Menjaga Vokasi dari Ujung Lunyuk

Redaksi
Februari 07, 2026 | Februari 07, 2026 WIB Last Updated 2026-02-07T11:29:43Z
SMKN 1 Lunyuk Bertahan di Tengah Keterbatasan dan Perubahan Zaman

Sumbawa — Jum'at (06/02/2026) di bengkel praktik SMKN 1 Lunyuk, suara mesin sepeda motor berpadu dengan diskusi siswa tentang kerusakan injektor. Tak jauh dari sana, di lahan praktik pertanian, tangan-tangan remaja menata bibit hortikultura. Di sudut lain, alat ukur geologi disentuhkan ke tanah, melatih ketelitian sejak dini. Di sekolah yang berdiri jauh dari pusat kota ini, pendidikan vokasi dijalankan dengan cara paling mendasar: bekerja, belajar, dan bertahan.
SMKN 1 Lunyuk, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, bukan sekolah dengan fasilitas serba mutakhir. Jarak geografis, jumlah siswa yang menyusut, keterbatasan anggaran, hingga kekurangan guru produktif menjadi realitas sehari-hari. Namun sekolah negeri di ujung Kecamatan Lunyuk ini tetap memegang satu tujuan: memastikan siswa tidak sekadar lulus, tetapi memiliki bekal untuk masuk dan bertahan di dunia kerja.

Kepala SMKN 1 Lunyuk, Sumartono, ST., M.Eng., menuturkan bahwa perjalanan sekolah ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kompetensi keahlian Geologi Pertambangan yang dirintis sejak awal 2000-an. Saat itu, bengkel dan ruang praktik dibangun, serta guru-guru didatangkan dari luar daerah.

“Persoalan utama bukan hanya fasilitas, tetapi keberlanjutan sumber daya manusia. Guru produktif dari luar daerah sering kembali ke daerah asal, sehingga kompetensi keahlian kehilangan pengajar inti,” tuturnya.

Sekolah sempat menerima empat paket Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pengembangan sarana. Namun tantangan berikutnya justru datang dari sisi penerimaan peserta didik. Lokasi SMA yang lebih dekat dengan permukiman padat membuat SMK kurang diminati. Jumlah siswa menurun, sementara sekolah swasta tumbuh.

Dalam kondisi tersebut, SMKN 1 Lunyuk memprioritaskan peningkatan kapasitas guru yang ada melalui bimbingan teknis. Kekurangan guru produktif menjadi persoalan krusial. Regulasi membatasi pengangkatan honorer baru, sementara usulan penambahan guru ke dinas sering terkendala anggaran.

“Kami juga tidak mungkin membebankan biaya ke orang tua. Itu rawan persoalan dan pengawasan publik,” ujarnya.

Penentuan program keahlian di SMKN 1 Lunyuk disesuaikan dengan karakter wilayah yang berbasis agro serta sektor pendukung pertambangan. Kompetensi pertanian tetap dipertahankan, meski peminatnya terus menurun. Di beberapa jurusan, jumlah siswa hanya berkisar 10 hingga 15 orang per angkatan.

Jurusan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM) serta Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) masih relatif stabil. Sementara itu, kompetensi Geologi Pertambangan dihentikan sementara.

“Kami tidak berani menerima siswa jika tidak ada guru yang benar-benar linier. Di SMK, ketidaksesuaian guru produktif akan langsung berdampak pada kualitas pembelajaran,” paparnya.

Meski demikian, lulusan sekolah ini tetap menemukan jalannya. Sejumlah alumni terserap di sektor pertambangan dan pertanian. Ada lulusan Alat dan Mesin Pertanian yang direkrut PT Kubota sebagai mekanik berlisensi dan kini aktif melayani perbaikan alat pertanian masyarakat Lunyuk.

Namun faktor budaya turut memengaruhi. Banyak siswa dan orang tua enggan bekerja ke luar daerah karena harus meninggalkan lahan pertanian keluarga.

“Mobilitas lulusan kami memang terbatas oleh kondisi sosial dan budaya setempat,” terangnya.

Untuk menutup berbagai keterbatasan, SMKN 1 Lunyuk membangun jejaring kemitraan. Di tingkat lokal, sekolah bekerja sama dengan pemerintah kecamatan, Pos Kesehatan Hewan (Poskeswan), unit peternakan, serta balai benih. Di sektor industri, kemitraan dijalin dengan PT Agro Lestari di Mataram, bengkel resmi Astra Honda, Yamaha, Tugumas, serta bengkel-bengkel lokal.

Sekitar sepertiga siswa mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) di industri mitra. Beberapa pelaku industri juga datang langsung ke sekolah untuk berbagi pengalaman kerja. Guru pun pernah ditugaskan magang agar terjadi transfer pengetahuan, meski tidak semua industri bersedia.

“Kami memahami industri juga memiliki target produktivitas. Tapi sejauh ini kemitraan tetap kami jaga,” ungkapnya.

Tantangan paling krusial, menurut Sumartono, tetap pada anggaran dan sumber daya manusia. Dana BOS sekitar Rp1,6 juta per siswa per tahun dinilai belum sebanding dengan kebutuhan SMK yang sarat praktik, uji kompetensi, dan PKL—terlebih dengan jumlah siswa yang terbatas.

Biaya sertifikasi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dapat mencapai Rp250 hingga Rp300 ribu per siswa. Jika dipaksakan, anggaran sekolah akan habis hanya untuk uji kompetensi.
“Kami sering memilih skema uji kompetensi mandiri, meskipun sertifikasinya terbatas,” katanya.

Di sisi lain, kesejahteraan guru tidak tetap dan pegawai tidak tetap masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya teratasi.

Untuk menjembatani pembelajaran di kelas dengan kebutuhan lapangan kerja, sekolah memilih pendekatan adaptif. Siswa pertanian dibekali keterampilan tambahan seperti pengelasan. Anak-anak Alat dan Mesin Pertanian rata-rata mampu mengelas dan membuat pagar—bekal bertahan jika harus mandiri.

Magang industri dinilai memberi dampak besar pada pembentukan karakter. Siswa pulang dengan disiplin kerja, etos, serta kesadaran keselamatan yang lebih kuat. “Nilai-nilai itu biasanya menular ke adik kelas,” tambahnya.

Indikator keberhasilan, bagi Sumartono, tidak semata diukur dari sertifikat. Sekitar 70 persen lulusan SMKN 1 Lunyuk memilih berwirausaha di sektor pertanian dan jasa teknik. Sisanya melanjutkan pendidikan atau bekerja di perusahaan seperti PT Aman Mineral dan PT Kubota.

Sumartono menilai dukungan pemerintah cukup terasa pada penyediaan sarana, namun belum pada pemenuhan guru kompeten. Ia menyoroti kebijakan mutasi guru yang dinilai terlalu mudah, sehingga mengganggu kesinambungan program keahlian.

Ia juga berharap peran Balai Latihan Kerja (BLK) diperkuat melalui APBD untuk membantu sertifikasi lulusan SMK—beban yang terlalu berat jika sepenuhnya ditanggung sekolah.

Lima tahun ke depan, ia berharap SMKN 1 Lunyuk mampu berjalan seiring perubahan sektor tambang dan agro, tanpa kehilangan nilai sosial dan lingkungan. “Prinsip yang kami tanamkan sederhana: membangun tanpa merusak,” pungkasnya.

Di ujung Kecamatan Lunyuk, SMKN 1 Lunyuk bertahan dengan cara yang sunyi. Tanpa gemerlap, tanpa sorotan. Sekolah ini terus berjalan, sembari menunggu keberpihakan kebijakan—agar pendidikan vokasi di daerah tidak sekadar bertahan, tetapi benar-benar tumbuh. (bgs)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menjaga Vokasi dari Ujung Lunyuk

Trending Now