Wamena,detiksatu.com || Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Pusat, Agus Kossay, memberikan klarifikasi terkait informasi yang menyebut seorang warga negara Rusia terlibat sebagai wartawan asing dalam peliputan aksi 15 Agustus 2026 di Kantor DPR Provinsi Papua Pegunungan.
Kossay menegaskan, warga negara Rusia tersebut merupakan turis yang sedang melakukan perjalanan wisata di Papua, bukan wartawan asing, serta tidak memiliki hubungan maupun kerja sama dengan KNPB.
Klarifikasi itu disampaikan Kossay pada Jumat (28/8/2026), menyusul beredarnya foto dan video serta berbagai informasi di media sosial yang mengaitkan turis tersebut dengan KNPB.
Menurut Kossay, warga negara Rusia itu datang ke Wamena untuk berwisata, antara lain mengunjungi Walesi dan sejumlah wilayah lainnya. Saat berada di Wamena, yang bersangkutan secara kebetulan berada di lokasi aksi yang digelar KNPB Wilayah Baliem, Baliem Barat, Ndugama, Mamberamo Tengah, dan Tolikara.
“Yang bersangkutan kebetulan ada di Wamena dan terlibat dalam aksi tanggal 15 Agustus 2026. Ia meliput kegiatan aksi yang dimediasi oleh KNPB wilayah Baliem, Baliem Barat, Ndugama, Mamberamo Tengah, dan Tolikara yang dipusatkan di Wamena,” ujar Kossay.
Ia menjelaskan, KNPB telah melakukan konsolidasi selama sepekan sebelum pelaksanaan aksi. Sehari sebelum aksi, yakni 14 Agustus 2026, KNPB juga disebut bertemu dengan pihak Kepolisian Resor Jayawijaya untuk membahas pengamanan kegiatan.
Dalam pertemuan tersebut, kata Kossay, KNPB memberikan jaminan bahwa aksi akan berlangsung secara aman dan damai.
Ia juga mengatakan KNPB tidak membatasi masyarakat maupun media, termasuk warga negara asing, untuk melakukan dokumentasi dan peliputan kegiatan.
“Semua pihak, semua media, semua orang, termasuk orang Papua, non-Papua, dan orang asing yang ada di Wamena, silakan meliput dan mengambil gambar kami. KNPB tidak akan mengganggu,” katanya.
Kossay menuturkan, turis tersebut kemudian bertemu dengan massa aksi di sekitar Pasar Sinakma. Ia disebut bergabung dengan massa dan mengajukan sejumlah pertanyaan terkait aksi.
Sejumlah peserta aksi yang dapat berbahasa Inggris kemudian memberikan penjelasan mengenai tuntutan yang disampaikan dalam aksi, termasuk mengenai penolakan terhadap Perjanjian New York 1962.
Setelah memperoleh penjelasan tersebut, menurut Kossay, turis asal Rusia itu tertarik mengetahui lebih jauh mengenai kegiatan tersebut. Ia kemudian mengikuti perjalanan massa hingga ke Kantor DPR Provinsi Papua Pegunungan sambil melakukan dokumentasi.
“Sesampainya di Kantor DPR Provinsi Papua Pegunungan, yang bersangkutan berada di paling depan dan melakukan peliputan seluruh proses kegiatan secara terbuka. Hal itu disaksikan semua pihak, baik lembaga DPR, organisasi Cipayung, massa aksi maupun aparat keamanan,” ujar Kossay.
Foto dan video yang memperlihatkan keberadaan turis tersebut kemudian diambil oleh sejumlah orang dan diunggah ke berbagai platform media sosial. Unggahan tersebut selanjutnya beredar luas dan memunculkan berbagai asumsi mengenai keterlibatannya.
Kossay kembali menegaskan bahwa KNPB tidak mengetahui secara pasti asal kedatangan maupun komunikasi turis tersebut dengan pihak lain.
“Kami tidak tahu dia datang dari mana dan punya komunikasi dengan siapa. Lebih khusus, secara organisasi KNPB tidak punya komunikasi sama sekali dengan yang bersangkutan,” katanya.
Ia juga membantah informasi mengenai dugaan kerja sama maupun keberadaan dokumen rahasia antara KNPB dengan turis tersebut.
Menurut Kossay, aktivitas dokumentasi dan publikasi yang dilakukan warga negara Rusia itu merupakan aktivitas pribadi yang bersangkutan dan tidak berkaitan dengan organisasi KNPB.
Kossay berharap pemerintah Indonesia tetap memberikan perlakuan yang baik terhadap turis tersebut selama berada di Indonesia serta tidak mempersulit keberadaannya tanpa dasar yang jelas.
“Jakarta tidak perlu mempersulit posisi dia dan kembalikan kepada negara asal agar itu menjadi kesan baik bagi Jakarta. Saya berharap negara menunjukkan etiket baik terhadap turis asing yang datang ke Papua,” ujar Kossay.
Reporter: Inggi Kogoya