Semarang,detiksatu.com || Namanya mungkin tak sering tampil di layar televisi nasional. Namun di panggung dunia, ia berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh perubahan global. Dialah Ir.Tri Mumpuni Wijatno, perempuan tangguh asal Semarang yang berhasil menerangi desa-desa terpencil tanpa bergantung pada jaringan listrik PLN.
Di saat banyak wilayah pelosok masih bergelut dengan gelap gulita, Tri Mumpuni hadir membawa cahaya—secara harfiah dan maknawi.
Pujian Langsung dari Presiden Amerika Serikat
Pada tahun 2010, dunia menoleh kepadanya. Dalam ajang Presidential Summit on Entrepreneurship di Washington DC, Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama, secara khusus menyebut nama Tri Mumpuni di hadapan para pemimpin dunia.
Obama memuji kiprahnya sebagai wirausahawati sosial yang tidak hanya menghadirkan listrik, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi desa melalui energi terbarukan.
Sebuah pengakuan internasional atas kerja sunyi yang dilakukan jauh dari sorotan kamera.
Malaikat Terang” dari Mikrohidro
Lahir pada 6 Agustus 1964, Tri Mumpuni memulai perjuangannya dari keprihatinan sederhana: banyak desa memiliki sumber air melimpah, tetapi warganya hidup dalam kegelapan saat malam tiba.
Bersama sang suami, ia mendirikan IBEKA (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan). Melalui lembaga ini, ia membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di berbagai pelosok negeri.
Namun perjuangannya jauh dari kata mudah.
*Tri Mumpuni dikenal rela:*
🚶♀️ Berjalan kaki hingga 9 jam menembus hutan demi mencapai desa terisolasi.
Tinggal berhari-hari bersama warga untuk mengajari cara merawat mesin.
Menolak masuk ke partai politik demi menjaga independensi perjuangannya.
Baginya, energi bukan sekadar proyek. Energi adalah jalan pemberdayaan.
Lebih dari Sekadar Menyalakan Lampu
Bagi Tri Mumpuni, listrik bukan tujuan akhir. Itu hanyalah pintu masuk.
Dengan listrik swadaya desa:
Anak-anak bisa belajar pada malam hari.
Warga membuka usaha kecil dan meningkatkan pendapatan.
Desa menjadi lebih mandiri dan berdaya secara ekonomi.
Hingga kini, lebih dari 65 lokasi terpencil dari Sabang sampai Merauke telah merasakan manfaatnya. Bahkan, model mikrohidro yang dikembangkannya telah membantu negara-negara Afrika seperti Kenya dan Rwanda.
Dari desa ke dunia.
Kesederhanaan di Tengah Penghargaan Dunia
Tri Mumpuni telah menerima berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Ashden Awards, serta masuk dalam daftar 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia.
Namun ia tetap hidup bersahaja.
Ia pernah menyampaikan refleksi tajam: bahwa membeli barang mewah secara berlebihan bisa menjadi “dosa sosial” ketika masih banyak saudara kita hidup dalam kegelapan dan kelaparan.
Sebuah kalimat yang bukan sekadar kritik, melainkan ajakan untuk lebih peka terhadap ketimpangan.
Lentera dari Semarang
Kisah Tri Mumpuni mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari jabatan tinggi atau kekuasaan politik. Kadang, ia lahir dari hati yang gelisah melihat ketidakadilan—lalu memilih bergerak.
Satu perempuan.
Satu tekad.
Ribuan desa tersinari.
Indonesia patut bangga memiliki Srikandi energi yang membuktikan bahwa cahaya bisa lahir dari keberanian untuk peduli.

