Kota Bekasi, detiksatu.com || Peresmian Trans Bekasi Keren (Trans Beken), diwarnai aksi penolakan ratusan supir Angkot (Angkutan Kota). Puluhan angkutan umum berjajar di depan Plaza Patriot Candrabhaga, membuat jalur terganggu dan macet pada Selasa siang (10/2/2026).
Dari pantauan Detiksatu.com beberapa supir Angkot memberhentikan sesama profesi untuk melakukan aksi sebagai bentuk solidaritas.
Aksi demonstrasi tersebut memunculkan sejumlah spanduk bertuliskan ‘Kami menolak adanya Trans Bekasi Beken, kami lelah dengan janji-janji’. Ada pula tulisan “Tidak ada koordinasi dengan Organda. Dishub Kota Bekasi arogan. Tolak Kapitalis dalam dunia Angkot’.
Supir angkot K-11, Sitompul (53), mengeluhkan kondisi yang dihadapi para pengemudi angkutan umum. Ia menyebut, kehadiran Trans Beken yang beroperasi gratis di trayek yang sama dengan angkot.
“Saya K-11, yang sudah dimasuki BTS (Trans Beken), dan dia mengatakan gratis sampai dua tahun. Dalam satu trayek ada dua institusi. Yang satu berbayar, yang satu tidak berbayar. Bagaimana pemerintah ini untuk rakyatnya?” ujar Sitompul.
Sitompul yang telah menjadi supir angkot selama 25 tahun, mengaku setoran harian mencapai Rp120.000. Namun, pendapatan untuk dibawa pulang kini semakin sulit didapat.
“Kadang-kadang setoran tidak dapat. Bagaimana kita mau kasih anak istri makan di rumah?” keluh Sitompul yang tinggal di Rawalumbu.
Ia mempertanyakan keadilan pemerintah, yang dinilai tidak memperhatikan nasib para supir angkot. Sitompul menyinggung konstitusi yang menyebutkan fakir miskin dan orang tua jompo dipelihara negara, sementara para supir angkot yang masih memiliki modal dan tenaga justru diabaikan.
“Konstitusi bilang orang miskin, melarat, jompo dipelihara negara. Kami ini siapa? Kami tidak minta-minta, masih ada modal tenaga dan kekuatan. Tapi kok kenapa main hajar begitu saja,” kata Sitompul.
Sitompul mengaku, tidak pernah ada koordinasi atau mediasi langsung dengan para supir sebelum Trans Beken beroperasi. Ia menilai, pemerintah seharusnya memberikan solusi seperti kredit lunak untuk meremajakan angkot, bukan langsung memasukkan operator baru.
“Kalau ada koordinasi, hal seperti ini tidak akan terjadi. Coba kumpul pengusaha dan supir, bagaimana solusinya. Jangan tiba-tiba masukkan trayek lain. Yang lama ini mau dikemanakan?” tanya Sitompul.
Kekecewaan Sitompul terhadap pemerintah, membuatnya enggan menggunakan hak pilih dalam pemilu.
“Saya sudah tidak mau memilih, karena negara ini sudah carut-marut. Pemerintahan sudah carut-marut kalau begini caranya,” tegasnya.
Sementara itu, supir angkot K-25, Inay (31), menyampaikan bahwa sebenarnya para supir tidak menolak kehadiran Trans Beken. Namun, mereka menginginkan persaingan yang adil dengan sistem berbayar untuk semua moda transportasi.
“Sebenarnya kita tidak langsung nolak program pemerintah. Bis Kita bagus, nyaman, rapi. Tapi gimana sebagai supir? Karena sebelum ada dia, penghasilan kami cukup buat ngajari anak, kebutuhan rumah,” papar Inay.
Inay menjelaskan, pendapatan para supir angkot anjlok drastis, sejak kehadiran Bis Kita dua tahun lalu, dan kini semakin terpukul dengan hadirnya Trans Beken yang beroperasi gratis.
“Pendapatan tadinya 100 persen, sekarang paling 20 persen. Habis setoran, bensin, paling buat makan. Tidak bisa lagi ngumpulin uang atau ajak keluarga jalan seminggu sekali,” keluh Inay.
Berbeda dengan transportasi online yang dinilai tidak terlalu berdampak, kehadiran Trans Beken sangat terasa karena beroperasi di trayek yang sama.
“Dengan online kita masih stabil, narik di mal, di BCP. Sekarang sebelumnya tidak ada lagi sejak ada Bis Kita,” pungkasnya.
(Evan/detiksatu.com)

