Bersih Desa dan HUT ke-43 Purwosari Digelar Sederhana, Warga Tetap Jaga Tradisi

Bersih Desa dan HUT ke-43 Purwosari Digelar Sederhana, Warga Tetap Jaga Tradisi

Agustus 30, 2026 | Agustus 30, 2026 WIB Last Updated 2026-08-30T03:03:22Z

LUWU TIMUR,DETIKSATU.COM || Perayaan Bersih Desa sekaligus Hari Ulang Tahun ke-43 Desa Purwosari, Kecamatan Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur, berlangsung sederhana pada Sabtu, 29 Agustus 2026 di Balai Desa Purwosari.Keterbatasan anggaran desa membuat perayaan tahun ini tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.

Namun, kesederhanaan itu tidak menghilangkan makna tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Purwosari.
Camat Tomoni Timur Yulius hadir dalam kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi pemerintah desa dan warga yang tetap mempertahankan tradisi Bersih Desa sekaligus memperingati hari jadi desa, meski dengan keterbatasan anggaran.

Kepala Desa Purwosari Lagiyo mengatakan perayaan tahun ini memang dilaksanakan secara sederhana. Kondisi keuangan desa menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan bentuk kegiatan.
“Peringatan Bersih Desa dan HUT tahun ini berlangsung cukup sederhana karena keterbatasan anggaran desa. Namun, hal itu tidak mengurangi makna dari ucapan syukur warga desa,” kata Lagiyo.

Bagi masyarakat Purwosari, Bersih Desa bukan sekadar rangkaian kegiatan tahunan. Tradisi tersebut menjadi momentum untuk menghubungkan perjalanan desa pada masa lalu dengan kehidupan masyarakat hari ini.

Bersih Desa merupakan ungkapan syukur atas hasil bumi, kesehatan, kesejahteraan dan berbagai berkah yang diterima masyarakat selama setahun. Dalam tradisi itu, warga juga memanjatkan doa agar desa dan seluruh masyarakatnya senantiasa mendapat keselamatan serta dijauhkan dari berbagai malapetaka.

Peringatan HUT ke-43 Desa Purwosari memberi makna tambahan. Usia 43 tahun menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengingat perjalanan desa, termasuk jasa para pendahulu dan cikal bakal yang membuka wilayah tersebut.

“Bersih Desa ini bukan hanya soal acara atau kemeriahan. Ada rasa syukur di dalamnya, ada doa untuk keselamatan, ada penghormatan kepada para leluhur dan pendiri desa, serta ada semangat untuk menjaga kebersamaan,” ujar Yulius.

Menurut dia, tradisi tersebut juga memiliki fungsi sosial. Warga yang datang dan berkumpul dalam satu momentum memperkuat hubungan antarmasyarakat. Gotong royong dan kerukunan yang menjadi bagian dari Bersih Desa perlu terus dipertahankan.
“Semangat kebersamaan inilah yang harus terus dijaga. HUT desa menjadi momentum untuk melihat apa yang sudah dicapai, sementara Bersih Desa mengingatkan kita untuk tetap bersyukur dan menjaga hubungan baik sesama warga,” katanya.

Camat mengatakan keterbatasan anggaran tidak seharusnya membuat masyarakat kehilangan kesempatan untuk merawat tradisi. Justru dalam kondisi seperti itu, nilai utama sebuah perayaan dapat terlihat, bukan pada seberapa besar biaya yang dikeluarkan, melainkan pada seberapa kuat masyarakat menjaga makna di baliknya.

Bersih Desa dan HUT ke-43 Purwosari akhirnya berlangsung tanpa kemeriahan berlebihan. Warga tetap berkumpul, mengenang perjalanan desa, mengucap syukur dan memanjatkan doa.

Sederhana dalam pelaksanaan, tetapi tetap penting sebagai pengingat bahwa sebuah desa bukan hanya wilayah administratif. Ia juga merupakan kumpulan sejarah, tradisi, ingatan dan kebersamaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (yl)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bersih Desa dan HUT ke-43 Purwosari Digelar Sederhana, Warga Tetap Jaga Tradisi

Trending Now