CIANJUR,DETIKSATU.COM || Tim gabungan masih menemukan titik asap dan bara di kawasan Kawah Wadon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (15/8/2026).
Bara ditemukan berada di sekitar akar pohon cantigi dan material di dalam tanah. Meski tidak terlihat sebagai api terbuka, kondisi tersebut masih menjadi perhatian karena berpotensi memunculkan kembali titik api.
Balai Besar TNGGP menambah 26 personel pada Jumat (14/8/2026) untuk memperkuat penanganan. Mereka berasal dari Balai Besar TNGGP, Manggala Agni, Brimob, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan relawan.
Penambahan personel dilakukan untuk memperkuat penyisiran, pemantauan, serta penanganan titik asap dan bara yang masih ditemukan di kawasan terdampak.
Dalam penyisiran di bagian atas tebing Kawah Wadon, tim pertama menemukan tiga titik asap. Setelah dilakukan pemeriksaan, asap diketahui berasal dari akar pohon cantigi yang masih menyimpan bara di dalam tanah.
Petugas tidak menemukan kobaran api terbuka di lokasi tersebut. Namun, titik asap langsung ditangani untuk mencegah bara berkembang dan memicu kebakaran kembali.
Sementara itu, tim kedua melakukan penyisiran di lokasi berbeda dan menemukan tujuh titik asap. Seluruh titik tersebut kemudian mendapat penanganan.
Penyisiran dan pemantauan berlangsung hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Setelah kegiatan lapangan selesai, personel kembali ke Pos Kandang Badak untuk beristirahat sebelum melanjutkan pemantauan dan penanganan berikutnya.
Penanganan kebakaran di Kawah Wadon menghadapi tantangan berupa kondisi medan. Lokasi terdampak berada pada ketinggian sekitar 2.500-2.600 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan topografi curam hingga sangat curam.
Petugas harus menempuh jalur pendakian menuju Shelter Kandang Badak sejauh sekitar 7 kilometer. Dari shelter, perjalanan masih dilanjutkan melalui jalur darurat sekitar 1,5 kilometer menuju area terdampak.
Kondisi tersebut membuat mobilisasi personel dan peralatan membutuhkan waktu serta dilakukan secara bertahap.
Tantangan lainnya adalah ketersediaan sumber air. Sumber air terdekat yang dapat digunakan untuk kebutuhan penanganan berada di sekitar Shelter Kandang Badak, sekitar 1,5 kilometer dari lokasi terdampak.
Dengan kondisi tersebut, setiap kegiatan penyisiran dan penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi medan serta keselamatan personel.
Selain penyisiran langsung, Balai Besar TNGGP melakukan pemantauan udara menggunakan drone thermal bersama Wanadri dan Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI).
Pemantauan dilakukan dalam dua penerbangan, masing-masing sekitar pukul 08.00 WIB dan 14.00 WIB.
Dari pemantauan tersebut, masih terdeteksi sejumlah indikasi titik panas di sekitar kawasan terdampak. Data hasil pemantauan kemudian ditinjau langsung oleh Direktur Kawasan Konservasi, Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si.
Data drone thermal selanjutnya dipadukan dengan hasil pemeriksaan langsung tim di lapangan. Informasi tersebut digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menentukan strategi penanganan berikutnya.
Pemanfaatan drone thermal dilakukan untuk membantu mengidentifikasi titik panas, terutama pada bagian kawasan yang sulit dijangkau secara langsung karena kondisi medan yang curam.
Balai Besar TNGGP menyatakan pemantauan dan penyisiran akan terus dilakukan sesuai perkembangan kondisi di lapangan. Fokus penanganan diarahkan pada pendeteksian dan penanganan titik asap maupun bara yang masih ditemukan.
Penanganan kebakaran juga mendapat dukungan dari berbagai unsur, mulai dari warga, relawan, komunitas, organisasi, petugas lintas instansi, TNI, Polri, RSUD Cimacan, pemerintah daerah, hingga pemerintah desa.
Dukungan tersebut meliputi personel, sarana komunikasi, pemantauan kawasan, serta kebutuhan logistik selama proses penanganan kebakaran berlangsung.(Bet)