Program yang diinisiasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung ini mempertemukan pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pemangku kepentingan dalam mengevaluasi layanan digital.
Ketua Tim Evaluasi Teknologi Informasi dan Komunikasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung Ganjar Setya Pribadi mengatakan, Badami menjadi ruang bagi masyarakat menyampaikan kritik, saran, dan masukan.
“Badami merupakan singkatan dari Bandung Diskusi dan Monitoring Inovasi. Semangatnya adalah menyediakan wadah bagi warga Kota Bandung untuk memberikan feedback, masukan, dan saran terhadap layanan digital."
"Seluruh masukan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk menghadirkan pelayanan publik yang semakin baik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” kata Ganjar.
Ganjar menjelaskan, Badami tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga wadah kolaborasi bersama berbagai perguruan tinggi, salah satunya Telkom University.
Diskominfo Kota Bandung sebelumnya menggelar roadshow ke sejumlah kampus untuk menghimpun aspirasi terkait peningkatan layanan publik.
Tahun ini, penjaringan aspirasi diperluas melalui podcast, talkshow, dan survei digital agar semakin banyak warga dapat berpartisipasi.
“Dulu kami lebih banyak melakukan pendekatan door to door ke kampus-kampus. Tahun ini kami kembali memanfaatkan podcast dan talkshow agar lebih banyak warga Bandung yang ikut terlibat."
"Selain itu, kami juga menghadirkan survei di berbagai layanan digital Kota Bandung yang dirancang lebih sederhana sehingga masyarakat lebih mudah memberikan penilaian dan masukan,” jelas Ganjar.
Ganjar mengatakan, Diskominfo mulai menerapkan sistem single question rating pada berbagai layanan digital Pemerintah Kota Bandung sepanjang 2026.
Masyarakat cukup memberikan penilaian sederhana layaknya memberi rating pada layanan transportasi daring.
Sistem tersebut difokuskan untuk mengidentifikasi kendala yang masih dirasakan masyarakat agar menjadi dasar perbaikan layanan.
“Tahun ini kami sudah membangun sistemnya. Nantinya sistem tersebut dipasang di berbagai layanan digital Kota Bandung dalam bentuk single question rating. Konsepnya sederhana seperti memberikan rating pada layanan ojek online."
"Yang ingin kami gali justru bukan layanan yang sudah bagus, tetapi bagian mana yang masih menjadi kendala bagi masyarakat. Dari situ kami bisa mengetahui apa yang perlu diperbaiki,” paparnya.
Ganjar menyebut, sistem tersebut akan diterapkan pada layanan administrasi kependudukan, perizinan, ketenagakerjaan, dan berbagai layanan publik lainnya.
Menurutnya, transformasi digital harus berangkat dari kebutuhan pengguna, bukan sekadar menghadirkan teknologi yang canggih.
“Kadang kita juga terbawa tren ingin membuat aplikasi yang canggih, tetapi pada akhirnya tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Karena itu pendekatan yang kami gunakan berangkat dari user journey atau pengalaman pengguna. Kami ingin mengetahui layanan digital seperti apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.
Ganjar menambahkan, pelayanan publik kini harus berorientasi pada masyarakat dengan proses yang mudah, transparan, dan proaktif.
“Hal yang paling penting bukan sekadar teknologinya canggih, tetapi apakah layanannya mudah digunakan, apakah prosesnya transparan, baik dari sisi waktu maupun biaya."
"Jadi masyarakat tidak perlu lagi berpikir harus membuka aplikasi apa atau datang ke dinas mana. Mindset yang kami bangun adalah bagaimana pelayanan pemerintah hadir secara proaktif kepada masyarakat,” tuturnya.
Ganjar mencontohkan, masukan melalui Badami mendorong perubahan layanan administrasi kependudukan yang kini terintegrasi dengan rumah sakit.
“Masukan dari masyarakat benar-benar kami tindak lanjuti. Salah satu contohnya pada layanan administrasi kependudukan yang kini telah terintegrasi dengan rumah sakit."
"Dengan begitu, masyarakat tidak lagi harus mendaftar melalui berbagai aplikasi untuk mengurus dokumen kependudukan."
"Begitu proses persalinan selesai di rumah sakit, akta kelahiran dan Kartu Keluarga dapat langsung diproses. Jadi mindset-nya bagaimana pelayanan pemerintah hadir secara proaktif kepada masyarakat. Ini menjadi bukti, aspirasi yang disampaikan melalui Badami mampu menghasilkan perubahan nyata dalam peningkatan layanan publik,” ucapnya.
Program Badami juga melibatkan mahasiswa magang untuk melakukan survei kepada pengguna layanan publik.
Mahasiswa Telkom University Myiesha Gilda A mengatakan, mayoritas pengguna Bandros yang diwawancarai merupakan wisatawan dari luar Kota Bandung.
“Ternyata sebagian besar memberikan tanggapan positif. Mereka juga mengapresiasi kemudahan pembayaran secara digital menggunakan QRIS, sehingga tidak harus membawa uang tunai."
"Selain itu, adanya pemandu wisata membuat perjalanan menjadi lebih informatif, terutama bagi wisatawan yang baru pertama kali datang ke Bandung,” ujar Myiesha.
Pemerintah Kota Bandung berharap Badami memperkuat budaya partisipasi masyarakat sehingga inovasi digital semakin bermanfaat bagi warga.(Muis)

