Homecare Jember Tak Sekadar Obati Pasien, Gus Fawait Bidik Putus Mata Rantai Kemiskinan

Homecare Jember Tak Sekadar Obati Pasien, Gus Fawait Bidik Putus Mata Rantai Kemiskinan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | Sabtu, Agustus 01, 2026 WIB Last Updated 2026-08-01T15:06:14Z
JEMBER – detiksatu.com // Program Homecare yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Jember bukan hanya menghadirkan layanan kesehatan hingga ke rumah warga. Lebih dari itu, program yang digagas Bupati Jember Gus Fawait tersebut diposisikan sebagai strategi menekan angka kemiskinan yang selama ini dipicu tingginya beban biaya akibat penyakit.

Menurut Gus Fawait, persoalan kesehatan dan kemiskinan merupakan dua hal yang saling berkaitan. 

Banyak keluarga miskin bukan hanya kesulitan membayar pengobatan, tetapi juga kehilangan sumber penghasilan ketika kepala keluarga jatuh sakit.

"Kami ingin negara hadir lebih dekat. Jangan lagi masyarakat miskin dipaksa datang mencari layanan kesehatan, tetapi pemerintah yang mendatangi mereka," ujarnya.

Berangkat dari pengalaman hidupnya sebagai anak desa, Gus Fawait mengaku memahami betul kondisi warga yang enggan berobat bukan karena tidak membutuhkan layanan, melainkan karena terkendala biaya transportasi dan kehilangan pendapatan selama menjalani pengobatan.

Kondisi itu, kata dia, menjadi dasar lahirnya Homecare. Program tersebut mengubah pola pelayanan kesehatan dari pasif menjadi aktif dengan mendatangi rumah-rumah warga yang membutuhkan.

Dalam pelaksanaannya, tenaga kesehatan akan melakukan pemeriksaan langsung di rumah pasien. Jika ditemukan kasus yang membutuhkan penanganan lanjutan, petugas tidak serta-merta merujuk pasien ke rumah sakit.

Sebaliknya, mereka memanfaatkan layanan telemedicine yang menghubungkan pasien dengan dokter spesialis maupun subspesialis di RSD dr. Soebandi, RSUD Kalisat, dan RSUD Balung melalui sambungan video.

Setelah dokter memberikan diagnosis, obat-obatan dikirim langsung ke rumah pasien sehingga masyarakat tidak perlu bolak-balik ke fasilitas kesehatan.

Untuk menopang layanan tersebut, Pemkab Jember mengerahkan lebih dari 1.200 tenaga kesehatan, termasuk sekitar 160 dokter umum, dokter spesialis, hingga subspesialis. Seluruh personel dijadwalkan tanpa mengganggu pelayanan rutin di puskesmas maupun rumah sakit.

Pemkab juga memilih mengoptimalkan kendaraan dinas milik organisasi perangkat daerah (OPD) sebagai armada Homecare sehingga tidak perlu mengeluarkan anggaran besar untuk membeli kendaraan baru.

Gus Fawait memastikan seluruh warga sasaran tetap memperoleh layanan meski belum seluruhnya tercakup BPJS Kesehatan. Saat ini tingkat Universal Health Coverage (UHC) di Jember telah mencapai sekitar 80 persen.

Yang membedakan Homecare dengan layanan kesehatan pada umumnya adalah pendekatan yang digunakan. Saat mengunjungi rumah pasien, tim medis tidak hanya memeriksa kondisi kesehatan, tetapi juga menilai kondisi sosial ekonomi keluarga.

Pemeriksaan dilakukan bersama Dinas Sosial untuk melihat ketahanan pangan, kondisi tempat tinggal, hingga kebutuhan bantuan sosial. Apabila ditemukan keluarga yang kehilangan mata pencaharian akibat sakit berkepanjangan, pemerintah akan menyalurkan bantuan sesuai kebutuhan.

Program tersebut memprioritaskan lima kelompok utama, yakni lansia sebatang kara, anak berisiko stunting, ibu hamil berisiko tinggi, penyandang disabilitas, serta warga miskin ekstrem.

Sementara masyarakat di luar kelompok prioritas tetap dapat mengakses layanan melalui Hotline Wadul Gus yang disosialisasikan melalui berbagai media.
Bagi Pemkab Jember, Homecare bukan sekadar layanan kesehatan keliling. 

Program ini diharapkan menjadi instrumen untuk menjaga produktivitas keluarga miskin, mencegah beban ekonomi akibat penyakit, sekaligus memperkuat upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Jember.

(Wiwik)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Homecare Jember Tak Sekadar Obati Pasien, Gus Fawait Bidik Putus Mata Rantai Kemiskinan

Trending Now