Wiosan Setu-Paingan di Depok, Hidupkan Tradisi Jawa Sebagai Ruang Olah Batin dan Penyembuhan

Redaksi
Februari 08, 2026 | Februari 08, 2026 WIB Last Updated 2026-02-08T08:36:52Z
Depok, detiksatu.com || Ruang temu batin penyelarasan rasa dan laku penyembuhan dalam tradisi Jawa. Depok Wiosan Setu Paingan kembali dilaksanakan di kawasan Pitara, Pancoran Mas, tepatnya di Jalan Wadas 7A, Depok Baru pada 14 Pebruari, terbuka untuk umum, yang butuh penyembuhan fisik maupun psikis, akan dilayani oleh sesepuh Sastrajendra Living Academy, Toni Junus Kanjeng Gung, bersama rekan-rekannya Satriyono, Titin Heryani dan mbah Trisno.

Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan batin yang sarat makna, diselenggarakan mengikuti irama penanggalan Jawa, ketika hari Setu (Sabtu) bertemu dengan pasaran Paing sebuah momentum yang dalam tradisi Jawa dipahami sebagai waktu peka, waspada, sekaligus terbuka bagi pengolahan rasa, raga, dan pikir.

Dalam khazanah spiritual Jawa, Setu-Paingan dikenal sebagai wektu linuwih, saat yang baik untuk ngresiki batin, nyawiji rasa, serta nyelaraské urip. Atas dasar pemahaman tersebut, Wiosan Setu-Paingan dihadirkan bukan sebagai peristiwa seremonial semata, melainkan sebagai laku eling lan waspada, yakni sebuah praktik kesadaran untuk menepi sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, memasuki keheningan, dan menyelaraskan diri dengan getaran semesta.
Wiosan ini terbuka, peserta diajak untuk ikut Rangkaian Laku Wiosan.

Dalam pelaksanaannya, Wiosan Setu-Paingan memuat beberapa tahapan laku batin yang saling terhubung dan bermakna:

1.  Ngresiki diri melalui pageni/jamasan, sebagai simbol pelepasan beban lama, kotoran batin, serta energi yang tidak lagi selaras dengan perjalanan hidup.
2.  Nyawiji, yakni meditasi bersama untuk menata ulang napas, rasa, dan kesadaran, agar kembali berada pada imbangan yang jernih.
3.  Ngluhuraké panyuwunan, melalui doa dan healing, sebagai wujud sumarah dan pasrah kepada Karsa Gusti.
Menurut Toni Junus Kanjeng Gung wiosan Setu-Paingan tidak dimaksudkan sebagai ritual eksklusif. Sebaliknya, menjadi ruang kebersamaan yang inklusif, tempat setiap jiwa diterima apa adanya. Dalam pandangan Sastrajendra, penyembuhan sejati justru lahir ketika manusia berani memberi ruang pada rasa, berani hening, dan kembali menyadari cahaya yang sejatinya telah bersemayam di dalam diri.
Doa, Izin Semesta, dan Sedulur Papat

Sebagai bagian dari laku spiritual, pelaksanaan Wiosan diawali dengan permohonan izin kepada jagat cilik dan jagat gede, agar seluruh rangkaian berjalan dalam ketenteraman, dinaungi kejernihan, serta disucikan oleh kehendak Ilahi.

Kemudian dilakukan Pembacaan Mantra Sedulur Papat. Yaitu pemanggilan Sedulur Papat yang dimaknai sebagai upaya menyelaraskan unsur-unsur pengiring kelahiran manusia agar kembali harmonis dalam perjalanan hidup.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan Pageni/Jamasan Bersama, yang terbuka untuk umum, khususnya bagi peserta yang ingin mengikuti.
Sesaji Barikan: Simbol Syukur dan Ruwatan

Wiosan Setu-Paingan juga dilengkapi dengan Sesaji Barikan, sebagaimana wisik yang diterima oleh Sesepuh Sastrajendra Living Academy.

Adapun sesaji yang disiapkan meliputi:
1.  Ampyang Kambil
Ampyang kambil berwarna merah sebanyak 21 biji (selikuran). Dan ampyang kambil berwarna putih sebanyak 21 biji (selikuran).
Keduanya ditata dalam satu tampah.
Angka 21 dimaknai sebagai ambang kesempurnaan bukan tujuan akhir, melainkan fase peralihan: dari ruwet menuju runtut, dari peteng menuju padhang.

Dalam hitungan Jawa, angka 2 (loro) melambangkan dualitas lahir dan batin, raga dan sukma sementara angka 1 (siji) melambangkan tunggal, manunggal, dan asal mula.

2.  Bubur Sengkala
Bubur yang diwarnai gula Jawa berwarna merah dan bubur yang diwarnai santan berwarna putih. Bubur ini berkaitan erat dengan weton (hari kelahiran Jawa). Dalam tradisi, bubur sengkala disajikan pada wiyosan, ruwatan, atau slametan sebagai simbol pembersihan serta harapan agar hal-hal buruk dapat dilepaskan, membuka lembaran hidup yang lebih baik.

3.  Teh Pahit dan Kopi Pahit
Disajikan dalam gelas, melambangkan penerimaan rasa kehidupan apa adanya tidak selalu manis, namun tetap perlu disyukuri.
Ajakan untuk Pulang
Wiosan Setu-Paingan menjadi ajakan halus untuk pulang. Pulang pada keseimbangan, pada keheningan, dan pada diri sejati. Melalui laku bersama ini, diharapkan setiap panyuwunan dipunrengkuh dening Karsa Gusti: yang sakit diberi kesembuhan, yang bingung diberi pitedah, dan seluruh sukma dipulihkan pada imbangan hidup yang semestinya.

Semoga dengan berlangsungnya Wiosan Setu-Paingan di Pitara, Pancoran Mas, Depok, tradisi Jawa kembali hidup sebagai jalan kearifan untuk merawat batin, menyelaraskan kehidupan, dan meneguhkan rasa kebersamaan di tengah masyarakat modern, begitu menurut Toni Junus Kanjeng Gung sesrpuh Sastrajendra Living Academy.

Monggo silahkan hadir.

Red-Ervinna
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Wiosan Setu-Paingan di Depok, Hidupkan Tradisi Jawa Sebagai Ruang Olah Batin dan Penyembuhan

Trending Now