Nduga, Detiksatu.com || Sekolah Kelompok Belajar TK An Kimin di Wamena hadir untuk membina anak-anak dan generasi muda Nduga yang terdampak konflik bersenjata sejak 2018. Lembaga pendidikan tersebut didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan anak-anak pengungsi yang kehilangan akses pendidikan akibat konflik.
Pendiri TK An Kimin, Intanus Gwijangge, mengatakan bahwa sejak gelombang pengungsian terjadi, banyak anak-anak usia sekolah dari Kabupaten Nduga tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak. Sebagian dari mereka bahkan hidup tanpa perhatian yang memadai sehingga berisiko kehilangan masa depan.
“Selama ini kami bergerak dalam bidang kemanusiaan, khususnya pendidikan, dengan mendirikan beberapa kelompok belajar di Wamena sejak tahun 2021,” kata Intanus Gwijangge saat dihubungi awak media pada 22 /6/2026.
Saat ini, Kelompok Belajar TK An Kimin terbagi di tiga lokasi pengungsian, yaitu:
1. Kelompok Belajar kampung Healekma Distrik Napua
2. Kelompok Belajar di kampung musaima Distrik Hubikiak Musaima;
3. Kelompok Belajar kampung Sekom Distrik Muliama.
Menurut Intanus, sejak awal pembentukan sekolah tersebut pihaknya telah mengusulkan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Nduga agar menyediakan gedung yang layak untuk menunjang proses belajar mengajar. Namun hingga saat ini harapan tersebut belum terealisasi.
“Sejak awal pembentukannya, kami pernah mengusulkan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Nduga agar menyediakan gedung yang layak untuk menunjang proses belajar mengajar. Namun hingga saat ini perhatian yang kami harapkan belum terwujud,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa TK An Kimin tidak hanya melayani pendidikan tingkat taman kanak-kanak, tetapi juga menampung anak-anak usia SD dan SMP yang putus sekolah akibat konflik. Mereka berasal dari berbagai wilayah terdampak konflik seperti Yigi, Mebarok, Mbuguma Yal, Paro, dan daerah lainnya di Kabupaten Nduga.
“Kami berusaha merangkul mereka agar tidak kehilangan masa depan,” katanya.
Pada tahun lalu, sekitar 13 siswa telah diserahkan kepada salah satu yayasan pendidikan di Wamena agar dapat melanjutkan pendidikan dengan lebih baik. Selain itu, beberapa siswa lainnya juga telah dititipkan ke sejumlah sekolah di Napua.
Saat ini, lebih dari 100 siswa sedang dibina oleh TK An Kimin. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 siswa telah terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kementerian Pendidikan. Kegiatan belajar mengajar didukung oleh lima orang guru yang bekerja secara sukarela tanpa menerima honor.
“Mereka bekerja sebagai relawan karena panggilan kemanusiaan demi masa depan generasi muda Nduga,” ujar Intanus.
Ia mengaku telah berulang kali menyampaikan kondisi tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Nduga melalui kepala dinas, termasuk kepala Dinas Pendidikan yang baru menjabat. Namun hingga kini perhatian yang serius belum dirasakan.
“Kami pernah menyampaikan informasi kepada Pemerintah Kabupaten Nduga melalui kepala dinas, termasuk kepala Dinas Pendidikan yang baru menjabat. Namun hingga kini perhatian yang serius belum kami rasakan,” katanya.
Intanus menjelaskan bahwa pendirian TK An Kimin berangkat dari pengalaman sejarah konflik di wilayah Geselema dikenal Mapnduma pada tahun 1996. Saat itu banyak anak-anak Nduga kehilangan kesempatan belajar karena harus mengikuti orang tua mengungsi, bahkan sebagian kehilangan orang tua akibat konflik.
“Banyak anak-anak Nduga saat itu mengorbankan masa depan mereka karena konflik. Mereka kehilangan kesempatan belajar. Hanya sebagian kecil yang mampu bertahan dan melanjutkan pendidikan hingga kini menjadi pemimpin di Kabupaten Nduga,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini Kabupaten Nduga telah memiliki pemerintahan sendiri, anggaran sendiri, serta perangkat daerah yang lengkap. Karena itu, pemerintah dinilai perlu memberikan perhatian yang lebih serius terhadap pendidikan generasi muda.
“Seharusnya kita mampu memberikan perhatian yang lebih serius terhadap pendidikan generasi muda, termasuk penyediaan asrama, fasilitas belajar, dan dukungan pendidikan lainnya,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa dirinya mendirikan TK An Kimin bukan karena status sebagai ASN atau guru, melainkan karena kepedulian agar anak-anak Nduga tidak mengulangi sejarah kehilangan masa depan akibat konflik.
Menurut Intanus, masih banyak anak-anak Nduga yang hidup di Wamena dalam kondisi memprihatinkan. Sebagian dari mereka sering disebut sebagai anak jalanan atau anak terlantar. Karena itu, persoalan pendidikan mereka perlu menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah, gereja, maupun masyarakat.
Lebih lanjut, Intanus mengatakan bahwa gerakan pendidikan rakyat yang dijalankan bersama rekan-rekannya merupakan bentuk dukungan kepada pemerintah dalam menyiapkan generasi masa depan.
“Kami membantu pemerintah kabupaten Nduga , pemerintah provinsi Papua Pegunungan, dan pemerintah pusat dalam menyiapkan generasi masa depan. Karena itu, kami berharap ada perhatian nyata dari pemerintah terhadap perjuangan yang selama ini kami lakukan,” ujarnya.
Mengakhiri pernyataannya, Intanus menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Rayori Biak yang memberikan bantuan berupa buku tulis dan pulpen bagi para siswa.
“Bantuan tersebut sangat berarti bagi kami. Namun kebutuhan kami masih cukup banyak, terutama buku, alat tulis, dan pakaian untuk anak-anak TK serta siswa-siswa yang kami bina,” tutupnya. (inggi Kogoya)

