Jakarta,detiksatu.com || Ternak Aguan, adalah orang yang dipelihara oleh Aguan, baik dari kalangan pejabat, aparat, hingga aktivis, yang diberi makan (uang) oleh Aguan, lalu ditempatkan pada posisi (jabatan) tertentu, untuk melayani kepentingan bisnis (baca: kejahatan) Aguan.
Aktivis atau advokat yang diternak Aguan juga sama. Mereka diberi makan (uang), untuk membela kejahatan Aguan, baik dengan narasi opini juga narasi hukum.
Ibarat kambing, peternak kambing yang menggembala dan memberi makan (rumput) kambing. Kambing menjadi gemuk, tapi konsekuensinya setiap saat bisa dijual atau disembelih oleh sang peternak.
Begitu pula perjuangan dan aktivisme.
Setiap kalian, yang secara sadar menerima uang dan menjadi ternak pejabat atau oligarki, siap siap saja. Setiap saat kalian harus siap dikorbankan, siap ditumbalkan.
Kalian memang jadi gemuk. Sehat. Duit miliaran, kendaraan mewah. Tapi kalian hakekatnya makan dan minum darah penderitaan rakyat.
Yang menjadi ternak pejabat, hakekatnya kalian tidak makan duit pejabat. Tapi makan duit rakyat yang dikorupsi pejabat. Kalian hanya dapat receh, untuk melindungi kezaliman pejabat. Kalian yang jadi Kabinda, atau ternak pejabat manapun, tunggu saja giliran untuk disembelih.
Kalian bela kezaliman penguasa, atau setidaknya kalian diamkan karena kalian sudah diberi makan. Mulut kalian tidak kritis lagi, karena sudah disumpal uang.
Kalian yang makan duit Aguan, itu duit rakyat Banten. Duit rakyat yang tanahnya hanya dibayar 30 ribu, dari pasaran 500 ribu sampai 2 juta per meter. Kalian makan daging dan minum darah rakyat Banten dan semua yang dizalimi Aguan (Sugiyanto Kusuma).
Kalian sudah menjadi ternak Aguan. Kalian harus siap jadi tumbal Aguan, kapanpun. Tunggu saja gilirannya.
Kalian yang menjadi ternak dalam kasus ijazah palsu. Ingat! Kalian telah berkhianat pada rakyat. Kalian, setiap saat harus siap ditumbalkan oleh yang memelihara kalian.5 Kalian sudah menjadi sapi bajak, dan suatu saat akan menjadi sapi kurban.
Sementara yang teguh berjuang untuk rakyat. InsyaAllah, kebaikan dunia dan akhirat akan menaungi kita. Cukuplah Allah SWT sebagai penolong, penjamin rezeki. Bukan Aguan, bukan pejabat, bukan oligarki. [].

