Jakarta, detiksatu.com || Sastrajendra Living Academy luncurkan Kidung SLA, mengajak dan membangun mental spiritual bangsa nusantara. Sastrajendra Living Academy (SLA) secara resmi meluncurkan Kidung SLA sebagai penanda komitmen lembaga tersebut dalam menghidupkan kembali nilai-nilai Adiluhung Nusantara yang bersumber dari falsafah hidup Jawa, untuk dijadikan fondasi pembangunan mental dan spiritual bangsa Indonesia.
Sastrajendra Living Academy mendapat perhatian dari berbagai kalangan pemerhati budaya, spiritualitas, serta pendidikan karakter.
Peluncuran Kidung SLA diprakarsai oleh sesepuh Sastrajendra Living Academy, Toni Junus Kanjeng NgGung, yang selama ini dikenal sebagai tokoh pelestari, pengkaji, dan pengamal ajaran falsafah Jawa dalam bingkai kebangsaan serta relevansinya dengan peradaban modern,
Kamis,(15/1/2026).
Menurutnya, bangsa Indonesia memerlukan penguatan kembali nilai-nilai dasar yang mampu membangun manusia seutuhnya bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara mental dan spiritual.
Dalam pemaparannya, Toni Junus menegaskan bahwa ajaran adiluhung Jawa yang terkandung dalam Sastrajendra bukanlah sekadar warisan budaya atau romantisme masa silam. Lebih dari itu, ajaran tersebut merupakan falsafah hidup universal yang relevan untuk menjawab tantangan zaman, terutama di tengah krisis moral, disorientasi nilai, dan kegersangan spiritual yang kerap menyertai kemajuan material.
“Yang kami warisi dan kami ajarkan bukanlah romantisme masa lalu. Ajaran Sastrajendra adalah falsafah hidup yang relevan untuk membangun manusia Nusantara yang bermental kuat, berjiwa luhur, dan berkesadaran spiritual tinggi dalam menghadapi tantangan peradaban baru,” ujar Toni Junus Kanjeng NgGung.
Ia menjelaskan bahwa ajaran Sastrajendra berpijak pada lima falsafah utama yang menjadi pilar pembentukan karakter, kesadaran diri, serta tanggung jawab manusia terhadap Tuhan, sesama, dan alam semesta. Kelima falsafah tersebut adalah:
1. Sangkan Paraning Dumadi, yakni pemahaman tentang asal-usul dan tujuan hidup manusia, agar manusia tidak tercerabut dari nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
2. Hurip iku Murub, hidup harus memberi cahaya, manfaat, dan kontribusi nyata bagi sesama serta lingkungan.
3. Eling lan Waspada, kesadaran diri yang disertai kewaspadaan moral, agar manusia tidak terjerumus pada keserakahan, angkara murka, dan penyalahgunaan kekuasaan.
4. Hamemayu Hayuning Bawana, kewajiban manusia untuk menjaga keharmonisan, keindahan, dan kelestarian dunia sebagai ruang hidup bersama.
5. Manunggaling Kawula Gusti, kesatuan antara hamba dan Sang Pencipta dalam laku spiritual yang dijalani dengan ketulusan, keikhlasan, dan tanggung jawab.
Menurut Toni Junus, kelima falsafah tersebut merupakan dasar-dasar penting pembangunan mental dan spiritual bangsa Nusantara. Nilai-nilai ini tidak bertentangan dengan kemajuan zaman, melainkan justru menjadi kompas moral agar kemajuan material dan teknologi tidak kehilangan arah dan makna.
Oleh karena itu, melalui Sastrajendra Living Academy, pihaknya mengajak masyarakat luas lintas generasi dan latar belakang untuk mendalami, menghayati, serta mengamalkan nilai-nilai Sastrajendra secara kontekstual dan aplikatif dalam kehidupan modern.
“Kami tidak mengajak bangsa ini kembali ke masa silam, tetapi justru melangkah memasuki peradaban baru dengan jati diri yang kuat. Bangsa besar adalah bangsa yang berakar kuat pada nilai-nilai luhurnya,” tegasnya.
Peluncuran Kidung Sastrajendra Living Academy menjadi simbol sekaligus medium penyadaran kolektif akan pentingnya keseimbangan antara kemajuan lahiriah dan kedalaman batin. Kidung ini dirangkai dalam bentuk syair yang sarat makna filosofis dan spiritual, mencerminkan semangat kebangkitan jiwa, kejernihan nurani, serta pengabdian tulus bagi bangsa dan negara.
Adapun Bait Kidung SLA Yang Diluncurkan Tersebut Berbunyi:
Bangkitlah jiwa, menuju jati diri,
Bersinar terang, memayu ayuning negri.
Sastrajendra jaya, cahya mranoto bongso,
Mental spiritual tansah tanpo angkoro.
Melangkah satu, nyawiji roso budi,
Tri-Wikromo suci suluhing laku pribadi.
Jayalah Akademi, nur pancer njogo doyo,
Untuk Indonesia mulia, rahayu saking karso.
Melalui Kidung ini, Sastrajendra Living Academy berharap dapat menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa pembangunan bangsa tidak semata-mata bertumpu pada aspek ekonomi, infrastruktur, dan teknologi, tetapi juga pada kekuatan karakter, keluhuran budi pekerti, serta kesadaran spiritual sebagai pondasi utama peradaban.
Sastrajendra Living Academy menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang pembelajaran, refleksi, dan laku hidup yang menuntun masyarakat Indonesia menuju peradaban yang beradab, berkeadilan, dan berkesadaran Nusantara sejalan dengan cita-cita Indonesia sebagai bangsa besar yang maju lahir batin.
Red–Ervinna

