CIANJUR,DETIKSATU.COM || Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Gede, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dilaporkan telah terkendali. Tim gabungan masih melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Ketua Organisasi Sukarelawan Montana, Achmad Zaini Takbir alias Kang Kawat, mengatakan kobaran api utama telah berhasil dilokalisasi. Pernyataan itu disampaikannya di Posko Montana, Cibodas, Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Rabu, 12 Agustus 2026.
Menurut Kawat, kebakaran pertama terdeteksi di kawasan Alun-Alun Surya Kencana pada 7 Agustus 2026. Api di lokasi tersebut dapat ditangani dalam waktu kurang dari satu hari setelah masyarakat, pedagang, pendaki, dan relawan melakukan penanganan awal.
Penanganan kemudian berlanjut setelah muncul laporan kebakaran di kawasan Kawah Wadon. Tim gabungan dari masyarakat sekitar Gunung Putri dan Cibodas, komunitas relawan, TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, Manggala Agni, serta unsur terkait lainnya dikerahkan secara bertahap.
Kawat mengatakan proses pemadaman di Kawah Wadon menghadapi kendala medan yang berat, salah satunya keterbatasan akses terhadap sumber air.
“Api berhasil kita lokalisir dengan membuat parit penyekat atau sekat bakar,” kata Kawat.
Menurut dia, penanganan berlangsung sekitar tiga hari. Meski kobaran utama telah terkendali, kepulan asap dan bara masih terlihat di sejumlah bagian permukaan kawasan terdampak.
Relawan bersama petugas terus melakukan pemantauan untuk mencegah bara berkembang menjadi titik api baru. Kondisi angin dan karakteristik vegetasi di kawasan terbakar menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan dalam proses pengawasan.
Keterbatasan sumber air membuat distribusi air ke lokasi kebakaran dilakukan secara manual. Air diangkut menggunakan galon dan wadah penampung dari sumber air di sekitar Kandang Badak menuju lokasi kebakaran yang berjarak sekitar 1,2 hingga 1,3 kilometer.
Kebutuhan logistik selama operasi dipenuhi melalui perbekalan relawan, dukungan dari pos di bawah, serta bantuan dari pengelola kawasan Taman Nasional.
Selain perkembangan penanganan kebakaran, Montana memberikan klarifikasi mengenai luasan area yang terdampak kebakaran di Kawah Wadon.
Sebelumnya, muncul informasi yang menyebut luas kawasan terbakar mencapai sekitar 20 hektare. Namun, berdasarkan penghitungan manual relawan yang dikombinasikan dengan citra satelit dan peta topografi, luasan area terbakar diperkirakan berada pada kisaran 4 hingga 5,6 hektare.
“Berdasarkan kalkulasi manual relawan di lapangan yang dikombinasikan dengan citra satelit serta peta topografi, luas area yang terbakar di Kawah Wadon berkisar antara 4 hingga 5,6 hektare,” ujar Kawat.
Angka tersebut merupakan hasil pemetaan dan penghitungan dari unsur relawan. Karena itu, angka tersebut belum dapat diposisikan sebagai luasan resmi sebelum dilakukan pengukuran dan verifikasi oleh pemerintah atau pengelola kawasan.
Klarifikasi mengenai luasan tersebut diperlukan agar informasi mengenai dampak kebakaran tidak berkembang berdasarkan angka yang belum terverifikasi secara resmi.
Sementara itu, penyebab kebakaran di kawasan Kawah Wadon belum diketahui. Pihak berwenang masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui sumber munculnya titik api.
Tim gabungan bersama petugas Taman Nasional masih disiagakan di kawasan atas untuk melakukan pemantauan dan memastikan seluruh bara benar-benar padam.
Dengan terkendalinya kobaran utama, penanganan kebakaran kini memasuki tahap pemantauan pascapemadaman. Pengawasan dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali api dari bara yang masih tersisa, terutama ketika kondisi angin dan vegetasi memungkinkan api kembali menjalar.(Bet)