Jakarta,detiksatu.com || Di tengah kehidupan bermasyarakat, sering kali kita menjumpai fenomena yang sangat umum: mata dan hati seseorang begitu cepat melihat kesalahan, kekurangan, atau kelalaian orang lain, namun sama sekali buta terhadap aib, cacat, dan kekurangan yang ada pada dirinya sendiri. Ada orang yang sangat pandai memberi nasihat, tegas menegur, dan rajin mengkritik perbuatan sesama, padahal dirinya sendiri belum menjalankan apa yang ia ucapkan.
Ungkapan bijak yang masyhur: "Jangan sibuk ngurus orang, perbaiki dulu dirimu", adalah pesan luhur yang menjadi inti ajaran akhlak Islam. Ini bukan berarti melarang saling mengingatkan atau menegur kebaikan, melainkan menegur urutan dan prioritas yang benar. Sebelum menuntut kebaikan dari orang lain, seseorang wajib memulainya dari dirinya sendiri. Tulisan ini akan menguraikan kebenaran prinsip tersebut berdasarkan dalil Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah ï·º, serta warisan ilmu dan nasihat para ulama salaf.
Bab 1: Dasar Ajaran dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an telah meletakkan aturan dasar yang sangat tegas tentang tanggung jawab pribadi dan prioritas perbaikan diri sebelum memperbaiki orang lain. Allah SWT menjadikan diri sendiri sebagai tanggung jawab utama setiap hamba.
1. Perintah Memulai dari Diri Sendiri
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menegaskan urutan: peliharalah dirimu dahulu, baru kemudian keluargamu dan orang di sekitarmu. Jika pondasi diri sendiri masih rapuh, bagaimana mungkin mampu menegakkan bangunan orang lain?
Dalam ayat lain, Allah menegaskan pertanggungjawaban masing-masing:
"Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya." (QS. Al-Muddatthir: 38)
Tidak ada seorang pun yang akan memikul dosa atau kesalahan orang lain di hadapan Allah. Kesibukan mengurusi kesalahan orang lain sering kali menjadi cara manusia untuk lari dari kenyataan bahwa dirinya masih banyak kekurangan.
2. Teguran Keras Bagi Yang Mengajak Kebaikan Tapi Melupakan Diri Sendiri
Salah satu ayat yang paling tajam dan menyentuh hati tentang topik ini terdapat dalam Surah Al-Baqarah:
"Mengapa kamu menyuruh orang lain berbuat kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Allah)? Maka apakah kamu tidak memahami?" (QS. Al-Baqarah: 44)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan: "Allah menegur orang-orang ahli kitab, dan juga umat ini, yang mengajarkan kebaikan kepada manusia namun melupakan dirinya sendiri, dan melalaikan amal dengan ilmunya. Ini adalah sifat orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah."
Ayat ini menjadi peringatan keras: Ilmu, nasihat, dan teguran yang disampaikan kepada orang lain tidak akan bermanfaat, bahkan menjadi dosa, jika yang menyampaikannya tidak mengamalkan terlebih dahulu.
3. Perbaikan Diri Adalah Kunci Segalanya
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra’d: 11)
Perubahan baik dalam masyarakat, lingkungan, atau umat tidak akan terjadi jika perubahan tidak dimulai dari hati dan amal setiap individu. Sibuk mengubah orang lain tanpa mengubah diri sendiri adalah usaha yang sia-sia dan tidak akan membuahkan hasil.
Bab 2: Penjelasan Berdasarkan Hadis Nabi ï·º
Rasulullah ï·º adalah sosok teladan yang sempurna. Beliau tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi juga menjadi perwujudan nyata dari wahyu tersebut. Beliau ï·º banyak bersabda mengingatkan umatnya agar tidak terjebak dalam kesibukan mengurusi orang lain hingga melalaikan diri sendiri.
1. Bahaya Menjadi Orang yang Berilmu Tapi Tidak Beramal
"Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, tetapi dirinya melupakan (tidak mengamalkan) kebaikan itu, adalah seperti lilin yang menerangi sekelilingnya, tetapi dirinya sendiri terbakar." (HR. Thabrani)
Hadis ini memberikan gambaran nyata. Orang yang sibuk mengurusi, mengkritik, atau mengajak orang lain, tapi dirinya penuh kekurangan, ibarat lilin: memberi cahaya pada orang lain agar terlihat jalan, tapi ia sendiri justru yang akan binasa dan terbakar dosa.
2. Nasihat Kepada Muadz bin Jabal
Suatu ketika Rasulullah ï·º berpesan kepada Muadz bin Jabal r.a.:
"Wahai Muadz, jadikanlah dirimu sebagai pengawas dirimu sendiri sebelum engkau diawasi. Dan jadikanlah dirimu penilai dirimu sendiri sebelum engkau dinilai. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya yang paling selamat di antara kamu adalah orang yang paling banyak mengoreksi dirinya sendiri, dan yang paling hina adalah orang yang membiarkan dirinya hancur (tidak diperbaiki)."
Beliau menegaskan bahwa keutamaan bukanlah pada seberapa tajam kita melihat kesalahan orang lain, melainkan seberapa jeli kita melihat kesalahan diri sendiri dan berusaha memperbaikinya.
3. Teguran Tentang Menggunakan Kata "Aku" dan "Kamu"
Dari Abdullah bin Umar r.a., Rasulullah ï·º bersabda:
"Seseorang di antara kalian boleh saja penuh celaan terhadap orang lain, berkata: 'Orang ini rusak akhlaknya, orang itu buruk perbuatannya', padahal dirinya sendiri mungkin yang paling buruk akhlak dan perbuatannya dibandingkan orang yang dicelanya itu." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Beliau mengingatkan, sering kali apa yang kita benci dan cela pada orang lain, justru ada lebih banyak di dalam diri kita, namun kita menutup mata dan pura-pura tidak tahu.
4. Urutan Menegur
"Apabila engkau melihat kekurangan pada saudaramu, maka tegurlah dirimu sendiri terlebih dahulu, karena sesungguhnya engkau lebih butuh ditegur daripada dia." (HR. Abu Nu’aim)
Ini adalah inti dari prinsip tulisan ini. Sebelum jari telunjuk mengarah ke orang lain, arahkanlah dulu jari itu ke dada sendiri.
Bab 3: Ucapan dan Nasihat Para Ulama Salaf
Para ulama terdahulu (salafus shalih) hidup dengan pemahaman yang sangat dalam tentang akhlak. Kata-kata mereka penuh kebijaksanaan dan menjadi pedoman bagi umat Islam sepanjang masa. Mereka sangat keras menegur orang yang sibuk dengan urusan orang lain namun lalai dengan dirinya.
1. Umar bin Khattab r.a.
Khalifah kedua ini dikenal sangat tegas dan berwibawa, namun hal yang pertama kali ia tegur adalah dirinya sendiri. Beliau berkata:
"Hitunglah dirimu sendiri sebelum kamu dihitung. Periksa dirimu sendiri sebelum kamu diperiksa. Dan bersiaplah untuk ujian besar di mana kamu akan diperlihatkan segala perbuatanmu, dan tidak ada satu hal pun yang tersembunyi."
Beliau juga berpesan:
"Janganlah kamu menjadi seperti orang yang membawa lentera yang menerangi orang lain, sementara dirinya sendiri gelap gulita."
Suatu kali ada orang yang menegur orang lain dengan keras, Umar berkata: "Coba lihatlah ke dalam bajumu sendiri, apakah sudah bersih dari noda? Jika belum, maka sibuklah membersihkan noda itu dulu sebelum menunjuk kotoran di baju orang lain."
2. Hasan Al-Basri
Ulama besar, guru para ulama, ini berkata:
"Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seperti gunung yang berat menimpanya, ia merasa takut tertimpa olehnya. Adapun orang fasik (yang buruk akhlaknya), ia melihat dosa orang lain seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya, ia mengibaskannya dengan tangannya (mudah sekali menganggap dosa orang lain remeh atau mudah dibuang), tetapi dosa sendiri ia abaikan."
"Ajaib benar manusia! Ia mencela kesalahan orang lain yang sedikit, padahal dosa dirinya jauh lebih banyak dan besar. Ia sibuk mencari aib orang lain, tapi lupa mengoreksi aib dirinya sendiri."
3. Imam Al-Ghazali
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, beliau menulis:
"Ciri orang yang beruntung adalah ia sibuk dengan dirinya sendiri, sehingga ia tidak punya waktu untuk mencela orang lain. Adapun orang yang celaka adalah orang yang lupa dengan dirinya sendiri, lalu sibuk mengurusi urusan orang lain yang tidak ada hubungannya dengannya."
"Ilmu yang paling bermanfaat bagimu adalah ilmu tentang kekurangan dirimu. Dan ilmu yang paling berbahaya bagimu adalah ilmu tentang kekurangan orang lain."
4. Ibnu Miskawaih
"Orang yang paling jauh dari kesempurnaan akhlak adalah orang yang melihat kekurangan kecil pada orang lain, namun menutup mata dari kekurangan besar yang ada pada dirinya. Ia seperti orang yang membawa cermin, tapi cermin itu hanya memantulkan wajah orang lain, bukan wajahnya sendiri."
5. Sufyan Ats-Tsauri
"Tidak ada satu pun amal yang lebih berat bagi manusia daripada dua hal: mengoreksi diri sendiri, dan berbicara tentang kebaikan. Sedangkan dua hal yang paling mudah bagi manusia: membicarakan keburukan orang lain, dan diam saja dari kebaikan."
Bab 4: Bahaya Sibuk Mengurusi Orang Lain Sebelum Memperbaiki Diri
Para ulama menjelaskan bahwa kebiasaan mencela, mengkritik, dan sibuk mengurusi orang lain padahal diri sendiri belum benar, mengandung bahaya besar:
1. Ditolak Amal dan Nasihatnya: Orang lain tidak akan mau mendengarkan kata-katanya, karena perbuatan bertentangan dengan ucapan. Kata-kata tidak akan masuk ke hati jika perilaku tidak mendukung.
2. Dosa Lebih Berat: Menyuruh kebaikan lalu melupakan diri sendiri menjadikan dosanya berlipat ganda: dosa karena tidak beramal, dan dosa karena mengajarkan sesuatu yang tidak ia lakukan.
3. Hati Menjadi Keras dan Sombong: Merasa diri lebih baik, lebih benar, dan lebih suci dibandingkan orang lain. Ini adalah awal kehancuran iman.
4. Melalaikan dari Tujuan Utama: Tujuan hidup adalah beribadah dan menyucikan diri. Sibuk dengan orang lain berarti membuang waktu dan umur yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki nasib sendiri di akhirat.
Bab 5: Batasan Mengingatkan dan Menasihati
Perlu diluruskan pemahaman: Pesan "Jangan sibuk ngurus orang" bukan berarti melarang amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran). Islam sangat mewajibkan saling mengingatkan.
Namun, ada syarat ketat menurut para ulama salaf:
"Lidahmu harus mendahului amalmu? Jangan. Amalmu harus mendahului lidahmu."
Artinya:
1. Jika kamu menyuruh orang shalat, maka pastikan kamu rajin shalat.
2. Jika kamu melarang orang berbuat maksiat, maka pastikan kamu menjauhi maksiat itu.
3. Jika kamu menasihati orang agar jujur, maka pastikan ucapannmu jujur.
Menegur orang lain itu boleh, bahkan wajib dalam batas tertentu, tapi posisikanlah dirimu lebih dahulu dalam barisan orang yang perlu ditegur dan diperbaiki. Jadikanlah teguranmu kepada orang lain sebagai pengingat untuk dirimu sendiri agar lebih rajin beramal.
Kesimpulan
Berdasarkan Al-Qur’an, Hadis Nabi ï·º, dan ucapan para ulama salaf, dapat disimpulkan bahwa prinsip "Jangan sibuk ngurus orang, perbaiki dulu dirimu" adalah pondasi utama pembangunan akhlak seorang muslim.
Manusia diciptakan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Mengoreksi kesalahan diri sendiri jauh lebih berat, jauh lebih penting, dan jauh lebih mulia dibandingkan mengoreksi kesalahan orang lain.
Kita diajarkan untuk:
1. Menjadikan diri sendiri musuh yang harus dikalahkan dengan perbaikan dan ibadah.
2. Melihat kesalahan diri sendiri lebih besar daripada kesalahan orang lain.
3. Mengambil waktu dan tenaga yang biasa digunakan untuk menggunjing atau mengkritik, lalu gunakan untuk membaca, berzikir, dan memperbaiki amal.
Seperti kata pepatah para salaf:
"Jika kamu ingin memperbaiki dunia, mulailah dari dirimu sendiri. Jika kamu ingin memperbaiki akhirat, mulailah dari dirimu sendiri. Karena sesungguhnya urusanmu yang paling utama adalah dirimu sendiri."
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk melihat kekurangan diri, memperbaikinya, dan menjadikan kita orang-orang yang bermanfaat ilmunya dan indah amalnya, tanpa terjebak dalam kesibukan mengurusi aib orang lain.

