Rumah Jane NTT Bahas Kesehatan Mental sebagai Investasi Jangka Panjang

Follow

Rumah Jane NTT Bahas Kesehatan Mental sebagai Investasi Jangka Panjang

Minggu, 12 Juli 2026 | Minggu, Juli 12, 2026 WIB Last Updated 2026-07-12T07:20:01Z


Kupang, detiksatu.com || Sekolah Politik Rumah Jane NTT kembali menggelar diskusi publik dengan mengangkat tema "Kesehatan Mental adalah Produktivitas: Investasi Jangka Panjang untuk Individu dan Organisasi" di Sekretariat Rumah Jane, Kelurahan Liliba, Kota Kupang, Sabtu, 11 Juli 2026 malam.

Diskusi yang dimoderatori Margaretha Lusiana Ray tersebut menghadirkan dosen Psikologi Universitas Nusa Cendana (Undana), MKP. Abdi Keraf, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber utama. Dalam kesempatan itu, Abdi menegaskan bahwa isu kesehatan mental masih belum menjadi perhatian utama dalam kebijakan publik, termasuk kebijakan politik di Indonesia.

"Saya berpikir bahwa kita belum menjadikan isu kesehatan mental ini menjadi isu utama. Sehingga kebijakan-kebijakan politik kita belum sampai menyentuh akses terhadap layanan kesehatan mental," tegas Abdi Keraf.

Ia mengatakan, pemerintah daerah maupun pemerintah pusat perlu mulai mempersiapkan tenaga-tenaga garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat, seperti guru, kader Posyandu, kader PKK, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, agar memiliki pemahaman dasar mengenai kesehatan mental.

"Pemerintah tidak harus memiliki psikolog dalam jumlah banyak di setiap daerah, tetapi paling tidak harus ada edukasi yang berjenjang sehingga ketika muncul persoalan kesehatan mental di masyarakat dapat ditangani sejak dini," ujarnya.

Abdi menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan investasi jangka panjang karena berpengaruh langsung terhadap kualitas hidup, produktivitas individu, keluarga, maupun organisasi. Namun, kata dia, pembahasan mengenai kesehatan mental saat ini sudah terlambat karena banyak korban yang telah berjatuhan.

"Dalam pengalaman saya, hampir setiap minggu ada tiga sampai lima orang yang datang untuk konseling, berbagi cerita, dan mencari pertolongan. Fenomena ini seperti gunung es. Yang terlihat hanya sebagian kecil, sementara persoalan yang sebenarnya jauh lebih besar," ujar Keraf.

Ia mengatakan masyarakat masih memandang gangguan mental sebagai aib keluarga atau bahkan dianggap sebagai hukuman, sehingga banyak penyintas enggan mencari bantuan profesional.

"Stigma dan diskriminasi membuat banyak orang takut bercerita. Mereka takut dihakimi, takut menjadi bahan pembicaraan, bahkan takut dipermalukan di media sosial. Akibatnya mereka memilih memendam masalahnya sendiri," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Abdi Keraf memperkenalkan istilah sederhana "SPPG", yakni Stres, Pusing, Panik, dan Gelisah sebagai tanda awal seseorang mengalami tekanan psikologis. Kondisi tersebut, menurutnya, harus segera direspons dengan "MBG", yaitu *Mencari Bantuan, Bercerita kepada orang yang tepat, dan Giat melakukan aktivitas positif.

Ia menegaskan bahwa perilaku merupakan indikator paling mudah untuk mengenali kondisi psikologis seseorang. "Perilaku adalah bahasa jiwa yang tampak. Ketika seseorang mulai menarik diri, kehilangan semangat, atau menunjukkan perubahan perilaku yang drastis, itu harus menjadi perhatian orang-orang di sekitarnya," katanya.

Ia juga menyoroti masih terbatasnya akses layanan kesehatan mental, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, belum semua kabupaten, apalagi desa, memiliki layanan maupun tenaga profesional yang memadai.

Oleh karena itu, ia mendorong adanya pelatihan kesehatan mental bagi kader Posyandu, kader PKK, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat agar mereka mampu memberikan pertolongan pertama secara psikologis kepada masyarakat yang membutuhkan.

Selain faktor layanan, Abdi menyebutkan bahwa keluarga memiliki peran paling penting dalam menjaga kesehatan mental anggotanya. Rumah, katanya, harus menjadi ruang yang aman bagi setiap anggota keluarga untuk bercerita tanpa takut dihakimi.

"Kalau tidak pulang ke rumah, seseorang harus pergi ke mana? Rumah harus menjadi tempat paling nyaman untuk pulang dan berbagi persoalan hidup," ujarnya.

Psikolog itu juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital membawa tantangan baru terhadap kesehatan mental. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan nomophobia, yakni rasa cemas ketika jauh dari telepon genggam, mulai banyak dialami masyarakat dan memengaruhi perilaku sehari-hari.

Mengutip data yang pernah dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, Abdi menyebut angka kasus bunuh diri di NTT terus menjadi perhatian. Ia mengatakan data periode 2018 hingga 2025 menunjukkan terdapat lebih dari 260 kasus yang tersebar di sejumlah daerah seperti Bajawa, Manggarai, dan Sumba.


"Mereka tidak mau mengakhiri hidup. Mereka hanya ingin mengakhiri masalah. Sayangnya mereka tidak mendapat dukungan sosial, tidak tahu harus ke mana, malu untuk bercerita, dan akhirnya tidak mencari pertolongan," jelasnya.

Abdi mengajak generasi muda menjadikan kesehatan mental sebagai investasi masa depan, bukan hanya demi diri sendiri, tetapi juga demi keluarga dan generasi berikutnya.

"Kesehatan mental yang baik akan membentuk cara berpikir positif, kemampuan mengelola emosi, membangun relasi sosial yang sehat, serta meningkatkan produktivitas. Karena itu generasi muda harus mulai mempersiapkan diri sejak sekarang," katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara "ilmu kampus" dan "ilmu kampung". Sebab, ilmu kampus membentuk kompetensi akademik, sedangkan ilmu kampung membentuk etika, karakter, kemampuan beradaptasi, dan menghargai sesama.

"Keduanya harus berjalan seimbang. Kalau hanya pintar secara akademik tetapi tidak memiliki etika dan kepedulian sosial, seseorang tidak akan menjadi pribadi yang utuh," ujarnya.

Di akhir pemaparannya, Abdi mengajak peserta Sekolah Politik Rumah Jane NTT untuk terus mengembangkan diri melalui ruang-ruang diskusi, memperluas wawasan, serta menjadikan kesehatan mental sebagai bagian penting dalam membangun kualitas kepemimpinan dan kehidupan bermasyarakat.

Sementara itu, Sekolah Politik Rumah Jane NTT merupakan ruang pembelajaran yang secara rutin menghadirkan diskusi publik mengenai isu-isu sosial, politik, demokrasi, kepemimpinan, serta pengembangan kapasitas generasi muda di Nusa Tenggara Timur.

Reporter: Emanuel Boli
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Rumah Jane NTT Bahas Kesehatan Mental sebagai Investasi Jangka Panjang

Trending Now

Iklan