Gayo Lues, detiksatu.com || Semangat gotong royong kembali menyala di tepian sungai Desa Gumpang Lempuh, Kecamatan Putri Betung. Pada Minggu (08/02/2026), personel Babinsa Koramil 09/Putri Betung bersama personel BKO Batalyon TP 855/Raksaka Dharma dan masyarakat setempat bahu-membahu melangsir material semen guna mempercepat pembangunan kembali jembatan gantung yang terputus akibat bencana banjir bandang beberapa waktu lalu. Derasnya arus sungai tak menjadi alasan untuk berhenti.
Proses distribusi material dilakukan secara manual menggunakan sistem katrol tradisional. Satu per satu sak semen diseberangkan melintasi aliran sungai menuju titik pengecoran pondasi jembatan, sebuah kerja fisik yang menuntut ketahanan, koordinasi, dan semangat kolektif.
Putusnya jembatan gantung tersebut bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi juga menjadi pukulan serius bagi kehidupan ekonomi warga. Sejak akses terputus, lahan perkebunan warga tidak dapat dijangkau, mengakibatkan banyak kebun terbengkalai dan hasil panen gagal didistribusikan ke pasar.
Kegiatan gotong royong ini bertujuan mempercepat proses pengecoran pondasi jembatan agar akses transportasi warga menuju area perkebunan dapat segera pulih. Langkah ini menjadi bagian nyata pengabdian TNI dalam membantu mengatasi kesulitan masyarakat di wilayah teritorialnya, sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi desa.
Dengan selesainya pembangunan jembatan gantung tersebut, diharapkan:
Warga dapat kembali mengolah lahan perkebunan secara normal.
Distribusi hasil panen kembali lancar sehingga roda ekonomi desa bergerak kembali. Terbangun hubungan emosional dan kerja sama yang semakin kuat antara prajurit TNI dan masyarakat.
Batituud Koramil 09/Putri Betung, Peltu Khalidin, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kemanunggalan TNI dan rakyat.
“Kami hadir bukan hanya sebagai aparat, tapi sebagai bagian dari masyarakat. Ketika warga kesulitan, TNI wajib berdiri di depan untuk membantu. Pembangunan jembatan ini bukan sekadar proyek fisik, tapi jembatan kehidupan bagi ekonomi warga,” tegasnya.
Salah seorang warga Desa Gumpang Lempuh turut mengungkapkan rasa harunya.
“Selama jembatan ini putus, kebun kami seperti hutan karena tidak bisa didatangi. Dengan gotong royong ini, harapan kami untuk kembali memanen kopi dan hasil kebun lainnya tumbuh lagi. Tanpa bantuan TNI, kami akan sangat kesulitan melangsir semen lewat sungai yang deras ini,” ujarnya.
Sinergi ini membuktikan satu hal sederhana tapi sakral: ketika TNI dan rakyat bergerak bersama, hambatan alam bukan alasan untuk menyerah. Jembatan boleh runtuh, tapi harapan tidak pernah boleh roboh.
Gotong royong adalah strategi lama, tapi selalu relevan. Tradisi kuat, dampaknya futuristik. Ini bukan sekadar pembangunan jembatan—ini pembangunan masa depan desa.
(Reporter Kang Juna)

