Pasaman Barat,detiksatu.com || Tahapan Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) Serentak 2026 di Nagari Ranah Malintang, Kecamatan Sungai Aur, memasuki tahapan pengambilan nomor urut calon, Kamis (27/8/2026).
Dalam Pilwana tersebut, dua calon akan bersaing untuk mendapatkan amanah masyarakat. Ahdia Pajrin, S.Pd.I., M.Ag., mendapatkan nomor urut 1 dalam tahapan pengambilan nomor urut tersebut.
Usai pengambilan nomor urut, Ahdia saat dihubungi media menyampaikan bahwa menjadi wali nagari bukan sekadar persoalan jabatan. Menurutnya, seorang pemimpin membutuhkan gagasan, pengalaman dan keteladanan agar pemerintahan yang dijalankan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Memimpin itu bukan hanya soal jabatan. Ada amanah dan tanggung jawab besar kepada masyarakat. Karena itu, pemimpin harus punya gagasan, pengalaman dan keteladanan,” ujar Ahdia.»
Ahdia menyebut dirinya membawa pengalaman di bidang pendidikan, birokrasi, organisasi dan dunia kerja. Menurutnya, pengalaman tersebut turut membentuk kemampuan komunikasi, kepemimpinan serta pemahaman terhadap tata kelola pemerintahan dan kebutuhan masyarakat.
Selain itu, latar belakang pendidikan S.Pd.I., M.Ag., serta pengalaman menempuh pendidikan pesantren di Mustafawiyah Purba Baru menjadi bagian dari perjalanan dirinya dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Ahdia juga menyampaikan bahwa dirinya aktif dalam kegiatan dakwah dan berbaur dengan masyarakat.
Bagi Ahdia, pendidikan dan pengalaman bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi harus dikembalikan dalam bentuk gagasan dan manfaat bagi masyarakat.
«“Ilmu dan pengalaman yang kita miliki seharusnya kembali kepada masyarakat. Apa yang kita pelajari harus bisa memberikan manfaat, sebagai bentuk implementasi dan pengamalan ilmu yang diperoleh,” katanya.»
Ahdia menilai pembangunan Nagari Ranah Malintang ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Menurutnya, pemberdayaan masyarakat, penguatan generasi muda, peningkatan sumber daya manusia (SDM), kehidupan sosial dan keagamaan, serta pemanfaatan sumber daya alam (SDA) juga perlu menjadi perhatian.
Ia berharap gagasan yang dimiliki tidak berhenti sebagai wacana, tetapi dapat dirumuskan menjadi langkah nyata dengan melibatkan masyarakat, termasuk generasi muda.
«“Saya ingin apa yang menjadi gagasan tidak berhenti sebagai pembicaraan. Harus ada proses untuk mewujudkannya, tentu dengan melibatkan masyarakat, bahkan anak muda,” ujarnya.»
Dalam kontestasi yang diikuti dua calon, Ahdia mengajak masyarakat menjadikan Pilwana sebagai ruang untuk menilai visi, gagasan, pengalaman dan kesiapan masing-masing calon.
Ia juga mengingatkan agar perbedaan pilihan tidak mengganggu persatuan dan silaturahmi masyarakat Nagari Ranah Malintang.
«“Pilwana adalah proses memilih pemimpin. Setelah prosesnya selesai, kita tetap satu masyarakat Ranah Malintang. Jangan sampai perbedaan pilihan merusak silaturahmi,” katanya.»
Dengan bekal pengalaman di bidang pendidikan, birokrasi, organisasi dan dunia kerja, serta latar belakang pendidikan pesantren, aktivitas dakwah dan kemasyarakatan, Ahdia menyatakan siap mengikuti seluruh tahapan Pilwana dan menawarkan gagasan pembangunan Ranah Malintang kepada masyarakat.
«“Ranah Malintang membutuhkan pemimpin yang mau mendengar, punya visi dan siap bekerja bersama. Itu yang ingin saya bawa,” tutup Ahdia Pajrin.»
(Riski Habibi)