KUDUS,DETIKSATU.COM – Kamis kelabu menyelimuti SMA Negeri 2 Kudus. Apa yang bermula sebagai jam pelajaran biasa, berakhir menjadi operasi penyelamatan massal yang mencekam. Raungan sirine dari puluhan ambulans yang membelah kemacetan Kota Kretek hari ini bukan sekadar simulasi, melainkan jeritan nyata dari ratusan siswa yang tumbang akibat "Makan Bergizi Gratis" (MBG).
Angka yang Mengerikan: Dari Puluhan Jadi Ratusan
Laporan awal yang menyebutkan puluhan siswa tumbang, kini terkoreksi tajam. Hingga Kamis sore, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mengonfirmasi 118 siswa harus dilarikan ke tujuh rumah sakit berbeda, termasuk RSUD dr. Loekmono Hadi, RS Mardi Rahayu, dan RS Sarkies Aisyiyah.
Namun, angka "118" hanyalah puncak gunung es. Pihak sekolah memperkirakan total siswa yang mengalami gejala—mulai dari mual, pusing, hingga diare hebat—mencapai 600 orang. Bahkan, sejumlah guru yang turut menyantap hidangan tersebut dilaporkan ikut menjadi korban.
Jejak "Soto Basi" di Meja Makan
Petaka ini diduga kuat berasal dari menu MBG yang dibagikan sehari sebelumnya, Rabu (28/1). Paket makan siang berisi nasi, soto ayam suwir, tempe, dan taoge yang seharusnya menjadi asupan gizi, justru berubah menjadi racun.
"Ayamnya asem, Mas. Baunya aneh, kayak sudah basi," ungkap salah satu siswa yang kini terbaring lemas dengan jarum infus di tangan.
Pengakuan ini menjadi tamparan keras bagi penyedia layanan. SPPG Purwosari, vendor yang bertanggung jawab atas ribuan porsi makanan di 13 sekolah di Kudus, akhirnya buka suara.
Kepala SPPG Purwosari, Nasihul Umam, secara terbuka menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan siap bertanggung jawab penuh atas biaya pengobatan seluruh korban.
Drama Evakuasi: Ambulans "Kepater" & Solidaritas Tanpa Batas
Di lapangan SMA 2 Kudus, situasi sempat berubah chaotic. Video amatir yang beredar memperlihatkan momen dramatis ketika salah satu unit ambulans yang hendak bermanuver justru terjebak (kepater) dalam lumpur lapangan yang becek.
Di tengah kepanikan teman-teman mereka yang pingsan dan muntah-muntah, puluhan siswa laki-laki.
Pihak keluarga Minta pertanggung jawaban kepada pemilik MBG dan pemerintah.

