Jakarta,detiksatu.com || Kezaliman yang berlangsung di depan mata setiap detik bukan sekadar akibat satu orang zalim, tetapi hasil dari sistem batil yang dijaga, ditaati, dan dibiarkan hidup. Ketika kebatilan terus berjalan tanpa perlawanan prinsip, maka diam bukan lagi sikap netral—ia telah berubah menjadi kontribusi nyata bagi kezaliman.
Fir‘aun bukan tokoh tunggal dalam sejarah. Ia adalah simbol kekuasaan yang menyingkirkan hukum Allah dan menggantinya dengan hukum buatan manusia. Namun Fir‘aun tidak akan pernah berkuasa tanpa tentara, aparat, dan rakyat yang memilih patuh meski tahu itu batil. Karena itulah Allah mengazab Fir‘aun dan tentaranya sekaligus.
𝗔𝘇𝗮𝗯 𝗱𝗶 𝗗𝘂𝗻𝗶𝗮: 𝗗𝗶𝘁𝗲𝗻𝗴𝗴𝗲𝗹𝗮𝗺𝗸𝗮𝗻
Fir‘aun membangkang, mengaku sebagai tuhan, menindas Bani Israil, dan mengejar Nabi Musa ‘alaihis salam. Maka Allah menghancurkannya bersama seluruh kekuatan militernya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman:
𝗠𝗮𝗸𝗮 𝗞𝗮𝗺𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗴𝗲𝗹𝗮𝗺𝗸𝗮𝗻 𝗙𝗶𝗿‘𝗮𝘂𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮𝗻𝘆𝗮, 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗺𝗶 𝗹𝗲𝗺𝗽𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗸𝗲 𝗹𝗮𝘂𝘁…”
(QS. Al-A‘raf: 136)
“𝗗𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗺𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗴𝗲𝗹𝗮𝗺𝗸𝗮𝗻 𝗙𝗶𝗿‘𝗮𝘂𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗮𝗻𝘆𝗮.”
(QS. Al-Isra’: 103)
Ini penegasan Ilahi: kekuatan bersenjata yang membela kezaliman tidak akan menyelamatkan, justru menjadi sebab kebinasaan.
𝗔𝘇𝗮𝗯 𝗱𝗶 𝗔𝗹𝗮𝗺 𝗞𝘂𝗯𝘂𝗿/ 𝗕𝗮𝗿𝘇𝗮𝗸𝗵
Azab Fir‘aun tidak berhenti di dunia. Setelah mati, mereka langsung diperlihatkan neraka pagi dan petang sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikut:
“Kepada neraka mereka diperlihatkan pada pagi dan petang…”
(QS. Al-Mu’min [Ghafir]: 46)
Ini adalah dalil yang jelas bahwa penguasa zalim dan para pendukungnya langsung diazab, bahkan sebelum hari Kiamat.
𝗔𝘇𝗮𝗯 𝗣𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗿𝗮𝘁 𝗱𝗶 𝗔𝗸𝗵𝗶𝗿𝗮𝘁
Pada hari Kiamat, azab mereka ditingkatkan ke tingkat paling keras.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman:
“…dan pada hari terjadinya Kiamat (dikatakan): 𝗠𝗮𝘀𝘂𝗸𝗸𝗮𝗻𝗹𝗮𝗵 𝗙𝗶𝗿‘𝗮𝘂𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗮𝘂𝗺𝗻𝘆𝗮 𝗸𝗲 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗮𝘇𝗮𝗯 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗿𝗮𝘀.”
(QS. Al-Mu’min [Ghafir]: 46)
Perhatikan kata “kaumnya”: azab ini kolektif, mencakup pemimpin, aparat, dan sistem yang mereka jaga (pendukungnya) .
𝗔𝗸𝗮𝗿 𝗞𝗲𝗯𝗮𝘁𝗶𝗹𝗮𝗻: 𝗗𝗲𝗺𝗼𝗸𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵
Fir‘aun binasa karena mengangkat dirinya sebagai pembuat hukum. Hari ini, kebatilan itu hadir dalam bentuk demokrasi, ketika kedaulatan hukum dipindahkan dari Allah kepada manusia, dan halal–haram ditentukan oleh suara terbanyak.
Padahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menegaskan:
“𝗠𝗲𝗻𝗲𝘁𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗵𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗶𝘁𝘂 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗵𝗮𝗸 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵.”
(QS. Yusuf: 40)
Dan Allah memberi peringatan keras:
“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗶𝘁𝘂𝗹𝗮𝗵 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗮𝗳𝗶𝗿/𝘇𝗮𝗹𝗶𝗺/𝗳𝗮𝘀𝗶𝗸.”
(QS. Al-Ma’idah: 𝟰𝟰/𝟰𝟱/𝟰𝟳)
Meninggalkan hukum Allah bukan kesalahan administratif, tetapi penyimpangan akidah hukum. Ketika hukum buatan manusia dijadikan rujukan tertinggi dan syariat disingkirkan atas nama stabilitas, konsensus, dan nasionalisme, maka Fir‘aun tidak mati ia hanya berganti wajah.
𝗧𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯 𝗧𝗡𝗜 𝗱𝗮𝗻 𝗥𝗮𝗸𝘆𝗮𝘁
Ketaatan tidak berlaku dalam kemaksiatan. Menjaga sistem batil bukan profesionalisme, tetapi keberpihakan ideologis.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗲𝘁𝗮𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗺𝗮𝗸𝗵𝗹𝘂𝗸 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗶𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗦𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗶𝗽𝘁𝗮.”
(HR. Ahmad)
Rakyat pun tidak bebas dari tanggung jawab. Membiarkan hukum Allah ditinggalkan, membenarkan kebatilan karena mayoritas, dan menertawakan kebenaran demi kenyamanan adalah jalan menuju kehancuran kolektif.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman:
“𝗗𝗮𝗻 𝗷𝗶𝗸𝗮 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗿𝘂𝘁𝗶 𝗸𝗲𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝗱𝗶 𝗺𝘂𝗸𝗮 𝗯𝘂𝗺𝗶 𝗶𝗻𝗶, 𝗻𝗶𝘀𝗰𝗮𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝘀𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻𝗺𝘂 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵.”
(QS. Al-An‘am: 116)
Renungan Penutup
Fir‘aun tenggelam karena menolak hukum Allah.
Tentaranya tenggelam karena menjaga sistem itu tetap berdiri.
Dan siapa pun hari ini aparat atau rakyat yang diam, patuh, dan membela hukum buatan manusia di atas hukum Allah, sedang berjalan di jejak yang sama.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman:
“𝗗𝗮𝗻 𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗰𝗼𝗻𝗱𝗼𝗻𝗴 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘇𝗮𝗹𝗶𝗺, 𝘀𝗲𝗵𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗱𝗶𝘀𝗲𝗻𝘁𝘂𝗵 𝗮𝗽𝗶 𝗻𝗲𝗿𝗮𝗸𝗮.”
(QS. Hud: 113)
Sejarah tidak netral. Hukum Allah tidak bisa ditawar.
𝙎𝙚𝙜𝙚𝙧𝙖 𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙎𝙮𝙖𝙧𝙞𝙖𝙩.
𝘼𝙩𝙖𝙪 𝙩𝙚𝙣𝙜𝙜𝙚𝙡𝙖𝙢 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙁𝙞𝙧‘𝙖𝙪𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙞𝙨𝙩𝙚𝙢𝙣𝙮𝙖.

