Tragedi MBG di Papua, Ratusan Siswa Keracunan

Tragedi MBG di Papua, Ratusan Siswa Keracunan

Redaksi
Agustus 08, 2026 | Agustus 08, 2026 WIB Last Updated 2026-08-08T17:09:53Z
Papua,detiksatu.com ||  Ratusan pelajar di Kabupaten Jayapura, Papua, dilarikan ke berbagai fasilitas kesehatan sejak Selasa (04/08) hingga Rabu (05/08) kemarin. Sebelum keracunan massal terjadi, mereka menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur milik yayasan pimpinan Ketua DPC Partai Gerindra Jayapura, Edison Awoitauw.


Dominggas, warga Distrik Depapre, menceritakan pengalaman pahit cucunya yang masih PAUD. Hari itu, mobil pengantar MBG baru tiba setelah jam belajar-mengajar berakhir, sehingga anak-anak kembali ke sekolah untuk mengambil piring.

Anak-anak sudah pulang, MBG baru masuk. Anak-anak bawa piring, datang lagi ke sekolah,” kata Dominggas, saat ditemui di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari.

Malam harinya, cucu Dominggas mulai sakit dengan kepala pusing dan berat. Meski Dominggas mencoba mengobati sendiri dengan air kelapa dan pepaya di rumah, kondisi cucunya tidak kunjung sembuh.



Esok harinya, Dominggas membawa cucunya ke RSUD Yowari. Anak tersebut menolak infus dan menyatakan trauma memakan paket MBG itu.

“’Nenek, saya tidak mau makan MBG lagi’,” ujar Dominggas menirukan ucapan cucunya.

Cucu Dominggas adalah satu dari ratusan pelajar di Depapre yang keracunan. Sejak Selasa tengah malam, ambulans hilir mudik membawa para pelajar ke Sentani, distrik di pusat Jayapura.


Dominggas sendiri mengaku selama ini melarang cucunya mengonsumsi MBG dan hanya membawa pulang makanan yang masih layak konsumsi.


“Ada singkong yang sudah mau busuk. Saya tahu cara masak, jadi yang saya punya masih lebih bagus. Ini seperti kasih makan binatang dalam kandang,” kata Dominggas.

Dominggas berkata, cucunya akhirnya memang enggan menyantap MBG. “Kami berdua kasih makan itu untuk kami punya anjing di rumah,” ujarnya

‘Warna tempenya beda’

Sophia, guru sekolah dasar di Kampung Amai, Depapre, juga tampak lemas usai menyantap paket MBG. Sekolahnya menerima paket berupa nasi, tempe, dan sayur, namun ada yang janggal.


“Warna tempenya berbeda dengan yang sebelumnya. Itu yang mungkin bikin kami seperti begini,” kata Sophia.

Sophia dan murid-muridnya mengalami pusing dan sakit perut usai makan. Awalnya Sophia menganggap kondisi itu biasa, namun akhirnya memutuskan memeriksakan diri ke RSUD Yowari.


Pelajar di SMP Dormena, Depapre, juga merasakan perut “berputar-putar, mual, dan tak bisa buang air besar

Helmina, ibunya, bilang kondisi itu memburuk Rabu pagi. Helmina membawa anaknya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Pelanggaran Prosedur Dapur SPPG

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyebut keracunan massal ini terjadi akibat pelanggaran prosedur pengelola dapur. Catatan dapur menunjukkan pengelola mulai memasak terlalu cepat.

“Mereka memulai masaknya kecepatan. Jam 19.00 atau 19.30 hari sebelumnya, untuk diberikan pada hari berikutnya jam 11.00,” kata Sudaryono di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (05/08).

Polres Jayapura telah memeriksa 30 orang yang mengoperasikan dapur SPPG milik Yayasan Kasih Iman Samuel Papua.

Yayasan Kasih Iman Samuel Papua, yang dipimpin Edison Awoitauw, telah meminta maaf atas musibah ini. Yayasan ini baru saja pertama kali menyalurkan menu MBG di Jayapura pada 14 April 2025.Pendidikan

Bupati Jayapura, Yunus Wonda, menjenguk para korban dan meminta pelaksana program MBG melakukan evaluasi besar-besaran.

“Ini harus menjadi evaluasi terbesar untuk pengelola MBG sendiri…tidak sekedar uang yang dikejar, tapi keamanan, kebersihan itu harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.


“Uang itu kita bisa dapat di mana saja, tapi bagaimana keselamatan anak-anak ini?” kata Yunus.Zat racun & Beracun


Yayasan Kasih Iman Samuel Papua menyatakan menanggung biaya pengobatan seluruh siswa yang sakit. Yansen Marudut, advokat yang mewakili yayasan, bilang pihak yayasan akan mengikuti investigasi kepolisian dan BGN.

“Kami pasti menyiapkan dua sampel setiap hari, sesuai standarisasi BGN, untuk pembuktian ketika terjadi persoalan,” kata Yansen.


Sejak Januari 2025 hingga April 2026 setidaknya 33.626 pelajar di berbagai daerah telah mengalami keracunan MBG, menurut Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tragedi MBG di Papua, Ratusan Siswa Keracunan

Trending Now