Presiden Prabowo Gelar Dialog dengan Ulama, Bahas Isu Kebijakan Strategis Nasional dan Global

Redaksi
Februari 03, 2026 | Februari 03, 2026 WIB Last Updated 2026-02-03T09:12:32Z
Jakarta, detiksatu.com || Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa pertemuan antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dengan sejumlah ulama dan pimpinan organisasi masyarakat (ormas) Islam bertujuan untuk membangun komunikasi dua arah yang saling memberi masukan terkait berbagai informasi aktual, baik yang berkembang di dalam negeri maupun di tingkat global.

Menurut Menag, Presiden Prabowo dalam pertemuan tersebut tidak hanya menyampaikan pandangan serta kebijakan strategis pemerintah, tetapi juga membuka ruang dialog yang luas bagi para ulama untuk memberikan pandangan, saran, dan aspirasi umat kepada kepala negara.
“Jadi Bapak Presiden akan bersilaturahim. Mungkin Bapak Presiden akan memberikan informasi-informasi yang aktual kepada para ulama kita. Tapi pada sisi yang terbalik juga mungkin ulama-ulama kita akan memberikan masukan kepada Presiden sebagai umara,” ujar Nasaruddin Umar kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.  

Pernyataan tersebut disampaikan Menag di sela-sela agenda Presiden Prabowo Subianto yang memanggil sejumlah pimpinan ormas Islam, tokoh ulama, serta pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah di Indonesia. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat sinergi antara umara dan ulama dalam menjaga stabilitas nasional, persatuan umat, serta arah pembangunan bangsa.

Menag menjelaskan bahwa komunikasi yang terjalin dalam pertemuan tersebut bersifat terbuka dan dialogis. Presiden, sebagai pemimpin negara, tidak hanya menyampaikan informasi terkait kebijakan dalam negeri dan isu-isu global, tetapi juga secara aktif mendengarkan masukan langsung dari para tokoh agama dan perwakilan ormas Islam.

Ia menegaskan bahwa pertemuan antara Presiden dan ormas-ormas Islam bukanlah hal baru. Dalam beberapa bulan terakhir, Presiden Prabowo telah beberapa kali mengundang para pimpinan ormas Islam untuk berdiskusi dalam suasana yang hangat dan penuh keterbukaan.
“Beberapa bulan yang lalu Bapak Presiden juga mengundang ormas-ormas Islam untuk datang. Itu hangat, bahkan sampai lama ya, lama sekali (pertemuannya),” kata Nasaruddin yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.

Salah satu isu penting yang turut dibahas dalam pertemuan tersebut adalah keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace. Menurut Menag, meskipun Presiden telah menyampaikan penjelasan kepada publik terkait peran Indonesia dalam upaya perdamaian dunia, dialog langsung dengan ulama tetap memiliki arti strategis.

Ia menilai keterlibatan ulama dalam memahami dan memberikan masukan terkait kebijakan luar negeri, khususnya yang berkaitan dengan perdamaian global, sangat penting mengingat peran moral dan sosial yang dimiliki para tokoh agama di tengah masyarakat.

Menag berharap tradisi pertemuan rutin antara ulama dan umara dapat terus dijaga dan ditingkatkan. Menurutnya, pola komunikasi semacam ini memberikan kontribusi positif bagi pembangunan nasional sekaligus memperkuat fondasi kebangsaan di tengah dinamika global yang terus berkembang.
“Dan ulama kita juga puas karena bisa berkomunikasi, mendengarkan langsung dari tangan pertama. Sangat terbuka, Insya Allah,” ujarnya.

Nasaruddin menilai pertemuan tersebut sebagai langkah yang sangat positif karena menunjukkan keterbukaan pemerintah dalam mendengar aspirasi umat. Selain itu, dialog semacam ini juga mempertegas komitmen Indonesia untuk terus berperan aktif dalam mendorong terciptanya perdamaian dunia melalui pendekatan diplomasi dan nilai-nilai keagamaan.

Sebelumnya, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengundang perwakilan organisasi masyarakat Islam, pimpinan pondok pesantren, serta tokoh-tokoh Islam dari berbagai latar belakang ke Istana Kepresidenan RI, Jakarta.

Teddy menjelaskan bahwa jumlah undangan yang hadir dalam pertemuan tersebut berkisar antara 40 hingga 50 orang. Mereka berasal dari berbagai organisasi Islam besar di Indonesia serta tokoh-tokoh pesantren yang memiliki pengaruh luas di masyarakat.
“Hampir semua organisasi muslim seperti PBNU, Muhammadiyah, MUI, ada Persis, Syarikat Islam, kemudian tokoh ponpes-ponpes dari Jawa Timur, dan lain sebagainya. Nanti jumlahnya sekitar 40–50 orang. Diskusi tentang kondisi dalam negeri dan isu luar negeri,” kata Teddy saat ditemui wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan RI, Jakarta.

Pertemuan tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah dan umat Islam dalam menjaga persatuan nasional, menghadapi tantangan global, serta mendorong terciptanya kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis, damai, dan berkeadilan.

Red-Ervinna
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Presiden Prabowo Gelar Dialog dengan Ulama, Bahas Isu Kebijakan Strategis Nasional dan Global

Trending Now