Opini: Tarian Adat Orang Lewuhala Di Ambang Degradasi Nilai?

Redaksi
Februari 11, 2026 | Februari 11, 2026 WIB Last Updated 2026-02-11T13:12:13Z



Foto: Yono Langotukan (ist.)

 “Silahkan berekspresi tetapi jangan mengangkangi nilai, dan silahkan belajar tetapi tetap menjaga agar tidak menggeser nilai itu sendiri”.

Lembatta, detiksatu.com || Lewuhala merupakan salah satu komunitas adat yang secara geografis terletak di wilayah administrasi Desa Jontona Kecamatan Ile Ape Timur Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sebagai salah satu komunitas adat terbesar di Kabupaten Lembata, Lewuhala tidak hanya dikenal karena memiliki permukiman atau kampung adat yang besar dan terdiri atas 80 lebih rumah adat, tetapi juga memiliki berbagai macam ritual adat, tarian adat, struktur pemerintahan adat yang kokoh, hingga hak atas tanah ulayat yang diperoleh melalui proses perang ("nuho") di masa lalu (Payong, 2014). 

Eksistensi ini mempertegas bahwa Lewuhala adalah salah satu komunitas masyarakat adat yang masih mempertahankan adat dan tradisinya yang diwarisi oleh nenek moyang sejak zaman dahulu kala hingga saat ini ("helu ama tau opo gena").

Dari berbagai ragam tradisi yang masih dipertahankan hingga saat ini, tarian adat ("soka") adalah salah satu warisan budaya yang bukan saja dimaknai dari sudut pandang gerak tubuh semata, namun makna filosofis dari setiap gerakan yang bercerita tentang kisah tertentu. 

Kisah-kisah yang dimaksud adalah misalnya kisah tentang para ksatria perang di masa lalu, kisah perempuan dalam peranannya di era perang masa lalu, hingga kisah aktivitas dan keseharian hidup masyarakat adat Lewuhala baik laki-laki (amalake) maupun perempuan ("inawae") yang sarat akan makna dan nilai yang sangat tinggi.

Realitas

Makna yang tersirat dalam setiap jenis tarian adat orang Lewuhala ini, ternyata tidak pernah luput dari berbagai persoalan yang bisa dilihat hari ini. Sejarah panjang perjalanan adat dan tradisi orang Lewuhala, yang sekali pun melewati sekian banyak generasi peradaban, namun tidak bisa dipungkiri bahwa modernisme tetap membawa ancaman serius bagi eksistensi tarian sebagai salah satu kearifan lokal yang mesti tetap harus dipertahankan.

Arus modernisme dan perubahan zaman yang terus bergerak cepat, ternyata membawa pengaruh yang cukup serius bagi keberadaan tarian adat orang Lewuhala. Hal ini terlihat jelas ketika model gerak tarian yang tidak lagi berkarakter khas Lewuhala, tetapi bergeser ke model yang dianggap lebih modis dan “katanya” berkarakter kekinian. 

Kondisi ini tetap dipandang sebagai masalah yang serius apabila karakter musik, busana, hingga motif pakaian adat yang masih mencerminkan karakter adat Lewuhala, tetapi menampilkan gerakan-gerakan yang jauh dari karakter Lewuhala yang sarat akan makna filosifis dan historis. 

Jika mau jujur, maka fenomena ini dianggap sebagai pelecehan serius terhadap tarian adat Lewuhala yang kaya akan nilai dan maknanya, sebab model yang ditampilkan cenderung melenceng dari karakteristik Lewuhala itu sendiri.

Salah satu pergeseran makna yang bisa dilihat hari ini adalah ketika pementasan tarian dalam rangka penjemputan Gubernur Nusa Tenggara Timur di Kabupaten Lembata beberapa hari yang lalu. Bagi Gubernur sebagai pemangku kebijakan di Provinsi NTT yang bukan berasal dari Lembata, khususnya dari komunitas masyarakat adat Lewuhala, tentu beliau tidak mempersoalkan apa-apa. 

Namun, satu hal yang pasti diungkapkan adalah apresiasi terhadap anak-anak muda Lembata yang sedang berkreasi. Akan tetapi, bagi orang Lewuhala, apalagi dari unsur pembesar kampung ("Bele Raya"), pemangku adat ("Molan") maupun para pemerhati budaya Lewuhala, potret ini menunjukkan adanya pergeseran yang cukup serius dari nilai dan kesakralan tarian adat orang Lewuhala yang sangat dijunjung tinggi.

Pergeseran yang dimaknai sebagai pelecehan ini, bukan serta merta lahir sebagai reaksi emosional sesaat semata, tetapi berangkat dari refleksi mendalam bahwa akankah tarian adat orang Lewuhala akan menatap masa depannya dengan penuh optimisme? 

Atau sebaliknya berdiam diri dan membiarkan tarian adat sebagai bagian yang tak terpisahkan dari seluruh tatanan tradisi orang Lewuhala untuk terus mengalami degradasi nilai yang sulit dibendung? 

Lewuhala sebagai sebuah peradaban, bukanlah sebuah kertas kosong yang bisa diisi sesuka hati oleh penulisnya, akan tetapi memiliki warisan adat dan tradisi turun-temurun yang sangat kompleks dan harus tetap dipertahankan selamanya.

Solusi

Kreativitas dalam kelompok-kelompok seni atau sanggar tari di Kabupaten Lembata tetap dianggap sebagai salah satu unsur penting dalam upaya membantu masyarakat adat di Lembata pada umumnya, dan Lewuhala pada khususnya untuk menjaga dan merawat kekayaan tradisi berupa tarian. 

Akan tetapi, bukan berarti bahwa kepercayaan ini harus direspon dengan semangat berkreasi yang cenderung tidak terkendali, sporadis/tanpa arah. 

Hal ini disebabkan oleh setiap tarian khususnya tarian adat orang Lewuhala yang ternyata memiliki nilai filosofis dan historis yang tidak bisa serta merta dirubah seenaknya.

Apalagi jika karakter musik tradisional ("Bawa Go"), karakter pakaian adat ("nulu") adalah benar-benar mencerminkan ciri khas orang Lewuhala, maka sudah seharusnya dibarengi oleh gerak tari yang khas orang milik Lewuhala. 

Kreativitas itu penting bagi kelompok atau sanggar seni manapun, akan tetapi mesti harus diingat bahwa kreatifitas dalam kelompok seni seharusnya mengedepankan etika seni agar tidak melukai pihak mana pun, apalagi pihak yang disebut sebagai komunitas masyarakat adat yang sangat menjaga adat dan tradisinya sebagaimana yang dilakukan oleh komunitas masyarakat adat Lewuhala.

Penulis :  Yono Langotukan generasi muda Lewuhala, peneliti yang konsen terhadap segala hal yang berkaitan dengan Kampung Adat Lewuhala.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Opini: Tarian Adat Orang Lewuhala Di Ambang Degradasi Nilai?

Trending Now