan lanjutan dan mengambil sampel air yang akan diuji di laboratorium.

DLH Ambil Sampel Air untuk Pengujian Laboratorium

Kepala DLH Pasaman Barat, Natran Hanri, S.Hut., mengatakan pihaknya menerima laporan pada Minggu sekitar pukul 10.30 WIB. Petugas kemudian memeriksa lokasi dan mengambil sampel air sungai untuk diuji di laboratorium di Padang.

“Sampel tersebut akan kita bawa ke laboratorium di Padang dan kita akan menunggu hasil uji laboratorium tersebut keluar,” ujar Natran kepada Detiksatu.com, Minggu (25/10/2026).

Pengujian mencakup sembilan parameter, yakni COD, BOD, pH, TSS, arsen, sianida, minyak dan lemak, nitrogen total, serta merkuri. DLH juga akan berkoordinasi dengan Dinas Perikanan dan instansi terkait untuk menelusuri faktor yang berkaitan dengan kematian ikan.

Dinas Perikanan Sarankan Penanganan Ikan Terdampak

Kepala Dinas Perikanan Pasaman Barat, Endon Triharja, S.E., M.M., membenarkan bahwa pengukuran awal yang dilakukan pihaknya pada Rabu (21/10/2026) menunjukkan pH air mencapai angka 9.

Meski menjadi salah satu temuan pemeriksaan, angka tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab kematian ikan. Menurut Endon, ikan yang terdampak terlihat lemah, kemerahan, dan sebagian tampak berjamur. Penyebab pastinya masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.

Ia menjelaskan, penggunaan garam dan daun ketapang di aliran sungai dinilai kurang efektif karena bahan tersebut dapat terbawa arus. Dinas Perikanan menyarankan pengelola mengarantina ikan yang terdampak. Pengunjung juga diimbau untuk sementara tidak mandi di sungai maupun memberi makan ikan sampai kondisi dinilai aman dan membaik.

Kematian Ikan Masih Berlanjut, Warga Gelar Doa Bersama

Ketua Pemuda Lubuk Landur, Ardian Permana, menyebut kematian ikan masih terjadi hingga Minggu (25/10/2026).

“Masih kayak yang kemarin, Bang. Tiap hari dan tiap waktu masih ada yang mati,” ujarnya melalui pesan WhatsApp kepada Detiksatu.com.

Di tengah kondisi tersebut, Buya Lubuk Landur bersama jamaah dan warga menggelar doa bersama yang dikenal dengan sebutan gatik tagak di lokasi ikan larangan sekitar pukul 08.00 WIB, Minggu. Informasi tersebut dikonfirmasi Nurmas.

Warga setempat, Zikra Hidayat, berharap pemerintah daerah dan instansi terkait memberikan perhatian serius agar penyebab kematian ikan segera diketahui dan penanganan yang tepat dapat dilakukan. Menurutnya, ikan larangan merupakan bagian dari tradisi sekaligus daya tarik wisata religi Lubuk Landur.

Penyebab Kematian Ikan Masih Menunggu Hasil Laboratorium

Hingga Minggu (25/10/2026), penyebab pasti kematian ikan larangan Lubuk Landur belum diketahui. Hasil pengujian sampel air di laboratorium diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi kualitas air dan menjadi dasar penentuan langkah penanganan selanjutnya. (R.Habibi)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dinas Perikanan dan DLH Pasbar Investigasi Kematian Ikan Larangan Lubuk Landur, Sampel Air Diuji di Laboratorium

Trending Now