Muis: Tes The Water Dengan Diksi Londo Ireng Sebuah Strategi Dengan Dua Kata Yang Membela Lautan

Follow

Muis: Tes The Water Dengan Diksi Londo Ireng Sebuah Strategi Dengan Dua Kata Yang Membela Lautan

Redaksi
Kamis, 30 Juli 2026 | Kamis, Juli 30, 2026 WIB Last Updated 2026-07-30T04:26:42Z
Jakarta, detiksatu.com || Kadang sebuah perang tidak dimulai dengan dentuman meriam.Tidak juga dengan pengerahan pasukan.
Cukup dengan dua kata."Londo Ireng."

Dua kata yang diucapkan Presiden Prabowo itu ternyata mampu membelah lautan opini publik. Dalam hitungan jam, media sosial bergolak, ruang redaksi sibuk menyusun tajuk, pengamat berbaris memberi komentar, aktivis bereaksi, dan berbagai media membangun framing masing-masing.

Pertanyaannya, apakah itu sekadar pilihan diksi?

Ataukah sebenarnya kita sedang menyaksikan sebuah "test the water"—strategi klasik untuk membaca arah arus, memetakan posisi, dan melihat siapa yang bereaksi paling cepat?

Dalam dunia intelijen, diplomasi, hingga strategi militer, dikenal istilah test the water.

Sebelum mengambil langkah besar, seorang pemimpin sering kali tidak langsung mengeluarkan kebijakan. Ia lebih dulu melempar sebuah sinyal untuk membaca respons.

Bukan mencari jawaban.Tetapi memetakan reaksi Kalau air tenang, kapal bisa berlayar.
Kalau air bergelombang, berarti ada arus yang harus dipahami lebih dulu.

Saya melihat pidato Presiden Prabowo itu menarik jika dibaca dari perspektif tersebut.
Beliau tidak menyebut nama media.
Tidak menyebut organisasi Tidak menunjuk individu.

Beliau hanya mengatakan bahwa ada "Londo Ireng"—istilah yang dipahami sebagai pihak-pihak di dalam negeri yang bekerja atau berpihak pada kepentingan asing.

Sebuah kategori.Bukan daftar nama.

Yang kemudian mengejutkan justru bukan pidatonya melainkan reaksinya.

Dalam waktu singkat, bermunculan berbagai klarifikasi, bantahan, kemarahan, hingga tudingan balik kepada Presiden.

Padahal tidak ada satu nama pun yang disebut.

Di sinilah saya teringat pada satu prinsip yang sering dikaitkan dengan Sun Tzu.

"Kalau ingin mengetahui posisi lawan, jangan selalu mengejarnya. Kadang cukup lempar sebuah umpan, lalu lihat siapa yang bergerak."

Ikan tidak tertangkap karena dipaksa memakan kail.

Ia tertangkap karena memilih menyambar umpannya sendiri.

Selama hampir dua tahun terakhir, kita juga menyaksikan hampir semua program strategis pemerintahan Prabowo menghadapi gelombang kritik yang sangat keras.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal diperdebatkan. Ketika terjadi kasus keracunan makanan di beberapa lokasi, peristiwa itu menjadi sorotan besar dan tentu harus dievaluasi secara serius. Namun pada saat yang sama, muncul pertanyaan lain: apakah kelemahan pelaksanaan di beberapa titik otomatis menjadi alasan untuk menolak keseluruhan gagasan?

Program Koperasi Merah Putih, swasembada pangan, hingga Sekolah Rakyat pun menghadapi dinamika kritik yang tidak kalah tajam.

Di sisi lain, berbagai persoalan besar yang menyangkut kebocoran kekayaan negara, praktik rente, atau dugaan kerugian negara dalam jumlah sangat besar sering kali tidak memperoleh intensitas perhatian yang sebanding.

Pertanyaan yang kemudian muncul sederhana.Mengapa fokus narasi publik sering bergerak ke sana, dan bukan ke sini?
Lalu Presiden melempar dua kata itu.

"Londo Ireng."
Dan tiba-tiba ruang publik bergerak.
Sebagian media membangun framing bahwa Presiden seolah menyerang profesi wartawan secara keseluruhan.

Padahal jika membaca pidato secara utuh, yang disampaikan adalah adanya oknum atau pihak-pihak tertentu yang menurut Presiden bekerja untuk kepentingan asing.

Apakah itu sekadar salah memahami konteks pidato?

Ataukah memang sebuah pilihan framing?

Biarlah publik yang menilai.Karena dalam ilmu komunikasi politik, sering kali cara membingkai sebuah pesan lebih menentukan daripada isi pesannya sendiri.

Bagi saya, yang paling menarik bukan istilah "Londo Ireng" itu sendiri.

Yang menarik adalah reaksi setelah istilah itu dilemparkan.Dalam ilmu analisis jaringan, reaksi adalah data.

Siapa yang memilih diam.Siapa yang langsung menyerang.Siapa yang membela.
Siapa yang membangun kontra-narasi.
Semuanya membentuk peta yang dapat dibaca.

Bukan untuk menghakimi:
Tetapi untuk memahami bagaimana sebuah ekosistem bekerja.

Tentu semua ini tidak boleh berhenti pada dugaan atau pelabelan.

Kalau memang ada jaringan pendanaan asing yang digunakan untuk memengaruhi arah opini publik, ekonomi, atau politik Indonesia, maka negara memiliki instrumen hukum untuk membuktikannya.

Audit.

Transparansi.Penyelidikan.

Dan bila ada pelanggaran, proses hukum harus berjalan.Negara hukum tidak dibangun oleh kerasnya pidato.

Negara hukum dibangun oleh kuatnya pembuktian.

Bagi saya, dua kata "Londo Ireng" mungkin akan dikenang bukan karena kontroversinya.

Melainkan karena kemampuannya mengungkap sesuatu yang sebelumnya tersembunyi.

Kadang, untuk mengetahui siapa yang berada di balik ombak, kita tidak perlu menguras lautan.

Cukup lempar satu batu.Lalu perhatikan ke mana gelombang bergerak.Mungkin itulah yang sedang kita saksikan hari ini.

Dua kata.Satu umpan.Dan sebuah lautan opini yang tiba-tiba terbelah.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Muis: Tes The Water Dengan Diksi Londo Ireng Sebuah Strategi Dengan Dua Kata Yang Membela Lautan

Trending Now

Iklan