Mahasiswa KKN Sulap Daun Kelor Jadi Serbuk Nutrisi, Upaya Cegah Stunting di Desa Pokaan

PIMPINAN DAN ANGGOTA BESERTA SEKRETARIAT DPRD KABUPATEN TANGERANG Mengucapkan: DIRGAHAYU REPUBLIK I

Mahasiswa KKN Sulap Daun Kelor Jadi Serbuk Nutrisi, Upaya Cegah Stunting di Desa Pokaan

Agustus 15, 2026 | Agustus 15, 2026 WIB Last Updated 2026-08-15T11:23:43Z
Situbondo,detiksatu.com || Persoalan stunting atau tengkes masih menjadi salah satu tantangan serius dalam pemenuhan gizi anak, termasuk di wilayah pedesaan. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk mengambil peran melalui kegiatan edukasi dan pencegahan stunting di Desa Pokaan, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo.

Kegiatan tersebut mengangkat pendekatan promotif dan preventif dengan memanfaatkan potensi pangan lokal yang mudah ditemukan masyarakat. Salah satu bahan yang diperkenalkan adalah tanaman kelor atau Moringa oleifera, yang selama ini tumbuh cukup mudah di lingkungan masyarakat.

Program sosialisasi ini menyasar ibu balita, ibu menyusui serta kader kesehatan desa. Mereka diberikan pemahaman mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi, khususnya pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Masa 1.000 HPK dinilai menjadi periode penting dalam tumbuh kembang anak. Periode tersebut dimulai sejak masa kehamilan, dilanjutkan dengan masa menyusui hingga anak memasuki usia balita.

Mahasiswa KKN menilai pemenuhan gizi tidak cukup hanya mengandalkan makanan yang mahal. Bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar juga dapat dimanfaatkan secara kreatif untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga.

Salah satu persoalan yang kerap dihadapi ibu balita adalah kesulitan memberikan sayuran kepada anak secara rutin. Tidak sedikit anak yang menolak sayuran karena rasa, aroma maupun bentuknya yang dianggap kurang menarik.

Kondisi tersebut berpotensi membuat asupan serat dan zat gizi mikro anak menjadi kurang optimal apabila tidak disiasati dengan cara yang tepat. Karena itu, diperlukan inovasi pengolahan pangan agar bahan bergizi dapat dikonsumsi anak dengan cara yang lebih praktis.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN memperkenalkan pengolahan daun kelor menjadi serbuk. Daun kelor yang telah dipilih dan dibersihkan kemudian dikeringkan dengan cara yang tepat sebelum dihaluskan hingga menjadi bubuk.

Serbuk kelor tersebut kemudian diperkenalkan sebagai salah satu alternatif bahan tambahan makanan. Bubuk dapat dicampurkan ke dalam makanan yang biasa dikonsumsi anak, seperti bubur, sup maupun olahan makanan lainnya.

Menurut tim KKN, bentuk serbuk membuat pemanfaatan kelor menjadi lebih fleksibel. Masyarakat tidak harus selalu menggunakan daun kelor dalam kondisi segar setiap kali hendak mengolahnya.

Selain praktis, serbuk kelor juga memiliki daya simpan yang lebih panjang apabila ditempatkan dalam wadah yang bersih, kering dan kedap udara. Dengan demikian, masyarakat dapat menyimpan hasil olahan tersebut untuk digunakan secara bertahap.

Kinasih Dita, salah satu mahasiswi yang terlibat dalam kegiatan tersebut, mengatakan bahwa pemanfaatan kelor dipilih karena bahan tersebut relatif mudah ditemukan dan dapat diolah secara sederhana oleh masyarakat.

“Harapan kami, ibu-ibu tidak hanya memahami apa itu stunting, tetapi juga memiliki cara sederhana untuk ikut mencegahnya. Kelor yang ada di sekitar kita bisa dimanfaatkan menjadi bahan pangan yang lebih praktis,” ujar Kinasih Dita.

Ia menambahkan, edukasi mengenai gizi harus disampaikan dengan pendekatan yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, masyarakat perlu diberikan contoh nyata agar pengetahuan yang diperoleh dari sosialisasi dapat diterapkan di rumah.

“Yang paling penting bukan hanya sosialisasinya, tetapi bagaimana setelah kegiatan ini masyarakat bisa mempraktikkannya sendiri. Kami ingin inovasi sederhana ini bisa terus dilakukan meskipun kegiatan KKN sudah selesai,” katanya.

Dalam praktiknya, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya menjaga kebersihan selama proses pengolahan. Mulai dari pemilihan daun, proses pencucian, pengeringan, penghalusan hingga penyimpanan harus dilakukan secara higienis.

Mahasiswa KKN juga memberikan pemahaman bahwa serbuk kelor bukan pengganti makanan utama maupun pengganti layanan kesehatan. Pemanfaatannya perlu ditempatkan sebagai bagian dari pola makan beragam dan bergizi seimbang.

Bagi ibu menyusui, mahasiswa turut menjelaskan pentingnya memenuhi kebutuhan nutrisi selama masa menyusui. Kelor dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari makanan sehari-hari, sementara pemenuhan gizi tetap harus berasal dari pola makan yang beragam.

Antusiasme terlihat dari keterlibatan para ibu balita dan kader kesehatan ketika mengikuti praktik pembuatan serbuk kelor. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga melihat secara langsung tahapan pengolahan bahan pangan lokal tersebut.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap Desa Pokaan dapat semakin memperkuat upaya pencegahan stunting berbasis potensi lokal. Edukasi, kreativitas dalam mengolah pangan serta keterlibatan keluarga diharapkan menjadi bagian penting dalam menciptakan generasi Situbondo yang sehat, tumbuh optimal dan memiliki masa depan yang lebih baik. (Agus)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mahasiswa KKN Sulap Daun Kelor Jadi Serbuk Nutrisi, Upaya Cegah Stunting di Desa Pokaan

Trending Now