Lembata, NTT, detiksatu.com || Sejumlah guru Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) bersama siswa asal Desa Atawai melakukan aksi nyata dengan membersihkan rumput liar di sepanjang ruas jalan Atawai–Boto, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (24/1/2026).
Aksi pembersihan dilakukan di sepanjang jalan dari Kampung Atawuwur, Desa Atawai, menuju Kampung Boto. Rumput liar yang tumbuh di pinggir jalan selama ini dinilai mengganggu kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan, khususnya guru dan siswa yang setiap hari melintas menggunakan kendaraan roda dua maupun berjalan kaki.
Para guru yang terlibat dalam aksi tersebut merupakan tenaga pendidik asal Desa Atawai yang mengabdi di SD Inpres Labalimut Boto, SD Katolik Boto, dan SMP Negeri 2 Nagawutung. Sementara siswa yang ikut ambil bagian merupakan pelajar SMP Negeri 2 Nagawutung asal Atawai.
Selain dipenuhi rumput liar, kondisi jalan Atawai–Boto juga diketahui mengalami kerusakan cukup parah di sejumlah titik. Kondisi tersebut kerap menyulitkan aktivitas harian masyarakat, khususnya para pendidik dan peserta didik.
Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Nagawutung, Konrardus Soni Labaona, mengatakan aksi tersebut bertujuan untuk mengurangi hambatan saat melintas, terutama bagi anak-anak yang berdomisili di Kampung Atawuwur.
“Aksi nyata ini bertujuan agar tidak ada hambatan saat melintas, terkhusus bagi anak-anak yang berdomisili di Atawuwur yang berjalan kaki sekitar tiga kilometer lebih ke SMP Negeri 2 Nagawutung demi menimba ilmu,” ujar Konrardus Soni kepada detiksatu usai kegiatan tersebut.
Ia menjelaskan, pembersihan rumput liar dilakukan mulai dari Kali Rao hingga Kali Wai Paraj. Sementara rencana aksi lanjutan akan dilakukan dari Kali Wai Paraj menuju Kali Kideng Atawai. Adapun ruas jalan dari Kali Rao hingga Boto disebut relatif bebas dari rumput liar.
Meski demikian, Konrardus Soni yang juga merupakan guru mata pelajaran sejarah asal Kampung Atawuwur itu berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun partisipasi masyarakat untuk memperbaiki titik-titik jalan yang rusak parah secara swadaya dan gotong royong.
Konrardus Soni Labaona menyebutkan terdapat enam guru asal Atawai yang mengabdi di SMP Negeri 2 Nagawutung, dua guru di SD Katolik Boto, serta satu guru di SD Inpres Labalimut. Selain itu, belasan siswa asal Atawai juga menempuh pendidikan di SMP Negeri 2 Nagawutung.
Ia menambahkan, dengan dibersihkannya rumput liar dan diperbaikinya titik-titik rawan, diharapkan dapat memperlancar berbagai aktivitas masyarakat, termasuk pelayanan pastor paroki Boto, mobilitas umat saat perayaan misa keagamaan di Atawuwur-Boto, serta kegiatan sosial lainnya.
Lebih jauh, Konrardus Soni berharap pemerintah dapat memrioritaskan pengaspalan atau penghotmixan jalan Atawai–Boto. Pasalnya, Kampung Atawai dan Boto juga merupakan wilayah kantong produksi di Lereng Labalekan yang memiliki peran penting dalam perekonomian masyarakat.
“Perbaikan jalan ini sangat penting untuk mempermudah akses masyarakat ke Lewoleba dan Pasar Boto setiap hari Sabtu, keperluan adat, sosial, serta mendukung akses menuju lokasi wisata Air Terjun Lodovavo di Atawai dan Vai Kating di Boto,” pungkasnya.
Reporter: Emanuel Boli

